Kamis, 27 Agustus 2015

Sabu Raijua Dalam Genggaman Dira Tome



Setelah palu DPR RI berbunyi di Senayan pada tanggal 28 Oktober 2008 dengan mengesahkan Undang-undang No 32 tahun 2008 tentang pemekaran Kabupaten Sabu Raijua, sontak kegembiaraan warga berubah.  Ada berjuta harapan dan impian yang bergelora di hati dan pikiran orang Sabu Raijua, ketika kabupaten ini diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri di Jakarta pada tanggal 26 Mei 2009. Orang Sabu Raijua mendambakan tak perlu lagi berjuang melawan ganasnya laut Sabu untuk mencari kehidupan yang lebih baik dirantau orang karena semuanya bisa tersedia pasca menjadi kabupaten otonom.
Lalu apakah harapan mereka seperti membalikkan telapak tangan? Kabupaten Sabu Raijua saat ini sedang bergeliat ditangan bupati Marthen Dira Tome dan wakil bupati Nikodemus Rihi Heke. Pasangan yang memiliki tagline paket Mandiri saat pemilukada lalu, memiliki visi menjadikan Sabu Raijua sebagai Kabupaten yang inovatif, maju dan bermartabat dengan  moto orang Sabu Raijua juga bisa.
Bagi orang  yang mendengar bahwa Sabu Raijua sudah menjadi kabupaten otonom maka dalam pemikiran mereka semua telah berubah, sudah ada mall untuk shoping atau sudah ada pertamina untuk mengisi BBM ketika hendak berkeliling menikmati indahnya pulau Sabu. Ada juga yang berpikir bahwa semua fasilitas umum akan mudah mereka dapati, listrik, air, jalan dan sebagainya tidak menjadi kendala lagi, seperti Sabu puluhan tahun silam yang masih berstatus kecamatan.
Membangun Sabu Raijua untuk berdiri sejajar dengan kabupaten lain di NTT bukan pekerjaan sulap yang mudah dilakukan dalam sekejap mata. Butuh perjuangan dan tekad serta rasa terpanggil untuk mengubah Sabu Raijua yang ganas menjadi putri impian semua orang, yang cantik manis, dan ramah tutur bahasanya.
Hal ini disadari benar oleh Bupati Marthen Dira Tome dan Wakil Bupati Nikodemus Rihi Heke. Karena itu segala daya upaya telah mereka lakukan untuk menggapai impian orang Sabu Raijua setelah mereka dipercayakan untuk memimpin sejak dilantik pada Januari 2011 silam.
Salah satu program nyata yang dilakukan adalah bagaimana masyarakat Sabu Raijua bisa terlepas dari ancaman krisis pangan dengan menjalankan program kebun rakyat mandiri. Kebun rakyat mandiri saat ini telah memberi dampak yang sangat luar biasa bagi pemenuhan pangan masyarakat. Kabun rakyat mandiri adalah sebuah program menanam dimusim kemarau dengan memanfaatkan setiap potensi air yang ada di pulau semi arit ini.
Marthen Dira Tome seakan tak pernah lelah berjalan dari satu desa ke desa lain untuk melihat dan memantau apa yang dikerjakan para petani serta mendengar pengeluhan mereka. Sebagai Bupati yang meletakkan dasar pembangunan di Sabu Raijua dia menyadari benar bahwa masyarakatnya harus kenyang dan terlepas dari anacaman kelaparan. Baginya masyarakat yang sejahtera adalah masyarakat yang mandiri dibidang pangan dan tidak lagi merasa takut oleh hantu rawan pangan. Maka jangan heran ketika puncak musim kemarau orang Sabu Raijua panen dimana-mana, panen jagung panen bawang dan panen berbagai hasil bumi yang mereka tanam saat musim kering mencengkram wilayah itu.
Bicara soal kebun rakyat mandiri adalah bicara tentang mimpi yang menjadi nyata dimana ditengah tanah yang tandus dan gersang yang mampu menghasilkan pangan bagi masyarakat. Bagaimana tidak, orang Sabu Raijua yang hanya mampu menanam lewat bantuan hujan yang hanya sebentar menyinggahi pulau itu akhirnya harus menyadari bahwa dimusim kemarau pun mereka bisa menanam. Bagi banyak orang mungkin program ini hanya sekedar pencitraan tapi bagi mereka yang sudah merasakan hasilnya, ini adalah berkat yang luar biasa dari mimpi sang bupati.
Untuk mensukseskan program kebun rakyat mandiri ini, bupati tak hanya beretorika dari balik meja, tidak pula hanya pintar berpidato dari atas podium tapi dia telah bercucuran keringat dan telah bersahabat dengan rasa letih hanya dengan satu tujuan agar apa yang didambakannya bisa menjadi nyata dalam kehidupan masyarakat. Selain tenaga dan pikiran yang tertumpah maka untuk mewujudkan mimpi ini, pemerintah juga tidak segan-segan menggelontorkan dana untuk membantu para petani.
Petani benar-benar menjadi raja dengan berbagai bantuan dan kemudahan yang diberikan oleh pemerintah. Tidak hanya kebun rakyat mandiri yang dilakukan, tapi duet paket mandiri ini seperti membunyikan genderang perang dengan kondisi tandus di Sabu Raijua. Untuk itu maka dalam waktu yang bersamaan mereka menanam disetiap lahan kritis lewat program hutan rakyat mandiri. Menanam pohon di tanah liat yang rumput saja enggan hidup bukanlah pekerjaan gampang butuh kesabaran, strategi dan keberanian yang cukup untuk menantang alam.
Lantas bagaimana aksi mereka di bidang kelautan? Sebagai wilayah yang dikeleilingi oleh lautan dan bertetangga dengan samudera hindia maka potensi laut Sabu kaya raya. Untuk itu maka berbagai bantuan pula diberikan bagi para nelayan untuk bisa mengeruk sendiri hasil laut yang telah disiapkan Tuhan bagi anak cucu di pulau sejuta lontar ini. Selain ikan, rumput laut menjadi primadona bagi para nelayan dan masyarakat pesisir. Bagimana tidak, dengan potensi yang cukup besar ini masyarakat mampu mengumpulkan rupiah yang bisa merubah kehidupan mereka.
Inilah yang selalu digelorakan oleh Marthen Dira Tome dalam membangun Sabu lewat pendekatan amphibi. yaitu disaat laut tak bersahabat, orang akan kembali mengolah rupiah di daratan dan ketika daratan tak lagi berteman maka orang Sabu bisa kembali mengais rejeki dalam lautan nan kaya. Itulah yang dia sebutkan pendekatan amphibi, luar biasa seperti semboyan angakatan laut jalesveva jayamahe, jaya didarat jaya dilaut.
Dengan berdirinya pabrik rumput laut maka pemerintah berharap agar harga bisa normal dan penghasilan petani rumput laut semakin bertambah. Jangan heran jika saat ini disemua pesisir pulau Sabu telah dipenuhi dengan rumput laut yang menjadi primadona penghasil rupiah bagi masyarakat. Bicara mengenai pabrik maka menjelang akhir masa jabatan bupati Martehn Dira Tome dan wakil Bupati Nikdemus Rihi heke, mereka membangun tiga pabrik sekaligus diluar pabrik es yang kini sudah berproduksi.
Tiga pabrik ini masing-masing pabrik rumput laut dan pabrik air mineral yang keduanya di bangun di Kecamatan Sabu Timur sementara pabrik lainnya adalah pabrik garam yang terletak di Kecamatan Sabu Barat. Ketiga pabrik ini diharapkan mampu memberi peluang kerja bagi para pemuda/i di Kabupaten Sabu Raijua yang telah selesai pendidikan. Kehadiran pabrik ini pula diharapkan mampu mendongkrak pendapatan asli daerah bagi kabupaten Sabu Raijua.
Lalu bagaimana dengan geliat pembangunan di Sabu Raijua, berbagai fasilitas pemerintah sudah terbangun mulai dari kantor bupati maupun kantor SKPD. Demikian juga dengan persiapan badan jalan yang kini telah diperlebar sehingga ketika dilakukan hot mix maka kekuatannya bisa bertahan lebih lama.
Ini hanya sebagaian kecil yang telah dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua dibawah pimpinan Bupati Marthen Dira Tome dan Wakil Bupati Nikodemus Rihi Heke. Banyak hal yang telah mereka lakukan walupun begitu gencarnya penolakan baik yang datang dari luar maupun dari dalam masyarakat Sabu Raijua sendiri, Namun bagi pasangan ini, semua perbedaan adalah dinamika yang lasim dalam sebuah pengabdian bagi rakyat di bumi titipan Tuhan ini.
Mereka sadar bahwa dari seribu orang sabu tak akan bertampik sorak pada saat yang bersamaam, pasti ada yang mencibir dan mencerca. Mereka juga tahu bahwa dalam membangun selama tiga tahun terakhir ada banyak keluh kesah bahkan airmata. Tapi tidak boleh juga menampik bahwa ada ribuan senyuman yang terukir dibibir rakyat Sabu Raijua yang telah merasakan jamahan Pemerintahan Bupati Marthen Dira Tome dan Wakil Bupati Nikodemus Rihi Heke.  (joey rihi ga)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar