Setelah palu DPR
RI berbunyi di Senayan pada tanggal 28 Oktober 2008 dengan mengesahkan
Undang-undang No 32 tahun 2008 tentang pemekaran Kabupaten Sabu Raijua, sontak
kegembiaraan warga berubah. Ada berjuta
harapan dan impian yang bergelora di hati dan pikiran orang Sabu Raijua, ketika
kabupaten ini diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri di Jakarta pada tanggal 26
Mei 2009. Orang Sabu Raijua mendambakan tak perlu lagi berjuang melawan
ganasnya laut Sabu untuk mencari kehidupan yang lebih baik dirantau orang karena
semuanya bisa tersedia pasca menjadi kabupaten otonom.
Lalu apakah
harapan mereka seperti membalikkan telapak tangan? Kabupaten Sabu Raijua saat
ini sedang bergeliat ditangan bupati Marthen Dira Tome dan wakil bupati
Nikodemus Rihi Heke. Pasangan yang memiliki tagline paket Mandiri saat
pemilukada lalu, memiliki visi menjadikan Sabu Raijua sebagai Kabupaten yang
inovatif, maju dan bermartabat dengan
moto orang Sabu Raijua juga bisa.
Bagi orang yang mendengar bahwa Sabu Raijua sudah
menjadi kabupaten otonom maka dalam pemikiran mereka semua telah berubah, sudah
ada mall untuk shoping atau sudah ada pertamina untuk mengisi BBM ketika hendak
berkeliling menikmati indahnya pulau Sabu. Ada juga yang berpikir bahwa semua
fasilitas umum akan mudah mereka dapati, listrik, air, jalan dan sebagainya
tidak menjadi kendala lagi, seperti Sabu puluhan tahun silam yang masih
berstatus kecamatan.
Membangun Sabu Raijua
untuk berdiri sejajar dengan kabupaten lain di NTT bukan pekerjaan sulap yang
mudah dilakukan dalam sekejap mata. Butuh perjuangan dan tekad serta rasa
terpanggil untuk mengubah Sabu Raijua yang ganas menjadi putri impian semua
orang, yang cantik manis, dan ramah tutur bahasanya.
Hal ini disadari
benar oleh Bupati Marthen Dira Tome dan Wakil Bupati Nikodemus Rihi Heke.
Karena itu segala daya upaya telah mereka lakukan untuk menggapai impian orang
Sabu Raijua setelah mereka dipercayakan untuk memimpin sejak dilantik pada
Januari 2011 silam.
Salah satu
program nyata yang dilakukan adalah bagaimana masyarakat Sabu Raijua bisa
terlepas dari ancaman krisis pangan dengan menjalankan program kebun rakyat
mandiri. Kebun rakyat mandiri saat ini telah memberi dampak yang sangat luar
biasa bagi pemenuhan pangan masyarakat. Kabun rakyat mandiri adalah sebuah
program menanam dimusim kemarau dengan memanfaatkan setiap potensi air yang ada
di pulau semi arit ini.
Marthen Dira
Tome seakan tak pernah lelah berjalan dari satu desa ke desa lain untuk melihat
dan memantau apa yang dikerjakan para petani serta mendengar pengeluhan mereka.
Sebagai Bupati yang meletakkan dasar pembangunan di Sabu Raijua dia menyadari
benar bahwa masyarakatnya harus kenyang dan terlepas dari anacaman kelaparan.
Baginya masyarakat yang sejahtera adalah masyarakat yang mandiri dibidang
pangan dan tidak lagi merasa takut oleh hantu rawan pangan. Maka jangan heran
ketika puncak musim kemarau orang Sabu Raijua panen dimana-mana, panen jagung
panen bawang dan panen berbagai hasil bumi yang mereka tanam saat musim kering
mencengkram wilayah itu.
Bicara soal
kebun rakyat mandiri adalah bicara tentang mimpi yang menjadi nyata dimana
ditengah tanah yang tandus dan gersang yang mampu menghasilkan pangan bagi masyarakat.
Bagaimana tidak, orang Sabu Raijua yang hanya mampu menanam lewat bantuan hujan
yang hanya sebentar menyinggahi pulau itu akhirnya harus menyadari bahwa
dimusim kemarau pun mereka bisa menanam. Bagi banyak orang mungkin program ini
hanya sekedar pencitraan tapi bagi mereka yang sudah merasakan hasilnya, ini
adalah berkat yang luar biasa dari mimpi sang bupati.
Untuk
mensukseskan program kebun rakyat mandiri ini, bupati tak hanya beretorika dari
balik meja, tidak pula hanya pintar berpidato dari atas podium tapi dia telah
bercucuran keringat dan telah bersahabat dengan rasa letih hanya dengan satu
tujuan agar apa yang didambakannya bisa menjadi nyata dalam kehidupan
masyarakat. Selain tenaga dan pikiran yang tertumpah maka untuk mewujudkan mimpi
ini, pemerintah juga tidak segan-segan menggelontorkan dana untuk membantu para
petani.
Petani
benar-benar menjadi raja dengan berbagai bantuan dan kemudahan yang diberikan
oleh pemerintah. Tidak hanya kebun rakyat mandiri yang dilakukan, tapi duet
paket mandiri ini seperti membunyikan genderang perang dengan kondisi tandus di
Sabu Raijua. Untuk itu maka dalam waktu yang bersamaan mereka menanam disetiap
lahan kritis lewat program hutan rakyat mandiri. Menanam pohon di tanah liat
yang rumput saja enggan hidup bukanlah pekerjaan gampang butuh kesabaran,
strategi dan keberanian yang cukup untuk menantang alam.
Lantas bagaimana
aksi mereka di bidang kelautan? Sebagai wilayah yang dikeleilingi oleh lautan
dan bertetangga dengan samudera hindia maka potensi laut Sabu kaya raya. Untuk
itu maka berbagai bantuan pula diberikan bagi para nelayan untuk bisa mengeruk
sendiri hasil laut yang telah disiapkan Tuhan bagi anak cucu di pulau sejuta
lontar ini. Selain ikan, rumput laut menjadi primadona bagi para nelayan dan
masyarakat pesisir. Bagimana tidak, dengan potensi yang cukup besar ini
masyarakat mampu mengumpulkan rupiah yang bisa merubah kehidupan mereka.
Inilah yang
selalu digelorakan oleh Marthen Dira Tome dalam membangun Sabu lewat pendekatan
amphibi. yaitu disaat laut tak bersahabat, orang akan
kembali mengolah rupiah di daratan dan ketika daratan tak lagi berteman maka
orang Sabu bisa kembali mengais rejeki dalam lautan nan kaya. Itulah yang dia
sebutkan pendekatan amphibi, luar biasa seperti semboyan angakatan laut
jalesveva jayamahe, jaya didarat jaya dilaut.
Dengan
berdirinya pabrik rumput laut maka pemerintah berharap agar harga bisa normal
dan penghasilan petani rumput laut semakin bertambah. Jangan heran jika saat
ini disemua pesisir pulau Sabu telah dipenuhi dengan rumput laut yang menjadi
primadona penghasil rupiah bagi masyarakat. Bicara mengenai pabrik maka
menjelang akhir masa jabatan bupati Martehn Dira Tome dan wakil Bupati Nikdemus
Rihi heke, mereka membangun tiga pabrik sekaligus diluar pabrik es yang kini
sudah berproduksi.
Tiga pabrik ini
masing-masing pabrik rumput laut dan pabrik air mineral yang keduanya di bangun
di Kecamatan Sabu Timur sementara pabrik lainnya adalah pabrik garam yang
terletak di Kecamatan Sabu Barat. Ketiga pabrik ini diharapkan mampu memberi
peluang kerja bagi para pemuda/i di Kabupaten Sabu Raijua yang telah selesai
pendidikan. Kehadiran pabrik ini pula diharapkan mampu mendongkrak pendapatan
asli daerah bagi kabupaten Sabu Raijua.
Lalu bagaimana
dengan geliat pembangunan di Sabu Raijua, berbagai fasilitas pemerintah sudah
terbangun mulai dari kantor bupati maupun kantor SKPD. Demikian juga dengan
persiapan badan jalan yang kini telah diperlebar sehingga ketika dilakukan hot
mix maka kekuatannya bisa bertahan lebih lama.
Ini hanya
sebagaian kecil yang telah dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua
dibawah pimpinan Bupati Marthen Dira Tome dan Wakil Bupati Nikodemus Rihi Heke.
Banyak hal yang telah mereka lakukan walupun begitu gencarnya penolakan baik
yang datang dari luar maupun dari dalam masyarakat Sabu Raijua sendiri, Namun
bagi pasangan ini, semua perbedaan adalah dinamika yang lasim dalam sebuah
pengabdian bagi rakyat di bumi titipan Tuhan ini.
Mereka sadar
bahwa dari seribu orang sabu tak akan bertampik sorak pada saat yang bersamaam,
pasti ada yang mencibir dan mencerca. Mereka juga tahu bahwa dalam membangun
selama tiga tahun terakhir ada banyak keluh kesah bahkan airmata. Tapi tidak
boleh juga menampik bahwa ada ribuan senyuman yang terukir dibibir rakyat Sabu
Raijua yang telah merasakan jamahan Pemerintahan Bupati Marthen Dira Tome dan Wakil
Bupati Nikodemus Rihi Heke. (joey rihi
ga)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar