![]() |
| Marthen Dira Tome bersama warga Desa Depe, Sabu Barat |
Waktu menunjukkan pukul 15:30 ketika Seputar NTT bersama Bupati Sabu
Raijua, Marthen Dira Tome menuju Desa Depe di Kacamatan Sabu Barat. Mobil Hilux
yang kami tumpangi tidak bisa menembus dusun II di desa tersebut. Kami harus
berjalan kaki kurang lebih 700 meter, melewati kali dengan kondisi jalan
menanjak. Di sebuah rumah milik Ridolof Kore Djara sudah ada beberapa warga
yang berkumpul disana menanti kehadiran bupati.
Dihalaman
depan rumah, sudah ada sebuah tikar yang terbuat dari daun lontar digelar.
Bupati kemudian disambut oleh Ridolof sebagai tuan rumah diringi warga dengan
salam cium Sabu. Tidak ada satupun kursi dihalaman rumah tersebut untuk duduk,
kecuali sebuah tikar yang digelar diatas tanah. Usai bersalaman, tanpa sungkan
Bupati Marthen Dira Tome langsung duduk diikuti warga. Mereka duduk dalam satu
tikar seperti hendak menyelesaikan persoalan sebagimana tradisi orang Sabu.
Sambil
menunggu warga yang lain datang, Bupati disuguhi dengan sirih pinang dan
disambut dengan senang oleh sang Bupati. Seperti tidak ada sekat diantara
mereka, padahal kampong ini dikenal sebagai kampong merah yang merupakan lawan
radikal saat Pilkada Sabu Raijua pada 2010 silam. Mungkin mereka sadar benar
bahwa etika sudah duduk dalam sebuah tikar maka tidak ada lagi persoalan masa
lalu yang harus diingat. Semuanya seperti telah berlalu seiring mentari diufuk
barat yang sebentar lagi terbenam.
Saat itu
Marthen Dira Tome didampingi oleh Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Sabu Raijua,
Lay Rohi, Kepala Dinas Capilduk, dan bebarapa Staf seperti Yakobus Ratoe
Oedjoe, Romy Manoe dan beberapa staf dari Dinas Perhubungan Sabu Raijua.
Selesai mengunyah sirih pinang, Bupati Sabu Raijua menyampaikan tujuan
kedatangannya yakni ingin melihat lokasi pembangunan embung di dusun tersebut.
Selain itu Bupati kemudian menyampikan berbagai hal tentang pembangunan di
Kabupaten Sabu Raijua, selama mereka memimpin.
Bupati juga
meminta semua warga untuk mendukung semua program yang semntara dilaksanakan
oleh pemerintah sehingga pembangunan yang dilakukan bisa berjalan dengan baik.
“Untuk memastikan lokasi pembangunan embung yang akan dibangun sehingga saya
harus datang kesini. Setelah saya melihat kondisi yang ada diwilayah ini maka
keberadaan embung ini nanti akan sangat bermanfaat. Saya minta supaya semua
bisa memanfaatkan embung tersebut jika sudah selesai dibangun,” pinta Marthen
Dira Tome.
Selain
itu Bupati juga berjanji akan membantu masyarakat di Desa Depe dengan PLTS
karena jauh dari jaringan listrik dan rumah yang saling berjauhan. Dia mau
supaya semua anak-anak bisa belajar diwaktu malam dengan penerangan yang cukup.
“Selain itu kita akan bantu dengan pipa air supaya masyarakat dapat
memanfaatkan mata air yang ada di atas perkampungan ini. Saya minta supaya
Dinas PU bisa menindaklanjutinya supaya warga disini bisa menikmati listrik
maupun air bersih,” kata Bupati kepada Kepala Dinas PU, Lay Rohi.
Setelah
buptai menyampikan arahan singkatnya kepada masyarakat, warga kemudian diberi
kesempatan untuk menyampikan apa keluhan mereka. Dihadapan Bupati, dengan
menggunakan bahasa sabu, warga menyampaikan berbagai ususlan tanpa rasa takut
atau sungkan. Mulai dari persoalan air bersih, listrik, hingga bantuan
peralatan pertaninan. Bupati pun menjawab semua keluhan yang disampikan seraya
berjanji akan memenuhi beberapa permintaan warga.
Usai
berdialog, Bupati mrathen Dira Tome meminta warga untuk menunjukkan lokasi yang
nanti akan dibangun embung. Jarak lokasinya sekitar 600 meter dari tempat
nereka berdialog. Diiringi warga bupati menuju lokasi, melalui kebun dan
pematang sawah warga. Semua berjalan dengan wajah girang mengiringi sang
bupati. Sambil bercanda dan bergurau, seperti hendak menggambarkan betapa
dekatnya bupati dengan rakyat.
Sepulang
dari melihat lokasi embung, Ridolof Kore Djara sebagai tuan rumah kemudian
berdiri untuk menyampikan ungkapan terimakasih karena Bupati Sabu Raijua, sudi
berkunjung ke rumahnya. Dia lalu menyampaikan secara terus terang jika pada
Pilkada kali lalu dia adalah lawan politik yang sangat radikal. “Saya tidak
pernah menduga bahwa pak bupati akan sampai di pelataran rumah saya yang
sederhana ini. Saya meinta kepada semua saudara ditempat ini agar bisa dengan
jujur melihat pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah saat ini,” ungkapnya.
Dia
kemudian berkata bahwa dulu dia tidak yakin dengan pasangan orang muda yang
hendak memimpin Sabu. Namun apa yang diduganya ternyata berbanding terbalik.
“Dulu kami disini berpikir bahwa tidak ada kehidupan dari pasangan Mandiri,
tapi ternyata mereka datang untuk membri kehidupan bagi kami rakyat Sabu
Raijua. Jika air mata saya mengalir, itu sebagai bukti bahwa saya sangat
tersentuh dengan apa yang dilakukan oleh pemerintah saat ini. Terimakasih bapak
Bupati” ujar Ridolf sambil terisak menahan tangisnya.
Tangisan
Ridolof seperti puncak dari semua curahan hati warga setempat, mereka juga ikut
terharu dengan kata-kata yang disamapikan Ridolof. Tidak ada yang bergeming,
semuanya diam membisu sambil menyimak kata-kata yang disampikan si tuan rumah.
“Jika dulu kami telah salah menilai dan memilih, maka saat ini mata kami sudah
terbuka dan kami tidak mau lagi menyesal di kemudian hari. Bapak Bupati dan Pak
Wakil bupati adalah utusan Tuhan untuk mengurus kita rakyat Sabu Raijua,”
ungkap Ridolf dengan suara yang bergetar.
Mendengar
isi hati warga yang diwakili Ridolof, Bupati Sabu Raijua meminta semua
masyarakat untuk tidak lagi mengingat masa lalu. Dia mengajak semua masyarakat
untuk bekerja keras dan menatap masa depan yang cerah. “Mari kita melupakan
masa lalu dan memulia langkah baru menuju masa depan. Saat ini mari kita bicara
tentang mimpi dan masa depan Kabupaten Sabu Raijua,”pungkas Marthen. (joey rihi
ga)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar