![]() |
| Marthen Dira Tome bersama warga Dusun Keb'uhu Desa Raenyale Sabu Barat |
Ada tiga motor pompa air didalam mobil hi-lux yang akan ditumpangi
Bupati Sabu Raijua, Marthen Dira Tome. Tepat jam 9:10 pagi, kami berangkat
menuju desa Raenyale di Kecamatan Sabu Barat. Ada masyarakat yang berteriak
minta tolong karena sawah milik mereka sudah kering dan butuh air. Cara
satu-satunya untuk menolong padi milik petani adalah dengan memompa air dari
embung yang dekat dengan persawahan milik masyarakat.
Tiba di desa
Raenyale, kami sudah ditunggu Kepala Desa terpilih, Yan Haba Radja dan pendeta
Sody Nabunome. Merekalah yang menjadi jembatan permintaan masyarakat untuk
disampaikan kepada pemerintah serta mengetahui persis lokasi sawah para petani
yang sudah kering. Mesin motor air pertama dipasang di persawahan milik keluaga
Kana Lomi dan beberapa warga lainnya. Air yang dipompa berasal dari embung
Guriola.
“Kalau tidak
segera ditolong maka kasian masyarakat, saat ini padi hendak berbuah dan tidak
ada lagi hujan. Sebagai pemerintah, tidak boleh melakukan pertolongan yang
terlambat, sebab jika terlambat tidak ada guna lagi,” kata Bupati Marthen Dira
Tome.
Bupati harus
memastikan motor air yang dibawa bisa memompa air. Bertindak sebagai teknisi
adalah sopir DH I, Okto Kido dan Ajudan Bupati, Alfred Hina Lede yang baru saja
terpilih secara mutlak menjadi kepala Desa Menia. Motor air pertama berhasil
memompa air dan sawah keluarga Kana Lomi kembali basah. Beban sudah berkurang,
tinggal dua mesin lagi dan kami kembali menuju dusun sebelah.
Kali ini
Bupati sendiri yang membawa mobil. Ajudan dan sopir duduk dibelakang menemani
Kades perpilih di Desa Raenyale, Yan Haba Radja. Seputar NTT duduk di kursi
depan menemani sang bupati menyetir mobil. “Biar jalannya tidak bagus, yang
penting lagu yang kita dengar dalam mobil harus bagus, kata bupati sambil
menyetel lagu-lagu sentimental.
Kondisi jalan lingkungan di desa Raenyale yang
menanjak dan berlubang seakang menjadi tantangan untuk Bupati yang menjadi
supir bagi kami siang itu. Setiap lokasi sawah selalu berhenti untuk memastikan
apakah masih ada air atau tidak. Kami lalu tiba di lokasi kedua dimana petani
telah meminta bantuan motor pompa air.
Sambil
menunggu para teknisi dadakan yakni sang supir dan ajudan memasang motor air,
bupati kemduian berdiskusi dengan bebrapa masyarakat yang sawahnya kering.
Lahan sawah yang luas hingga ratusan meter dan terancam kering membuat bupati
tidak tenang. “Lebih baik saya bantu dengan motor air dan padi ini bisa dipanen
daripada saya memberi meraka beras raskin, lebih bermartabat kalau mereka makan
dari hasil panen dan keringat mereka sendiri. Bagi saya rasa lelah itu sudah
menjadi sahabat,” ujar Bupati sambil menyeka keringat di dahinya.
Kami kembali
melanjutkan perjalanan, masih diwilayah desa Raenyale, kali ini jalanan semakin
menanjak dan terjal. Kondisi jalan yang sulit seperti tidak mengganggu pikiran
Marthen Dira Tome dalam menyetir. Nyatanya dia menyetir sambil bersiul, sambil
sesekali mengikuti syair lagu yang berkumandang dari tape mobil. Setelah
kira-kira berjalan hamper setengah jam, kami tiba-tiba sudah berada dipuncak
pulau Sabu. “Ini nama tempatnya Keb’uhu” kata Yan Radja Haba.
Kami bisa
melihat dengan bebas kesegala penjuru. panas terik yang membakar kulit seperti
tidak terasa saat melihat keindahan Sabu dari ketinggian. Dari situ kami bisa
melihat embung Guriola yang dipenuhi air. Puluhan masyarakat yang rupanya sudah
menunggu, lalu mengajak bupati untuk berfoto. Pemandangannya memang indah.
Rupanya,
sawah para petani yang sudah kering berada dilembah yang kondis jalannya cukup curam.
Kami hampir saja tergelincir masuk jurang jika Bupati tidak cekatan memankan
setir mobil. Melihat wajah saya yang takut karena hampir tergelincir, Marthen
Dira Tome lalu berujar, “Jadi pemimpin itu harus menjadi petarung. Bertarung
dengan segala kondisi supaya masyarakat
tidak kelaparan,” ujarnya sambil tersenyum.
Kondisi sawah
yang berada dilembah, membuat saya tidak berani ikut. Saya memilih untuk
memotret mereka dari jauh sambil berteduh. Selang 15 menit suara mesin motor
air sudah menderu, itu tanda air sudah berhasil dipompa ke sawah petani. Saya
melihat bupati berlari kecil dari dalam lembah diikuti oleh masyarakat. Seperti
tidak lelah, padahal kondisi saat itu sangat panas.
Dari situ
kami menuju salah satu rumah warga yang dulu pernah dibantu oleh pemerintah
dengan seng untuk atap rumah. Kami disuguhkan makan siang di Kelagarai. Tanpa
sungkan seperti dirumah sendiri, bupati begitu lahap menghabiskan makan
siangnya sambil bercanda dengan masyarakat. Tidak ada kesan risih dari raut
wajahnya, mungkin karena dia sudah terbiasa hidup ditengah masyarakat dan
merasakan penderitaan mereka.
Dari situ
kami kembali melanjutkan perjalanan menuju dusun Hangurao di Desa Bebae,
Kecamatan Sabu Tengah. Desa ini berbatasan dengan Kecamatan Liae dan Kecamatan
Sabu Barat. Disana Masyarakat sudah menanti. Merka ingin mendengar langsung
dari mulut Marthen Dira Tome, apakah akan bertarung kembali dalam hajatan
Pilkada Sabu Raijua atau tidak.
Disana sudah
ada ratusan masyarakat yang sudah menunggu sejak pukul 17:00, namun karena
jalannya memutar kami baru tiba pukul 18:00 Wita. Bupati kemudian menyampaikan
apa alasan sehingga dia dan wakilnya harus bertarung kembali pada Pilkada
Desember mendatang. Dia juga menjelaskan kenapa dia harus maju melalui pintu
independen, karena dia mau masyarakat sendiri yang membuka pintu untuknya dalam
bertarung di Pilkada nanti.
“Ada
pekerjaan yang belum kami selesaikan dan begitu derasnya dukungan masyarakat
untuk kami melanjutkan pekerjaan pembangunan di Sabu Raijua. Itulah alasan kenapa
kami harus kembali bertarung dalam Pilkada pada bulan Desember nanti ” kata
Marthen disambut tepukan riuh masyarakat.
Selain alasan
tersebut, Marthen Dira Tome yang saat itu didampingi Wakil Bupati Nikodemus
Rihi Heke memaparkan apa saja yang sudah mereka lakukan selama memimpin
Kabupaten Sabu Raijua. Dia juga memberi apresiasi kepada Masyarakat yang ada di
Kecamatan Sabu Tengah, khususnya Desa Bebae yang begitu mendukung program kebun
rakyat mandiri yang dijalankan pemerintah dalam rangka meningkatkan perekonomian
dan ketahanan pangan masyarakat.
“Saya bukan
orang baru bagi orang di Bebae, saya selalu datang kesini dan saya sangat
senang dengan orang-orang disini yang rajin. Kenapa saya harus sampai kesini
karena saya ingin masyarakat mendengar sendiri dari mulut saya dan pak Wakil
Bupati tentang alasan dan tujuan kami maju dalam Pilkada,” kata Bupati.
Mendengar apa
yang disampaikan Marthen Dira Tome, Masyarakat Desa Bebae yang diwakili oleh
penanggungjawab gereja Hangurao, Welem Haba Gea pada kesempatan tersebut
mengatakan, Masyarakat di Desa Bebae telah merasakan bantuan pemerintah
sehingga masyarakat tidak mau lagi menoleh kekiri atau kekanan ketika Pilkada
nanti. Mereka menyatakan telah bersatu untuk mendukung kembali Marthen Dira
Tome dan Nikodemus Rihi Heke untuk menjadi Bupati dan Wakil Bupati lima tahun
kedepan.
“Kami tidak
mau berbuat salah yang kedua kali. Pada Pilkada yang lalu, kami jujur bahwa
kami tidak memilih paket Mandiri waktu itu dan ketika memerintah ternyata kami
mendapatkan perhatian yang tinggi. Kalau saja tidak dilarang oleh aturan, kami
mau Pak Bupati harus memimpin Sabu Raijua tiga atau empat periode lagi,” ungkap
Welem. (joey rihi ga)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar