![]() |
| Add captionMarthen Dira Tome bersama salah satu warga |
“Ratu Kolo Moto Ti Kebolo Hawu
Miha”. Tulisan ini terpampang dipanggung kehormatan tempat berlangsungnya
pesta suka cita pasangan Marthen Dira – Nikodemus Rihi Heke atau Paket Mandiri,
usai dilantik Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, 24 Januari 2011. Kata Ratu Kolo Moto Ti Kebolo Hawu Miha tidak
bisa disandang oleh semua orang di Sabu Raijua. Hanya mereka yang dianggap
sebagai yang layak dan utama serta menjadi pemimpin yang pantas menyandang
penghargaan tersebut.
Kini hampir
selesai sudah tugas Marthen Dira Tome dan Nikodemus Rihi Heke berbhakti di Sabu
Raijua sebagai Bupati dan Wakil Bupati sesuai mandate rakyat dalam Pilkada.
Saat ini, Gong Pilkada Sabu Raijua sudang berbunyi untuk mencari putra/putri terbaik
di bumi titipan hawu miha untuk menyandang gelar “Ratu kolo moto, ti kebolo
hawu miha”. Pada tahun 2010 silam ada 14 orang putra/putri terbaik yang
bersaing untuk menjadi bupati dan wakil bupati. Marthen Dira Tome – Nikodemus
Rihi Heke menjadi Ratu Kolo moto sesuai amanat Rakyat.
Pada Pilkada
tahun 2015, Marthen Dira Tome – Nikodemus Rihi Heke kembali bertarung. Keduanya
tak mau berpisah dan tetap satu dalam peharu yang mereka sebut Paket Mandiri.
Mereka juga tidak lagi menggunakan pintu partai seperti pada Pilkada lalu yang
menunggunakan partai Golkar sebagai kendaraan politik menuju Pilkada. Paket
Mandiri hendak memberikan kesempatan kepada Masyarakat Kabupaten Sabu Raijua
untuk memilih sendiri calon pempimpinnya tanpa intervensi dari partai politik.
Jika memang masyarakt masih menghendaki pasangan ini untuk tetap menjadi Ratu
Kolo Moto, maka mereka pasti akan memberi dukungan kepada Marthen Dira Tome dan
Nikodemus Rihi Heke.
Hal ini sudah
terbukti setelah Paket Mandiri Jilid 2 mengatarkan dokumen dukungan untuk
perseorangan ke KPUD Sabu Raijua pada 13 Juni 2015. Jumlah dukungan minimal
bagi calon perseorangan terpenuhi sehingga KPUD masuk dalam tahap verifikasi
faktual. Ini menjadi indikator bahwa Paket Mandiri masih dikehendaki oleh
masyarakat di Kabupaten Sabu Raijua untuk menjadi Ratu Kolo Moto. Tinggal kita
menunggu pada tanggal 9 Desember nanti siapa yang akan mendapatkan legitimasi
oleh rakyat lewat hajatan Pilkada sebagai Bupati dan Wakil Bupati terpilih
sekaligus menyandar predikat Ratu Kolo Moto ti Kebolo Hawu Hiha.
Lantas apa
yang menjadi landasan pemikiran sehingga Marthen Dira Tome dan Nikodemus Rihi
Heke masih mau berbhakti bagi masyarakat di pulau sejuta lontar ini. Kepada
Seputar NTT, Matade, demikian Marthen Dira Tome akrab disapa mengungkapkan
bahwa waktu lima tahun baginya bersama wakil bupati tidak cukup untuk membawa
Sabu Raijua menjadi Kabupaten yang Inovatif, maju dan bermartabat. Berbagai
hambatan dan kesulitan membuat mimpi paket Mandiri tidak tuntas dalam membawa
masyarakat kearah yang lebih baik sesuai visi dan misi mereka.
“Waktu lima
tahun itu terlampau singkat untuk kami merealisasikan visi dan misi yang ada.
Itulah kenapa kami menyampaikan kepada masyarakat secara jujur apa yang sudah
kami capai selama kami bekerja sekaligus memberitahukan keinginan kami untuk
melanjutkan pekerjaan yang ada jika masyarakat masih berkenan. Kenapa kami
memilih jalur independen, itu adalah untuk mengukur apakah masyarakat masih
menginginkan kami atau tidak dan keinginan kami telah bersambut sehingga
dukungan masyarakat lewat KTP sebagaimana syarat untuk pasangan perseorangan,
telah kami berikan ke KPUD sesuai tahapan Pilkada,” ujar Matade.
Setiap misi
dan program kerja kata Marthen Dira Tome telah dilakukan, walaupun ada
kekurangan-kekurangan dan perlu perbaikan kedepan. Namun yang penting katanya,
bahwa dirinya bersama wakil bupati telah menyampikan kepada masyarakat secara
jujur apa kendala-kendala yang terjadi sehingga sebuah program berjalan tidak
sesuai harapan. Dia juga tidak menampik bahwa dalam melaksanakan berbagai
program, selalu mendapatkan tantangan dilapangan. Tidak hanya itu tantangan itu
datang juga dari DPRD sebagai mitra kerja dalam membangunan Kabupaten Sabu
Raijua.
“Bagi Kami
bahwa ketika ada program yang tidak berjalan maksimal dan perlu dibenahi itu sesuatu
yang wajar dalam membangun sebuah daerah. Yang menjadi dosa adalah ketika kita
tidak mampu menjelaskan secara jujur kepada masyarakat kenapa sebuah program
tidak berhasil. Dan itu sudah kami sampaikan kepada masyarakat secara jujur dan
mereka menerimanya. Salah satu indikatornya adalah mereka masih begitu bersemangat
memberikan dukungan lewat KTP untuk kami maju lagi dan itu sebuah amanah yang
harus kami pikul jika Tuhan berehendak dan masyarakat masih mendukung kami
dalam Pilkada nanti,” ungkapnya.
Marthen Dira
Tme mengungkapkan bahwa bukan kuasa atau jabatan yang hendak dipertahankan,
sehingga dirinya maju lagi dalam Pilkada. Selain program yang masih perlu
dilanjutkan, namun ada mimpi besar yang hendak dilakukannya di Sabu Raijua.
Mimpi besar yang membuat lawan mencibir bahan mencemooh. Salah satu mimpi
besarnya adalah bagimana memeprtahankan Pohon Lontar sebagai bagian yang tak
terpisahkan dari kehidupan orang Sabu Raijua.
Dengan
perkembangan dunia yang semakin modern dan Pendidikan yang sudah merasuk masuk
hingga pelosok membuat Dira Tome berpikir bahwa suatu kali kelak tidak ada lagi
generasi yang akan menyadap nira lontar. Tidak ada orang yang susah-susah
kuliah menjadi serang serjana lalu akhirnya harus kembali menjadi penyadap
lontar. Untuk itu dia telah bekerjasama dengan Universitas Gajah Mada (UGM) dan
Universitas Nusa Cendana (Undana) bagimana membuat pohon lontar hibrida. Pohon
lntar yang tingginya hanya satu meter tapi sudah memiliki mayang sehingga bisa
disadap.
“Kita sudah
bekerjasama dengan UGM dan Undana untuk melakukan rakayasa genitika bagaimana
membuat pohon lntar itu pendek saja dan tidak hanya kaum laki-laki saja yang
nanti bisa sadap nira tapi juga bisa dilakukan oleh kaum perempuan. Itu adalah
mimpi dan cita-cita besar kita kedepan,” ungkap Dira Tome.
Kenapa Dia
begitu getol, karena dari pohon lontar menghasilkan berbagai produk seperti
Cuka konsumsi, Minuman segar (Legen), Minuman beralkohol, Gula cair dalam
kemasan, Gula lempeng, Gula semut, dodol, jus, kerupuk, Alkohol teknis (alkohol
rumah sakit) Bio Fuel (Bio diesel & bio ethanol), anyaman lontar dan alat
musik maupun untuk Bahan Bangunan.
Harapannya agar pohon lontar tetap menjadi bagian dalam budaya orang Sabu
Raijua akan terpelihara selain berbagai manfaat yang bisa didapatkan dari pohon
lontar.
Ada juga
mimpinya yang lain jika nanti terpilih kembali mempimpin Sabu Raijua yakni
membangun pabrik minuman keras dengan bahan baku nira atau tuak. Dia memiliki
impian bahwa Sabu Raijua tidak boleh hanya dikenal dengan daerahnya yang tandus
tapi suatu saat akan dikenal dengan berbagi produknya dari berbagai pabrik yang
dibangun. Dengan populasi pohon lontar yang cukup besar maka pabrik minuman
keras seperti di bali maupun Manado adalah masa depan Sabu Raijua sekaligus
pendongkrak PAD.
Tidak hanya
Pabrik Minuman keras yang hendak dibangun Marthen Dira Tome pada masa
kepemimpinannya nanti jika terpilih, tapi ada pabrik lain juga yang sudah masuk
dalam cita-citanya untuk dibangun di Sabu Raijua. Pabrik tersebut adalah pabrik
plastic. Kenapa pabrik plastic? Mungkin itu menjadi pertanyaan banyak orang.
Dia membangun pabrik plastic karena semua orang di NTT yang membutuhkan karung
semuanya didatangkan dari jawa. Tidak kurang dari 75 miliar rupiah yang lari ke
Pulau Jawa hanya untuk kebutuhan karung dan terpal.
“Coba
bayangkan kalau kebutuhan karung di NTT kita bisa penuhi dengan pabrik yang
kita buat, berapa banyak uang yang masuk ke daerah ini. Kita mau supaya ketika
kami tidak memimpin lagi daerah ini, orang akan melihat Sabu Raijua dengan
berbagai produk dari pabrik miliknya sendiri. Ada garam, ada air mineral, ada
rumput laut, ada minuman keras dan ada produk plastik seperti karung dan
terpal. Dengan demikian Sabu Rajua akan menjadi mercusuar yang akan selalu
dilirik oleh siapa saja nanti dimasa depan,” paparnya.
Itulah
sebagian kecil dari mimpi-mimpi besar Marthen Dira Tome yang hendak dia pahat
di Sabu Raijua sekaligus dengan alasan kenapa dia harus kembali bertarung dalam
Pilkada Sabu Raijua. Tinggal masyarakat menilai apakah mimpi dan cita-cita
besarnya hanya akan tetap menjadi mimpi tanpa relalita, semuanya tergantung
pada rakyat sebab merekalah pemilik kedaulatan itu sendiri. Jika masyarakat
masih menghendakinya maka bukan hal yang mustahil jika Marthen Dira Tome dan
Nikodemus Rihi Heke akan tetap menjadi Ratu Kolo Moto ti Kebl Hawu Miha. (joey
rihi ga)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar