Kamis, 27 Agustus 2015

Menjadi “Ratu Kolo Moto” di Bumi Titipan Hawu Miha


Add captionMarthen Dira Tome bersama salah satu warga

Ratu Kolo Moto Ti Kebolo Hawu Miha”. Tulisan ini terpampang dipanggung kehormatan tempat berlangsungnya pesta suka cita pasangan Marthen Dira – Nikodemus Rihi Heke atau Paket Mandiri, usai dilantik Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, 24 Januari 2011. Kata Ratu Kolo Moto Ti Kebolo Hawu Miha tidak bisa disandang oleh semua orang di Sabu Raijua. Hanya mereka yang dianggap sebagai yang layak dan utama serta menjadi pemimpin yang pantas menyandang penghargaan tersebut. 

Kini hampir selesai sudah tugas Marthen Dira Tome dan Nikodemus Rihi Heke berbhakti di Sabu Raijua sebagai Bupati dan Wakil Bupati sesuai mandate rakyat dalam Pilkada. Saat ini, Gong Pilkada Sabu Raijua sudang berbunyi untuk mencari putra/putri terbaik di bumi titipan hawu miha untuk menyandang gelar “Ratu kolo moto, ti kebolo hawu miha”. Pada tahun 2010 silam ada 14 orang putra/putri terbaik yang bersaing untuk menjadi bupati dan wakil bupati. Marthen Dira Tome – Nikodemus Rihi Heke menjadi Ratu Kolo moto sesuai amanat Rakyat.

Pada Pilkada tahun 2015, Marthen Dira Tome – Nikodemus Rihi Heke kembali bertarung. Keduanya tak mau berpisah dan tetap satu dalam peharu yang mereka sebut Paket Mandiri. Mereka juga tidak lagi menggunakan pintu partai seperti pada Pilkada lalu yang menunggunakan partai Golkar sebagai kendaraan politik menuju Pilkada. Paket Mandiri hendak memberikan kesempatan kepada Masyarakat Kabupaten Sabu Raijua untuk memilih sendiri calon pempimpinnya tanpa intervensi dari partai politik. Jika memang masyarakt masih menghendaki pasangan ini untuk tetap menjadi Ratu Kolo Moto, maka mereka pasti akan memberi dukungan kepada Marthen Dira Tome dan Nikodemus Rihi Heke.

Hal ini sudah terbukti setelah Paket Mandiri Jilid 2 mengatarkan dokumen dukungan untuk perseorangan ke KPUD Sabu Raijua pada 13 Juni 2015. Jumlah dukungan minimal bagi calon perseorangan terpenuhi sehingga KPUD masuk dalam tahap verifikasi faktual. Ini menjadi indikator bahwa Paket Mandiri masih dikehendaki oleh masyarakat di Kabupaten Sabu Raijua untuk menjadi Ratu Kolo Moto. Tinggal kita menunggu pada tanggal 9 Desember nanti siapa yang akan mendapatkan legitimasi oleh rakyat lewat hajatan Pilkada sebagai Bupati dan Wakil Bupati terpilih sekaligus menyandar predikat Ratu Kolo Moto ti Kebolo Hawu Hiha.

Lantas apa yang menjadi landasan pemikiran sehingga Marthen Dira Tome dan Nikodemus Rihi Heke masih mau berbhakti bagi masyarakat di pulau sejuta lontar ini. Kepada Seputar NTT, Matade, demikian Marthen Dira Tome akrab disapa mengungkapkan bahwa waktu lima tahun baginya bersama wakil bupati tidak cukup untuk membawa Sabu Raijua menjadi Kabupaten yang Inovatif, maju dan bermartabat. Berbagai hambatan dan kesulitan membuat mimpi paket Mandiri tidak tuntas dalam membawa masyarakat kearah yang lebih baik sesuai visi dan misi mereka.

“Waktu lima tahun itu terlampau singkat untuk kami merealisasikan visi dan misi yang ada. Itulah kenapa kami menyampaikan kepada masyarakat secara jujur apa yang sudah kami capai selama kami bekerja sekaligus memberitahukan keinginan kami untuk melanjutkan pekerjaan yang ada jika masyarakat masih berkenan. Kenapa kami memilih jalur independen, itu adalah untuk mengukur apakah masyarakat masih menginginkan kami atau tidak dan keinginan kami telah bersambut sehingga dukungan masyarakat lewat KTP sebagaimana syarat untuk pasangan perseorangan, telah kami berikan ke KPUD sesuai tahapan Pilkada,” ujar Matade.

Setiap misi dan program kerja kata Marthen Dira Tome telah dilakukan, walaupun ada kekurangan-kekurangan dan perlu perbaikan kedepan. Namun yang penting katanya, bahwa dirinya bersama wakil bupati telah menyampikan kepada masyarakat secara jujur apa kendala-kendala yang terjadi sehingga sebuah program berjalan tidak sesuai harapan. Dia juga tidak menampik bahwa dalam melaksanakan berbagai program, selalu mendapatkan tantangan dilapangan. Tidak hanya itu tantangan itu datang juga dari DPRD sebagai mitra kerja dalam membangunan Kabupaten Sabu Raijua.

“Bagi Kami bahwa ketika ada program yang tidak berjalan maksimal dan perlu dibenahi itu sesuatu yang wajar dalam membangun sebuah daerah. Yang menjadi dosa adalah ketika kita tidak mampu menjelaskan secara jujur kepada masyarakat kenapa sebuah program tidak berhasil. Dan itu sudah kami sampaikan kepada masyarakat secara jujur dan mereka menerimanya. Salah satu indikatornya adalah mereka masih begitu bersemangat memberikan dukungan lewat KTP untuk kami maju lagi dan itu sebuah amanah yang harus kami pikul jika Tuhan berehendak dan masyarakat masih mendukung kami dalam Pilkada nanti,” ungkapnya.

Marthen Dira Tme mengungkapkan bahwa bukan kuasa atau jabatan yang hendak dipertahankan, sehingga dirinya maju lagi dalam Pilkada. Selain program yang masih perlu dilanjutkan, namun ada mimpi besar yang hendak dilakukannya di Sabu Raijua. Mimpi besar yang membuat lawan mencibir bahan mencemooh. Salah satu mimpi besarnya adalah bagimana memeprtahankan Pohon Lontar sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan orang Sabu Raijua. 

Dengan perkembangan dunia yang semakin modern dan Pendidikan yang sudah merasuk masuk hingga pelosok membuat Dira Tome berpikir bahwa suatu kali kelak tidak ada lagi generasi yang akan menyadap nira lontar. Tidak ada orang yang susah-susah kuliah menjadi serang serjana lalu akhirnya harus kembali menjadi penyadap lontar. Untuk itu dia telah bekerjasama dengan Universitas Gajah Mada (UGM) dan Universitas Nusa Cendana (Undana) bagimana membuat pohon lontar hibrida. Pohon lntar yang tingginya hanya satu meter tapi sudah memiliki mayang sehingga bisa disadap.

“Kita sudah bekerjasama dengan UGM dan Undana untuk melakukan rakayasa genitika bagaimana membuat pohon lntar itu pendek saja dan tidak hanya kaum laki-laki saja yang nanti bisa sadap nira tapi juga bisa dilakukan oleh kaum perempuan. Itu adalah mimpi dan cita-cita besar kita kedepan,” ungkap Dira Tome.

Kenapa Dia begitu getol, karena dari pohon lontar menghasilkan berbagai produk seperti Cuka konsumsi, Minuman segar (Legen), Minuman beralkohol, Gula cair dalam kemasan, Gula lempeng, Gula semut, dodol, jus, kerupuk, Alkohol teknis (alkohol rumah sakit) Bio Fuel (Bio diesel & bio ethanol), anyaman lontar dan alat musik  maupun untuk Bahan Bangunan. Harapannya agar pohon lontar tetap menjadi bagian dalam budaya orang Sabu Raijua akan terpelihara selain berbagai manfaat yang bisa didapatkan dari pohon lontar.

Ada juga mimpinya yang lain jika nanti terpilih kembali mempimpin Sabu Raijua yakni membangun pabrik minuman keras dengan bahan baku nira atau tuak. Dia memiliki impian bahwa Sabu Raijua tidak boleh hanya dikenal dengan daerahnya yang tandus tapi suatu saat akan dikenal dengan berbagi produknya dari berbagai pabrik yang dibangun. Dengan populasi pohon lontar yang cukup besar maka pabrik minuman keras seperti di bali maupun Manado adalah masa depan Sabu Raijua sekaligus pendongkrak PAD.

Tidak hanya Pabrik Minuman keras yang hendak dibangun Marthen Dira Tome pada masa kepemimpinannya nanti jika terpilih, tapi ada pabrik lain juga yang sudah masuk dalam cita-citanya untuk dibangun di Sabu Raijua. Pabrik tersebut adalah pabrik plastic. Kenapa pabrik plastic? Mungkin itu menjadi pertanyaan banyak orang. Dia membangun pabrik plastic karena semua orang di NTT yang membutuhkan karung semuanya didatangkan dari jawa. Tidak kurang dari 75 miliar rupiah yang lari ke Pulau Jawa hanya untuk kebutuhan karung dan terpal.

“Coba bayangkan kalau kebutuhan karung di NTT kita bisa penuhi dengan pabrik yang kita buat, berapa banyak uang yang masuk ke daerah ini. Kita mau supaya ketika kami tidak memimpin lagi daerah ini, orang akan melihat Sabu Raijua dengan berbagai produk dari pabrik miliknya sendiri. Ada garam, ada air mineral, ada rumput laut, ada minuman keras dan ada produk plastik seperti karung dan terpal. Dengan demikian Sabu Rajua akan menjadi mercusuar yang akan selalu dilirik oleh siapa saja nanti dimasa depan,” paparnya.

Itulah sebagian kecil dari mimpi-mimpi besar Marthen Dira Tome yang hendak dia pahat di Sabu Raijua sekaligus dengan alasan kenapa dia harus kembali bertarung dalam Pilkada Sabu Raijua. Tinggal masyarakat menilai apakah mimpi dan cita-cita besarnya hanya akan tetap menjadi mimpi tanpa relalita, semuanya tergantung pada rakyat sebab merekalah pemilik kedaulatan itu sendiri. Jika masyarakat masih menghendakinya maka bukan hal yang mustahil jika Marthen Dira Tome dan Nikodemus Rihi Heke akan tetap menjadi Ratu Kolo Moto ti Kebl Hawu Miha. (joey rihi ga)
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar