Kamis, 27 Agustus 2015

Sejumlah Alasan Kenapa Mandiri Harus Dipilih Lagi


Marthen Dira Tome disalah satu lokasi Hijauan Makanan Ternak (HMT) di Kecamatan Liae

Masa kerja selama lima tahun bagi Marthen Dira Tome (Ma Tade) dan Nikodemus Rihi Heke (Ma Balla) atau yang dikenal dengan Paket Mandiri, rasanya sangat singkat. Pasalnya, setelah pelantikan, mereka tidak langsung bisa melaksanakan program -programnya tetapi harus melakukan pembenahan terhadap sepuluh kegiatan wajib yang merupakan indikator penilaian dari Dirjen Otonomi Daerah.

Ada pekerjaan yang harusnya sudah diselesaikan oleh Penjabat Bupati waktu itu. Tetapi sampai dengan pelantikan Ma Tade dan Ma Balla belum diselesaikan. Malah ada yang dilakukan tetapi terbengkalai.  Misalnya pekerjaan RTRW, itulah sebabnya Sabu Raijua saat itu hendak digabung kembali dengan kabupaten induk (kabupaten kupang) karena skor atau nilai dari sepuluh indikator yang dinilai Dirjen Otonomi daerah hanya  berada dibawah 40. 

Mereka menyadari kalau kondisi ini tidak segera diperbaiki maka Sabu Raijua kembali gabung dengan Kabupaten Kupang sebagai Kabupaten Induk. Tahun pertama bekerja memperbaiki semua yang dikerjakan dengan tidak benar  oleh Penjabat Bupati. Tahun itu pun nilai  meningkat menjadi 64, tahun kedua meningkat menjadi 72 dan tahun ketiga meningkat dengan tajam menjadi 76.12. Pada akhirnya Sabu Raijua termasuk rangking 7 dari 32 Daerah Otonomi Baru (DOB) se Indonesia. Dengan demikian Sabu Raijua terbebas dari ancaman untuk gabung kembali dengan Kabupaten Induk.  

Tiga program pokok yang mereka lakukan adalah percepatan pembangunan Ekonomi masyarakat, percepatan pembangunan pendidikan, dan percepatan pembangunan kesehatan masyarakat dan program penunjang yaitu pembangunan infra struktur.

Pembangunan Ekonomi dengan pendekatan amphibi melejit dengan pesat “tak bisa dilaut maka di darat dan sebaliknya “ Laut digerakan Darat diurus”. Pembukaan dan pengolahan lahan pertanian baru dengan menggunakan traktor dan hand traktor secara cuma-cuma, pembagian benih dan pupuk secara cuma-cuma, bantuan motor air dan selang secara cuma-cuma, mendorong terjadinya usaha tani pada musim kemarau, jagung, bawang serta horti kultura dalam rangka pemenuhan kebutuhan pangan dan mengatasi pengangguran semusim, produksi pangan meningkat  luar biasa, padi jagung, bawang merah dan lain-lain

Pembangunan  tambak garam sekaligus pengolahan garam Yodium tahun 2015 mencapai 121 ha, menyerap tenaga kerja ribuan orang, pendirian pabrik air kemasan dan pabrik rumput laut diwilayah Sabu Timur.  Pengolahan dan pengemasan gula lontar menjadi gula air, gula semut dan gula lempeng dalam kemasan yang layak pasar, pengolahan minyak kayu putih.  Pengembangan  pakan ternak dan bantuan seribu ekor sapi betina dan inseminasi buatan. Ada juga bantuan ternak kambing etawah, ayam super harko.

Percepatan pembangunan pendidikan
Pada awal kepemimpinan Ma Tade dan Ma Balla, situasi bidang pendidikan di Kabupaten Sabu Raijua sangat carut-marut. Pada tahun pertama tingkat kelulusan pendidikan di Sabu Raijua berada pada peringkat 21 dari 21 kabupaten kota. Berangkat dari kondisi tersebut, pada tahun kedua ( tahun 2011 ) pemerintah melakukan pembenahan di bidang pendidikan yaitu dengan melakukan Bedah SKL ( Standar Kompetensi Lulusan ) dan Penyelenggaraan Center MIPA tingkat SD, SMP dan SMA selama 6 bulan lamanya, dengan mendatangkan Nara sumber Dr. Keba Moto bersama tim dengan tujuan meningkatkan kompetensi guru agar mampu mempersiapkan anak didiknya dalam mengikuti ujian nasional dan mampu bersaing di bidang Sains dan Teknologi. 

Disamping itu, UU Guru dan Dosen Nomor 14 tahun 2005 tentang tenaga pengajar harus berpendidikan Sarjana juga menjadi alas an pemerintah untuk meningkatkan kompetensi guru di Sabu Raijua. Dan upaya pemerintah pun berbuah manis dimana pada tahun 2013 tingkat kelulusan pendidikan di kabupaten Sabu Raijua mengalami peningkatan yang membanggakan dengan mendapat peringkat pertama dengan nilai tertinggi untuk NTT. Terobosan pemerintah untuk memajukan dunia pendidikan di Kabupaten Sabu Raijua berikutnya adalah mendirikan Akademi Komunitas Sabu Raijua (AKSARA ) dimana pada tahun 2014 pemerintah mendapat ijin pendirian dari Dikti dengan membuka 3 jurusan yaitu Jurusan Pertanian ( lahan kering & pengolahan hasil ) , Jurusan Perikanan ( budidaya rumput laut dan perikanan ) dan Jurusan Pengolahan Hasil Bumi. Dengan berbagai upaya pemerintah untuk memajukan dunia pendidikan di Sabu Raijua ini diharapkan dapat melahirkan generasi-generasi penerus yang cerdas, kreatif, inovatif, dan bijaksana,

Percepatan Pembangunan Kesehatan Masyarakat

Sabu Raijua  termasuk daerah Endemis Malaria. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kab.Sabu Raijua, jumlah penderita malaria sejak tahun 2010 hingga 2011 mengalami peningkatan yang sangat signifikan hingga sebagian penderita malaria dengan komplikasi yang berat harus dirujuk ke kupang.  Khusus bagi penderita malaria  yang berindikasi harus dirawat inapkan tidak bisa ditampung di fasilitas kesehatan karena pada waktu itu RSU Menia hanya sebatas melayani rawat jalan  saja. 

Berbagai upaya penanganan pencegahan malaria antara lain : tahun 2011 melakukan pemeriksaan darah malaria secara serempak bagi seluruh masyarakat dan bila positif segera diobati, melakukan promosi kesehatan tentang kebersihan lingkungan dalam rumah maupun luar rumah, membagi Abate melalui desa/kelurahan agar diteruskan ke tiap rumah tangga, membagi dan mewajibkan tiap rumah tangga tidur dalam kelambu, mencukupkan alat pemeriksaan darah malaria dan obat malaria. Bukan saja masalah malaria yang menjadi permasalahan kesehatan di Kab. Sabu Raijua namun permasalahan penderita diare, suspek (gejala) DBD ( Demam Berdarah Dengu) pada bulan-bulan tertentu mengalami peningkatan. 

Permasalahan Kesehatan Ibu Anak terutama masalah gizi bagi ibu hamil dan balita juga merupakan permasalahan. Ibu Hamil KEK (Kurang Energi Kronis) dan balita gizi buruk serta  jumlah Kematian Ibu (ibu hamil sampai 42 hari masa nifas) dan Kematian Neonatus (bayi umur 0 s/d 28 hari) masih tinggi. Oleh karena itu Pemerintah melakukan berbagai upaya antara lain : mengangkat tenaga kontrak daerah baik dokter, perawat, bidan dan tenaga kesehatan lainnya hingga 110 orang, mengirim tenaga dokter, perawat dan bidan untuk mengikuti pelatihan penanganan kegawatdaruratan  untuk masalah kebidanan dan neonatus, merevitalisasi dan merenovasi semua fasilitas kesehatan ( Rumah Sakit, Puskesmas, Pustu dan Poskesdes)

Mewajibkan perawat dan bidan untuk tinggal di pustu maupun poskesdes yang berada di desa sehingga lebih mendekatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat,  mencukupkan ketersediaan obat-obatan dan perbekalan kesehatan lainnya,

Mengaktifkan fungsi posyandu sebagai tempat untuk memantau status gizi ibu hamil maupun balita, menganggarkan pembiayaan pengganti transport tiap bulan bagi 1045 kader posyandu di 204 posyandu maupun DPKM (Dewan Peduli Kesehatan Masyarakat) yang terdiri dari Kepala Desa,  1 orang Toga dan 1 org Tomas sebagai agen-agen kesehatan yang sangat berpengaruh untuk memberikan informasi kesehatan di tiap desa/kelurahan. 

Pembangunan Infrastruktur

Kondisi infrastruktur Sabu Raijua pada tahun pertama kepemimpinan Matade dan Maballa belum memadai dan masih  jauh dari sempurna untuk menunjang aksesbilitas masyarakat terhadap pelayanan kegiatan ekonomi, pendidikan dan kesehatan. Dalam infrastruktur transportasi, jalan merupakan salah satu sarana fisik yang berperan sangat penting dalam pembangunan atau kemajuan suatu wilayah. Oleh karena itu pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan kualitas jalan di Kabupaten Sabu Raijua. 

Namun tentunya dalam proses menuju hal yang baik pasti pro dan kontra itu akan bermunculan. Hal ini pun di alami oleh Matade dan Maballa, dimana pada saat itu banyak masyarakat atau pihak-pihak tertentu yang tidak mendukung bahkan meragukan program-program yang ada. Banyak masyarakat berpikir infrastruktur transportasi Jalan merupakan prioritas nomor satu dalam pembangunan suatu daerah khususnya Sabu Raijua. Namun Matade dan Maballa mempunyai pemikiran tersendiri dalam hal ini. Infrastruktur menjadi prioritas ke empat setelah Ekonomi, pendidikan dan kesehatan. 

Mengapa demikian? Karena Apa gunanya Jalan yang bagus dan indah jika masyarakatnya masih hidup dalam kemiskinan, buta huruf dan tidak sehat. Oleh karena itu setelah melakukan pembenahan di bidang Ekonomi, pendidikan dan kesehatan, pemerintah bersama instansi terkait dalam hal ini Dinas PU kemudian fokus dalam pembenahan infrastruktur Jalan. Perbaikan dan pelebaran Jalan dilakukan dimana-mana, pembangunan jembatan baru pun dilakukan. Realisasinya terlihat dari peningkatan kualitas jalan di tahun 2011 dibanding tahun 2010 dimana panjang jalan yang dalam kondisi baik bertambah sepanjang 13 km ( thn 2010 panjang jalan dalam kondisi baik 31,9 km dan Tahun 2011 kondisi jalannya meningkat menjadi 44,9 km ). 

Dari tahun ke tahun pemerintah terus berupaya meningkatkan kualitas jalan di Sabu Raijua ini, di tahun 2015 ini juga masyarakat sudah bisa menikmati kondisi jalan yang sudah di aspal hot mix sepanjang Seba sampai Menia.   

Salah satu dampak positif pemekaran wilayah di Kabupaten Sabu Raijua terlihat dari semakin menggeliatnya aktifitas transportasi masyarakat yang didukung semakin ditingkatkannya infrastruktur jalan di kabupaten ini. Peningkatan jumlah kendaran dari tahun ke tahun hingga saat ini pun menjadi dampak dari adanya peningkatan infrastruktur jalan di Sabu Raijua. Kondisi jalan ini akan terus dibenahi untuk lebih mempermudah akses masyarakat antar daerah di Kabupaten Sabu Raijua dan khususnya memperlancar aktifitas perekonomian sehingga pada akhirnya kesejahteraan masyarakat Sabu Raijua semakin meningkat secara merata. 

Selain Infrastruktur Jalan, Infrastruktur Pelabuhan Laut dan Infrastruktur Perhubungan Udara pun menjadi fokus pemerintah. Letak Kabupaten Sabu Raijua yang dikelilingi oleh Laut Sabu dan Samudera Hindia menjadikan transportasi laut sebagai modal transportasi utama bagi masyarakat dari Sabu ke kabupaten lain dan bahkan antar kabupaten Sabu sendiri khususnya dari pulau Sabu Besar ke pulau Raijua. Terdapat 3 (tiga) pelabuhan di kabupaten ini yakni Pelabuhan Seba di Kecamatan Sabu Barat, Pelabuhan Biu di kecamatan Sabu Timur dan Pelabuhan Namo di Kecamatan Raijua. Fasilitas utama yang disediakan di setiap pelabuhan, selain dermaga terdapat juga gudang dan lapangan penumpukan . 

Terminal penumpang terdapat di dua pelabuhan yakni pelabuhan Seba dan pelabuhan Biu. Hingga tahun 2011, pelabuhan Seba dan pelabuhan Namo hanya dapat disinggahi oleh kapal perintis dan kapal ASDP. Sedangkan pelabuhan Biu telah dapat disinggahi kapal penumpang milik PT Pelni yakni KM. Awu dengan jadwal kunjungan sebanyak 1 kali dalam dua minggu. Di tahun 2014 kapal Penumpang Ferry Cepat Cantika Express mulai beroperasi sebanyak 3 kali dalam seminggu dengan rute Kupang-Sabu , Sabu – Kupang. Dengan adanya beberapa kapal angkutan dan kapal penumpang yg beroperasi dapat memudahkan masyarakat untuk memilih alternatif pelayaran yang dibutuhkan.

Kapal atau angkutan penyeberangan tersebut berasal tidak hanya dari Sabu Raijua atau wilayah lain di NTT, namun ada juga yang berasal dari luar NTT seperti Jawa dan Sulawesi. Berikutnya yang menjadi alternatif transportasi lainnya bagi masyarakat adalah Pesawat Terbang. Pada Tahun 2011, terdapat dua perusahaan penerbangan yang melayani jalur Sabu-Kupang (pulang-pergi) yakni Susi Air dan Merpati. Meski harganya masih cukup mahal, namun moda transportasi udara ini semakin banyak diminati. Pemerintah juga bekerjasama dengan salah satu perusahaan penerbangan tersebut dengan menyediakan subsidi beberapa tempat duduk pada setiap penerbangan dari dan menuju Sabu Raijua. Namun di akhir tahun 2013 Maskapai Penerbangan Merpati tidak lagi beroperasi sehingga Maskapai Penerbangan Susi Air menjadi satu-satunya transportasi udara yang beroperasi setiap harinya di Kabupaten Sabu Raijua. 

Terbatasnya jumlah maskapai penerbangan yang beroperasi di Kabupaten Sabu Raijua disebabkan kondisi landasan pacu yang belum cukup memadai untuk disinggahi pesawat-pesawat besar seperti Trans Nusa, NAM Air, ataupun Garuda Airlines. Namun pemerintah tetap terus berupaya untuk meningkatkan kualitas infrastruktur perhubungan udara ini dimana telah dilakukannya uji kelayakan untuk membangun Bandar Udara yang lebih luas lagi sehingga dapat di singgahi oleh maskapai-maskapa penerbangan besar lainnya. Pemerintah dan masyarakat pun telah siap mendukung rencana pembangunan bandara tersebut dengan meyiapkan lahan untuk bandara tersebut yang terletak di Kecamatan Sabu Tengah. 

Arus kunjungan pesawat dan penumpang yang terus meningkat dari tahun ke tahun tidak terlepas dari semakin maraknya aktifitas perekonomian dan pemerintahan di Sabu Raijua serta menunjukkan semakin terbukanya keterisolasian Sabu Raijua dari daerah lainnya. Kualitas Infrastruktur juga berpengaruh di bidang pariwisata di Sabu Raijua yang sebenarnya memiliki potensi alam yang tak kalah menarikyna dengan daerah lain di NTT bahkan Bali sekalipun. 

Namun pemerintah belum berani mengajak para turis berbondong-bondong mengunjungi Sabu Raijua, karena jika bicara masalah pariwisata juga bicara masalah infrastruktur, seperti hotel, rumah makan, jalan, kendaraan yang nyaman serta paket pariwisata yang harus dipersiapkan secara baik, karena ketika  infrastruktur belum terbangun secara baik, wisatawan yang datang akan kecewa dan jika sudah demikian maka akan sulit untuk membuat mereka datang kembali untuk berkunjung ke Sabu Raijua. Dan hal-hal seperti ini yang terus memacu Matade dan Maballa untuk terus berbenah, berupayadan bekerja tulus untuk membawa Sabu Raijua menjadi Kabupaten yang Sejahtera, Maju dan Mandiri .

Produk Olahan Pangan Lokal Binaan PKK 

Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) adalah Mitra Kerja Pemerintah dan Organisasi Kemasyarakatan Kabupaten Sabu Raijua yang juga turut berperan penting dalam memberdayakan masyarakat khususnya keluarga, agar keluarga dapat hidup sejahtera, maju dan mandiri. Salah satu kegiatan yang dilakukan TP-PKK Kabupaten Sabu Raijua yang diketuai oleh Ny. Irna Dira Tome adalah dengan memanfaatkan dan megolah bahan pangan lokal yang ada  menjadi produk yang dapat dikonsumsi bahkan dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat ( keluarga ). 

Tentunya untuk mengolah bahan-bahan pangan lokal tersebut dibutuhkan keterampilan yang memadai. Oleh karena itu, Tim Penggerak PKK Sabu Raijua sering melakukan kegiatan-kegiatan pelatihan bagi masyarakat khususnya warga binaan yang ada di masing-masing  TP-PKK Kabupaten, TP-PKK Kecamatan maupun Kelurahan bahkan desa. Hal ini dimaksudkan agar keterampilan yang diperoleh dapat dikembangkan oleh masyarakat umumnya dan keluarga khususnya dalam mengolah bahan pangan lokal yang tersedia dengan begitu melimpahnya di Sabu Raijua guna memenuhi kebutuhan rumah tangga. 

Selain itu, keterampilan yang diperoleh dapat dikembangkan untuk menciptakan lapangan kerja atau Industri Rumah Tangga yang dapat mengolah bahan pangan lokal menjadi produk-produk makanan maupun produk kerajinan yang dapat dipasarkan sehingga dapat membantu meningkatkan perekonomian keluarga. Adapun bahan pangan lokal yang diolah adalah jagung, singkong, rumput laut, kacang, pisang, ikan, dan sebagainya. Pengolahan pangan lokal tersebut antara lain pengolahan mangga menjadi selai atau manisan, pengolahan rumput laut menjadi dodol, stick, pengolahan pisang dan singgkong menjadi keripik,ikan menjadi abon, dan lain-lain.

Seluruh olahan tersebut kemudian dikemas secara baik dan memikat sehingga memiliki daya saing dalam pemasarannya. Saat Produk olahan pangan lokal yang dikelola oleh TP-PKK Sabu Raijua tidak hanya dipasarkan di Sabu Raijua saja namun sudah dipasarkan juga di Kupang dan harapannya dapat dipasarkan di beberapa daerah lainnya. Berbicara masalah pangan lokal juga berbicara masalah Ketahanan Pangan yang merupakan salah satu tujuan pembangunan daerah Kabupaten Sabu Raijua. Ketahanan Pangan sendiri adalah ketersediaan pangan dan kemampuan seseorang untuk mengaksesnya. Sebuah rumah tangga dikatakan memiliki ketahanan pangan jika penghuninya tidak berada dalam kondisi kelaparan atau dihantui ancaman kelaparan.dalam hal ini ketersediaan pangan merupakan kemampuan memiliki sejumlah pangan yang cukup untuk kebutuhan dasar serta mampu memanfaatkan bahan pangan dengan benar dan tepat secara proporsional. (joey rihi ga)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar