![]() |
| Marthen Dira Tome disalah satu lokasi Hijauan Makanan Ternak (HMT) di Kecamatan Liae |
Masa kerja selama lima tahun bagi Marthen Dira Tome (Ma Tade) dan
Nikodemus Rihi Heke (Ma Balla) atau yang dikenal dengan Paket Mandiri, rasanya sangat
singkat. Pasalnya, setelah pelantikan, mereka tidak langsung bisa melaksanakan program
-programnya tetapi harus melakukan pembenahan terhadap sepuluh kegiatan wajib
yang merupakan indikator penilaian dari Dirjen Otonomi Daerah.
Ada pekerjaan
yang harusnya sudah diselesaikan oleh Penjabat Bupati waktu itu. Tetapi sampai
dengan pelantikan Ma Tade dan Ma Balla belum diselesaikan. Malah ada yang
dilakukan tetapi terbengkalai. Misalnya pekerjaan
RTRW, itulah sebabnya Sabu Raijua saat itu hendak digabung kembali dengan
kabupaten induk (kabupaten kupang) karena skor atau nilai dari sepuluh
indikator yang dinilai Dirjen Otonomi daerah hanya berada dibawah 40.
Mereka
menyadari kalau kondisi ini tidak segera diperbaiki maka Sabu Raijua kembali
gabung dengan Kabupaten Kupang sebagai Kabupaten Induk. Tahun pertama bekerja
memperbaiki semua yang dikerjakan dengan tidak benar oleh Penjabat Bupati. Tahun itu pun
nilai meningkat menjadi 64, tahun kedua
meningkat menjadi 72 dan tahun ketiga meningkat dengan tajam menjadi 76.12.
Pada akhirnya Sabu Raijua termasuk rangking 7 dari 32 Daerah Otonomi Baru (DOB)
se Indonesia. Dengan demikian Sabu Raijua terbebas dari ancaman untuk gabung kembali
dengan Kabupaten Induk.
Tiga program
pokok yang mereka lakukan adalah percepatan pembangunan Ekonomi masyarakat,
percepatan pembangunan pendidikan, dan percepatan pembangunan kesehatan
masyarakat dan program penunjang yaitu pembangunan infra struktur.
Pembangunan
Ekonomi dengan pendekatan amphibi melejit dengan pesat “tak bisa dilaut maka di
darat dan sebaliknya “ Laut digerakan Darat diurus”. Pembukaan dan pengolahan
lahan pertanian baru dengan menggunakan traktor dan hand traktor secara
cuma-cuma, pembagian benih dan pupuk secara cuma-cuma, bantuan motor air dan
selang secara cuma-cuma, mendorong terjadinya usaha tani pada musim kemarau,
jagung, bawang serta horti kultura dalam rangka pemenuhan kebutuhan pangan dan
mengatasi pengangguran semusim, produksi pangan meningkat luar biasa, padi jagung, bawang merah dan
lain-lain
Pembangunan tambak garam sekaligus pengolahan garam
Yodium tahun 2015 mencapai 121 ha, menyerap tenaga kerja ribuan orang,
pendirian pabrik air kemasan dan pabrik rumput laut diwilayah Sabu Timur. Pengolahan dan pengemasan gula lontar menjadi
gula air, gula semut dan gula lempeng dalam kemasan yang layak pasar,
pengolahan minyak kayu putih.
Pengembangan pakan ternak dan
bantuan seribu ekor sapi betina dan inseminasi buatan. Ada juga bantuan ternak kambing
etawah, ayam super harko.
Percepatan pembangunan pendidikan
Pada awal
kepemimpinan Ma Tade dan Ma Balla, situasi bidang pendidikan di Kabupaten Sabu
Raijua sangat carut-marut. Pada tahun pertama tingkat kelulusan pendidikan di
Sabu Raijua berada pada peringkat 21 dari 21 kabupaten kota. Berangkat dari
kondisi tersebut, pada tahun kedua ( tahun 2011 ) pemerintah melakukan
pembenahan di bidang pendidikan yaitu dengan melakukan Bedah SKL ( Standar
Kompetensi Lulusan ) dan Penyelenggaraan Center MIPA tingkat SD, SMP dan SMA
selama 6 bulan lamanya, dengan mendatangkan Nara sumber Dr. Keba Moto bersama
tim dengan tujuan meningkatkan kompetensi guru agar mampu mempersiapkan anak
didiknya dalam mengikuti ujian nasional dan mampu bersaing di bidang Sains dan
Teknologi.
Disamping
itu, UU Guru dan Dosen Nomor 14 tahun 2005 tentang tenaga pengajar harus
berpendidikan Sarjana juga menjadi alas an pemerintah untuk meningkatkan
kompetensi guru di Sabu Raijua. Dan upaya pemerintah pun berbuah manis dimana
pada tahun 2013 tingkat kelulusan pendidikan di kabupaten Sabu Raijua mengalami
peningkatan yang membanggakan dengan mendapat peringkat pertama dengan nilai
tertinggi untuk NTT. Terobosan pemerintah untuk memajukan dunia pendidikan di
Kabupaten Sabu Raijua berikutnya adalah mendirikan Akademi Komunitas Sabu
Raijua (AKSARA ) dimana pada tahun 2014 pemerintah mendapat ijin pendirian dari
Dikti dengan membuka 3 jurusan yaitu Jurusan Pertanian ( lahan kering &
pengolahan hasil ) , Jurusan Perikanan ( budidaya rumput laut dan perikanan )
dan Jurusan Pengolahan Hasil Bumi. Dengan berbagai upaya pemerintah untuk
memajukan dunia pendidikan di Sabu Raijua ini diharapkan dapat melahirkan
generasi-generasi penerus yang cerdas, kreatif, inovatif, dan bijaksana,
Percepatan Pembangunan Kesehatan Masyarakat
Sabu
Raijua termasuk daerah Endemis Malaria.
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kab.Sabu Raijua, jumlah penderita malaria
sejak tahun 2010 hingga 2011 mengalami peningkatan yang sangat signifikan
hingga sebagian penderita malaria dengan komplikasi yang berat harus dirujuk ke
kupang. Khusus bagi penderita
malaria yang berindikasi harus dirawat
inapkan tidak bisa ditampung di fasilitas kesehatan karena pada waktu itu RSU
Menia hanya sebatas melayani rawat jalan
saja.
Berbagai upaya penanganan pencegahan malaria antara lain : tahun
2011 melakukan pemeriksaan darah malaria secara serempak bagi seluruh
masyarakat dan bila positif segera diobati, melakukan promosi kesehatan tentang
kebersihan lingkungan dalam rumah maupun luar rumah, membagi Abate melalui desa/kelurahan
agar diteruskan ke tiap rumah tangga, membagi dan mewajibkan tiap rumah tangga
tidur dalam kelambu, mencukupkan alat pemeriksaan darah malaria dan obat
malaria. Bukan saja masalah malaria yang menjadi permasalahan kesehatan di Kab.
Sabu Raijua namun permasalahan penderita diare, suspek (gejala) DBD ( Demam
Berdarah Dengu) pada bulan-bulan tertentu mengalami peningkatan.
Permasalahan
Kesehatan Ibu Anak terutama masalah gizi bagi ibu hamil dan balita juga
merupakan permasalahan. Ibu Hamil KEK (Kurang Energi Kronis) dan balita gizi
buruk serta jumlah Kematian Ibu (ibu
hamil sampai 42 hari masa nifas) dan Kematian Neonatus (bayi umur 0 s/d 28
hari) masih tinggi. Oleh karena itu Pemerintah melakukan berbagai upaya antara
lain : mengangkat tenaga kontrak daerah baik dokter, perawat, bidan dan tenaga
kesehatan lainnya hingga 110 orang, mengirim tenaga dokter, perawat dan bidan
untuk mengikuti pelatihan penanganan kegawatdaruratan untuk masalah kebidanan dan neonatus,
merevitalisasi dan merenovasi semua fasilitas kesehatan ( Rumah Sakit,
Puskesmas, Pustu dan Poskesdes)
Mewajibkan
perawat dan bidan untuk tinggal di pustu maupun poskesdes yang berada di desa
sehingga lebih mendekatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat, mencukupkan ketersediaan obat-obatan dan
perbekalan kesehatan lainnya,
Mengaktifkan
fungsi posyandu sebagai tempat untuk memantau status gizi ibu hamil maupun
balita, menganggarkan pembiayaan pengganti transport tiap bulan bagi 1045 kader
posyandu di 204 posyandu maupun DPKM (Dewan Peduli Kesehatan Masyarakat) yang
terdiri dari Kepala Desa, 1 orang Toga
dan 1 org Tomas sebagai agen-agen kesehatan yang sangat berpengaruh untuk
memberikan informasi kesehatan di tiap desa/kelurahan.
Pembangunan Infrastruktur
Kondisi
infrastruktur Sabu Raijua pada tahun pertama kepemimpinan Matade dan Maballa
belum memadai dan masih jauh dari
sempurna untuk menunjang aksesbilitas masyarakat terhadap pelayanan kegiatan
ekonomi, pendidikan dan kesehatan. Dalam infrastruktur transportasi, jalan
merupakan salah satu sarana fisik yang berperan sangat penting dalam
pembangunan atau kemajuan suatu wilayah. Oleh karena itu pemerintah terus
berupaya untuk meningkatkan kualitas jalan di Kabupaten Sabu Raijua.
Namun
tentunya dalam proses menuju hal yang baik pasti pro dan kontra itu akan
bermunculan. Hal ini pun di alami oleh Matade dan Maballa, dimana pada saat itu
banyak masyarakat atau pihak-pihak tertentu yang tidak mendukung bahkan
meragukan program-program yang ada. Banyak masyarakat berpikir infrastruktur
transportasi Jalan merupakan prioritas nomor satu dalam pembangunan suatu
daerah khususnya Sabu Raijua. Namun Matade dan Maballa mempunyai pemikiran
tersendiri dalam hal ini. Infrastruktur menjadi prioritas ke empat setelah
Ekonomi, pendidikan dan kesehatan.
Mengapa
demikian? Karena Apa gunanya Jalan yang bagus dan indah jika masyarakatnya
masih hidup dalam kemiskinan, buta huruf dan tidak sehat. Oleh karena itu
setelah melakukan pembenahan di bidang Ekonomi, pendidikan dan kesehatan,
pemerintah bersama instansi terkait dalam hal ini Dinas PU kemudian fokus dalam
pembenahan infrastruktur Jalan. Perbaikan dan pelebaran Jalan dilakukan
dimana-mana, pembangunan jembatan baru pun dilakukan. Realisasinya terlihat
dari peningkatan kualitas jalan di tahun 2011 dibanding tahun 2010 dimana
panjang jalan yang dalam kondisi baik bertambah sepanjang 13 km ( thn 2010
panjang jalan dalam kondisi baik 31,9 km dan Tahun 2011 kondisi jalannya
meningkat menjadi 44,9 km ).
Dari tahun ke
tahun pemerintah terus berupaya meningkatkan kualitas jalan di Sabu Raijua ini,
di tahun 2015 ini juga masyarakat sudah bisa menikmati kondisi jalan yang sudah
di aspal hot mix sepanjang Seba sampai Menia.
Salah satu
dampak positif pemekaran wilayah di Kabupaten Sabu Raijua terlihat dari semakin
menggeliatnya aktifitas transportasi masyarakat yang didukung semakin
ditingkatkannya infrastruktur jalan di kabupaten ini. Peningkatan jumlah
kendaran dari tahun ke tahun hingga saat ini pun menjadi dampak dari adanya
peningkatan infrastruktur jalan di Sabu Raijua. Kondisi jalan ini akan terus
dibenahi untuk lebih mempermudah akses masyarakat antar daerah di Kabupaten
Sabu Raijua dan khususnya memperlancar aktifitas perekonomian sehingga pada
akhirnya kesejahteraan masyarakat Sabu Raijua semakin meningkat secara merata.
Selain
Infrastruktur Jalan, Infrastruktur Pelabuhan Laut dan Infrastruktur Perhubungan
Udara pun menjadi fokus pemerintah. Letak Kabupaten Sabu Raijua yang
dikelilingi oleh Laut Sabu dan Samudera Hindia menjadikan transportasi laut
sebagai modal transportasi utama bagi masyarakat dari Sabu ke kabupaten lain
dan bahkan antar kabupaten Sabu sendiri khususnya dari pulau Sabu Besar ke
pulau Raijua. Terdapat 3 (tiga) pelabuhan di kabupaten ini yakni Pelabuhan Seba
di Kecamatan Sabu Barat, Pelabuhan Biu di kecamatan Sabu Timur dan Pelabuhan
Namo di Kecamatan Raijua. Fasilitas utama yang disediakan di setiap pelabuhan,
selain dermaga terdapat juga gudang dan lapangan penumpukan .
Terminal
penumpang terdapat di dua pelabuhan yakni pelabuhan Seba dan pelabuhan Biu.
Hingga tahun 2011, pelabuhan Seba dan pelabuhan Namo hanya dapat disinggahi
oleh kapal perintis dan kapal ASDP. Sedangkan pelabuhan Biu telah dapat
disinggahi kapal penumpang milik PT Pelni yakni KM. Awu dengan jadwal kunjungan
sebanyak 1 kali dalam dua minggu. Di tahun 2014 kapal Penumpang Ferry Cepat
Cantika Express mulai beroperasi sebanyak 3 kali dalam seminggu dengan rute
Kupang-Sabu , Sabu – Kupang. Dengan adanya beberapa kapal angkutan dan kapal
penumpang yg beroperasi dapat memudahkan masyarakat untuk memilih alternatif
pelayaran yang dibutuhkan.
Kapal atau
angkutan penyeberangan tersebut berasal tidak hanya dari Sabu Raijua atau
wilayah lain di NTT, namun ada juga yang berasal dari luar NTT seperti Jawa dan
Sulawesi. Berikutnya yang menjadi alternatif transportasi lainnya bagi
masyarakat adalah Pesawat Terbang. Pada Tahun 2011, terdapat dua perusahaan
penerbangan yang melayani jalur Sabu-Kupang (pulang-pergi) yakni Susi Air dan
Merpati. Meski harganya masih cukup mahal, namun moda transportasi udara ini
semakin banyak diminati. Pemerintah juga bekerjasama dengan salah satu
perusahaan penerbangan tersebut dengan menyediakan subsidi beberapa tempat
duduk pada setiap penerbangan dari dan menuju Sabu Raijua. Namun di akhir tahun
2013 Maskapai Penerbangan Merpati tidak lagi beroperasi sehingga Maskapai
Penerbangan Susi Air menjadi satu-satunya transportasi udara yang beroperasi
setiap harinya di Kabupaten Sabu Raijua.
Terbatasnya
jumlah maskapai penerbangan yang beroperasi di Kabupaten Sabu Raijua disebabkan
kondisi landasan pacu yang belum cukup memadai untuk disinggahi pesawat-pesawat
besar seperti Trans Nusa, NAM Air, ataupun Garuda Airlines. Namun pemerintah
tetap terus berupaya untuk meningkatkan kualitas infrastruktur perhubungan udara
ini dimana telah dilakukannya uji kelayakan untuk membangun Bandar Udara yang
lebih luas lagi sehingga dapat di singgahi oleh maskapai-maskapa penerbangan
besar lainnya. Pemerintah dan masyarakat pun telah siap mendukung rencana
pembangunan bandara tersebut dengan meyiapkan lahan untuk bandara tersebut yang
terletak di Kecamatan Sabu Tengah.
Arus kunjungan pesawat dan penumpang yang
terus meningkat dari tahun ke tahun tidak terlepas dari semakin maraknya
aktifitas perekonomian dan pemerintahan di Sabu Raijua serta menunjukkan
semakin terbukanya keterisolasian Sabu Raijua dari daerah lainnya. Kualitas
Infrastruktur juga berpengaruh di bidang pariwisata di Sabu Raijua yang
sebenarnya memiliki potensi alam yang tak kalah menarikyna dengan daerah lain
di NTT bahkan Bali sekalipun.
Namun
pemerintah belum berani mengajak para turis berbondong-bondong mengunjungi Sabu
Raijua, karena jika bicara masalah pariwisata juga bicara masalah
infrastruktur, seperti hotel, rumah makan, jalan, kendaraan yang nyaman serta
paket pariwisata yang harus dipersiapkan secara baik, karena ketika infrastruktur belum terbangun secara baik,
wisatawan yang datang akan kecewa dan jika sudah demikian maka akan sulit untuk
membuat mereka datang kembali untuk berkunjung ke Sabu Raijua. Dan hal-hal
seperti ini yang terus memacu Matade dan Maballa untuk terus berbenah,
berupayadan bekerja tulus untuk membawa Sabu Raijua menjadi Kabupaten yang
Sejahtera, Maju dan Mandiri .
Produk Olahan Pangan Lokal Binaan PKK
Tim Penggerak
Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) adalah Mitra Kerja Pemerintah dan
Organisasi Kemasyarakatan Kabupaten Sabu Raijua yang juga turut berperan
penting dalam memberdayakan masyarakat khususnya keluarga, agar keluarga dapat
hidup sejahtera, maju dan mandiri. Salah satu kegiatan yang dilakukan TP-PKK
Kabupaten Sabu Raijua yang diketuai oleh Ny. Irna Dira Tome adalah dengan
memanfaatkan dan megolah bahan pangan lokal yang ada menjadi produk yang dapat dikonsumsi bahkan
dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat ( keluarga ).
Tentunya
untuk mengolah bahan-bahan pangan lokal tersebut dibutuhkan keterampilan yang
memadai. Oleh karena itu, Tim Penggerak PKK Sabu Raijua sering melakukan
kegiatan-kegiatan pelatihan bagi masyarakat khususnya warga binaan yang ada di
masing-masing TP-PKK Kabupaten, TP-PKK
Kecamatan maupun Kelurahan bahkan desa. Hal ini dimaksudkan agar keterampilan
yang diperoleh dapat dikembangkan oleh masyarakat umumnya dan keluarga
khususnya dalam mengolah bahan pangan lokal yang tersedia dengan begitu melimpahnya
di Sabu Raijua guna memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Selain itu,
keterampilan yang diperoleh dapat dikembangkan untuk menciptakan lapangan kerja
atau Industri Rumah Tangga yang dapat mengolah bahan pangan lokal menjadi
produk-produk makanan maupun produk kerajinan yang dapat dipasarkan sehingga
dapat membantu meningkatkan perekonomian keluarga. Adapun bahan pangan lokal
yang diolah adalah jagung, singkong, rumput laut, kacang, pisang, ikan, dan
sebagainya. Pengolahan pangan lokal tersebut antara lain pengolahan mangga
menjadi selai atau manisan, pengolahan rumput laut menjadi dodol, stick,
pengolahan pisang dan singgkong menjadi keripik,ikan menjadi abon, dan
lain-lain.
Seluruh
olahan tersebut kemudian dikemas secara baik dan memikat sehingga memiliki daya
saing dalam pemasarannya. Saat Produk olahan pangan lokal yang dikelola oleh
TP-PKK Sabu Raijua tidak hanya dipasarkan di Sabu Raijua saja namun sudah
dipasarkan juga di Kupang dan harapannya dapat dipasarkan di beberapa daerah
lainnya. Berbicara masalah pangan lokal juga berbicara masalah Ketahanan Pangan
yang merupakan salah satu tujuan pembangunan daerah Kabupaten Sabu Raijua.
Ketahanan Pangan sendiri adalah ketersediaan pangan dan kemampuan seseorang
untuk mengaksesnya. Sebuah rumah tangga dikatakan memiliki ketahanan pangan
jika penghuninya tidak berada dalam kondisi kelaparan atau dihantui ancaman
kelaparan.dalam hal ini ketersediaan pangan merupakan kemampuan memiliki
sejumlah pangan yang cukup untuk kebutuhan dasar serta mampu memanfaatkan bahan
pangan dengan benar dan tepat secara proporsional. (joey rihi ga)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar