Kamis, 27 Agustus 2015

Menyusuri Raenyale Hingga Bebae


Marthen Dira Tome bersama warga Dusun Keb'uhu Desa Raenyale Sabu Barat

Ada tiga motor pompa air didalam mobil hi-lux yang akan ditumpangi Bupati Sabu Raijua, Marthen Dira Tome. Tepat jam 9:10 pagi, kami berangkat menuju desa Raenyale di Kecamatan Sabu Barat. Ada masyarakat yang berteriak minta tolong karena sawah milik mereka sudah kering dan butuh air. Cara satu-satunya untuk menolong padi milik petani adalah dengan memompa air dari embung yang dekat dengan persawahan milik masyarakat.

Tiba di desa Raenyale, kami sudah ditunggu Kepala Desa terpilih, Yan Haba Radja dan pendeta Sody Nabunome. Merekalah yang menjadi jembatan permintaan masyarakat untuk disampaikan kepada pemerintah serta mengetahui persis lokasi sawah para petani yang sudah kering. Mesin motor air pertama dipasang di persawahan milik keluaga Kana Lomi dan beberapa warga lainnya. Air yang dipompa berasal dari embung Guriola.

“Kalau tidak segera ditolong maka kasian masyarakat, saat ini padi hendak berbuah dan tidak ada lagi hujan. Sebagai pemerintah, tidak boleh melakukan pertolongan yang terlambat, sebab jika terlambat tidak ada guna lagi,” kata Bupati Marthen Dira Tome.

Bupati harus memastikan motor air yang dibawa bisa memompa air. Bertindak sebagai teknisi adalah sopir DH I, Okto Kido dan Ajudan Bupati, Alfred Hina Lede yang baru saja terpilih secara mutlak menjadi kepala Desa Menia. Motor air pertama berhasil memompa air dan sawah keluarga Kana Lomi kembali basah. Beban sudah berkurang, tinggal dua mesin lagi dan kami kembali menuju dusun sebelah.

Kali ini Bupati sendiri yang membawa mobil. Ajudan dan sopir duduk dibelakang menemani Kades perpilih di Desa Raenyale, Yan Haba Radja. Seputar NTT duduk di kursi depan menemani sang bupati menyetir mobil. “Biar jalannya tidak bagus, yang penting lagu yang kita dengar dalam mobil harus bagus, kata bupati sambil menyetel lagu-lagu sentimental.

Kondisi  jalan lingkungan di desa Raenyale yang menanjak dan berlubang seakang menjadi tantangan untuk Bupati yang menjadi supir bagi kami siang itu. Setiap lokasi sawah selalu berhenti untuk memastikan apakah masih ada air atau tidak. Kami lalu tiba di lokasi kedua dimana petani telah meminta bantuan motor pompa air. 

Sambil menunggu para teknisi dadakan yakni sang supir dan ajudan memasang motor air, bupati kemduian berdiskusi dengan bebrapa masyarakat yang sawahnya kering. Lahan sawah yang luas hingga ratusan meter dan terancam kering membuat bupati tidak tenang. “Lebih baik saya bantu dengan motor air dan padi ini bisa dipanen daripada saya memberi meraka beras raskin, lebih bermartabat kalau mereka makan dari hasil panen dan keringat mereka sendiri. Bagi saya rasa lelah itu sudah menjadi sahabat,” ujar Bupati sambil menyeka keringat di dahinya.

Kami kembali melanjutkan perjalanan, masih diwilayah desa Raenyale, kali ini jalanan semakin menanjak dan terjal. Kondisi jalan yang sulit seperti tidak mengganggu pikiran Marthen Dira Tome dalam menyetir. Nyatanya dia menyetir sambil bersiul, sambil sesekali mengikuti syair lagu yang berkumandang dari tape mobil. Setelah kira-kira berjalan hamper setengah jam, kami tiba-tiba sudah berada dipuncak pulau Sabu. “Ini nama tempatnya Keb’uhu” kata Yan Radja Haba.

Kami bisa melihat dengan bebas kesegala penjuru. panas terik yang membakar kulit seperti tidak terasa saat melihat keindahan Sabu dari ketinggian. Dari situ kami bisa melihat embung Guriola yang dipenuhi air. Puluhan masyarakat yang rupanya sudah menunggu, lalu mengajak bupati untuk berfoto. Pemandangannya memang indah.

Rupanya, sawah para petani yang sudah kering berada dilembah yang kondis jalannya cukup curam. Kami hampir saja tergelincir masuk jurang jika Bupati tidak cekatan memankan setir mobil. Melihat wajah saya yang takut karena hampir tergelincir, Marthen Dira Tome lalu berujar, “Jadi pemimpin itu harus menjadi petarung. Bertarung dengan segala kondisi  supaya masyarakat tidak kelaparan,” ujarnya sambil tersenyum.

Kondisi sawah yang berada dilembah, membuat saya tidak berani ikut. Saya memilih untuk memotret mereka dari jauh sambil berteduh. Selang 15 menit suara mesin motor air sudah menderu, itu tanda air sudah berhasil dipompa ke sawah petani. Saya melihat bupati berlari kecil dari dalam lembah diikuti oleh masyarakat. Seperti tidak lelah, padahal kondisi saat itu sangat panas.

Dari situ kami menuju salah satu rumah warga yang dulu pernah dibantu oleh pemerintah dengan seng untuk atap rumah. Kami disuguhkan makan siang di Kelagarai. Tanpa sungkan seperti dirumah sendiri, bupati begitu lahap menghabiskan makan siangnya sambil bercanda dengan masyarakat. Tidak ada kesan risih dari raut wajahnya, mungkin karena dia sudah terbiasa hidup ditengah masyarakat dan merasakan penderitaan mereka.

Dari situ kami kembali melanjutkan perjalanan menuju dusun Hangurao di Desa Bebae, Kecamatan Sabu Tengah. Desa ini berbatasan dengan Kecamatan Liae dan Kecamatan Sabu Barat. Disana Masyarakat sudah menanti. Merka ingin mendengar langsung dari mulut Marthen Dira Tome, apakah akan bertarung kembali dalam hajatan Pilkada Sabu Raijua atau tidak. 

Disana sudah ada ratusan masyarakat yang sudah menunggu sejak pukul 17:00, namun karena jalannya memutar kami baru tiba pukul 18:00 Wita. Bupati kemudian menyampaikan apa alasan sehingga dia dan wakilnya harus bertarung kembali pada Pilkada Desember mendatang. Dia juga menjelaskan kenapa dia harus maju melalui pintu independen, karena dia mau masyarakat sendiri yang membuka pintu untuknya dalam bertarung di Pilkada nanti.

“Ada pekerjaan yang belum kami selesaikan dan begitu derasnya dukungan masyarakat untuk kami melanjutkan pekerjaan pembangunan di Sabu Raijua. Itulah alasan kenapa kami harus kembali bertarung dalam Pilkada pada bulan Desember nanti ” kata Marthen disambut tepukan riuh masyarakat.

Selain alasan tersebut, Marthen Dira Tome yang saat itu didampingi Wakil Bupati Nikodemus Rihi Heke memaparkan apa saja yang sudah mereka lakukan selama memimpin Kabupaten Sabu Raijua. Dia juga memberi apresiasi kepada Masyarakat yang ada di Kecamatan Sabu Tengah, khususnya Desa Bebae yang begitu mendukung program kebun rakyat mandiri yang dijalankan pemerintah dalam rangka meningkatkan perekonomian dan ketahanan pangan masyarakat.

“Saya bukan orang baru bagi orang di Bebae, saya selalu datang kesini dan saya sangat senang dengan orang-orang disini yang rajin. Kenapa saya harus sampai kesini karena saya ingin masyarakat mendengar sendiri dari mulut saya dan pak Wakil Bupati tentang alasan dan tujuan kami maju dalam Pilkada,” kata Bupati.

Mendengar apa yang disampaikan Marthen Dira Tome, Masyarakat Desa Bebae yang diwakili oleh penanggungjawab gereja Hangurao, Welem Haba Gea pada kesempatan tersebut mengatakan, Masyarakat di Desa Bebae telah merasakan bantuan pemerintah sehingga masyarakat tidak mau lagi menoleh kekiri atau kekanan ketika Pilkada nanti. Mereka menyatakan telah bersatu untuk mendukung kembali Marthen Dira Tome dan Nikodemus Rihi Heke untuk menjadi Bupati dan Wakil Bupati lima tahun kedepan.

“Kami tidak mau berbuat salah yang kedua kali. Pada Pilkada yang lalu, kami jujur bahwa kami tidak memilih paket Mandiri waktu itu dan ketika memerintah ternyata kami mendapatkan perhatian yang tinggi. Kalau saja tidak dilarang oleh aturan, kami mau Pak Bupati harus memimpin Sabu Raijua tiga atau empat periode lagi,” ungkap Welem. (joey rihi ga)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar