Kamis, 27 Agustus 2015

Hanya Sabu Raijua Yang Serius Kembangkan Industri Garam


Pekerja Tambak Garam di Desa Bodae, Sabu Timur

Saat Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti berteriak lantang agar Indonesia menghentikan impor garam, Kabupaten Sabu Raijua telah menangkap tujuan sang Menteri. Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua, setahun sebelumnya telah memulai usaha tambak garam dengan teknolgo mutakhir geomembran. Bahkan keberhasilan dan kerja keras ini telah menjadi buah bibir di negeri flobamora.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Nusa Tenggara Timur (NTT), Bruno Kupok mengatakan, garam di Provinsi NTT memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan menjadi garam industri yang berprospek sangat baik. Namun dari sejumlah kabupaten yang memiliki potensi itu, hanya kabupaten Sabu Raijua yang serius mengembangkan usaha ini.

“Kita sudah dorong semua Kabupaten yang ada di NTT melalui berbagai kegiatan yang digelar, namun dukungan dari Pemerintah Kabupaten untuk pengembangan garam rumah tangga ini masih sangat minim. Pemerintah Kabupaten yang menyambut baik dan telah sukses membangun tambak garam hanya Kabupaten Sabu Raijua. Padahal Kabupaten Sabu Raijua belum mendapatkan dana baik dari Provinsi maupun pusat” kata Bruno Kupok kepada wartawan Senin, 18 Mei 2015.

Bruno menjelaskan, usaha industri garam di Sabu Raijua  sudah dimulai pada tahun 2014 silam dengan luas lahan hanya dua hektar. Namun karena produksi dan kualitasnya cukup baik, maka Pemerintah setempat lewat APBD Sabu Raijua telah memperluas lahan tambak garam pada tahun 2015 ini menjadi 121 hektar. Hal Ini menunjukkan keseriusan Pemkab Sabu Raijua dalam melihat potensi garam yang cukup bagus diwilayahnya.

“Kalau Kabupaten lain yang sudah dibantu oleh Kementerian peridustrian tapi belum menunjukkan hasil yang baik. Kabupaten Sabu Raijua harus menjadi contoh bagi Kabupaten lain dalam mengembangkan potensi garam di NTT. Saya memang belum pergi kesana untuk melihat, tapi dari laporan dan foto-foto yang saya lihat, potensi garam disana cukup luar biasa,” ungkap Bruno.

Diakuinya bahwa Kabupaten Sabu Raijua telah menggunakan teknologi geomembran dalam mengolah garam sehingga garam tersebut sudah memiliki kualitas yang sangat baik. Dia menjelaskan, pada tahun 2014 silam ada lima Kabupaten/kota yang mendapatkan dana untuk memproduksi garam dengan teknologi geomembran. Namun hasil yang diperoleh belum memuaskan. Hal ini berbanding terbalik dengan Kabupaten Sabu Raijua yang tidak mendapat bantuan malah mampu memperluas lahan dan meningkatkan hasil produksi mereka. 

Hal ini bisa dibuktikan pada Jumat 16 Mei 2015 dimana Puluhan ton garam yang di panen perdana di tambak garam Desa Bodae, Kecamatan Sabu Timur, dibagi gratis kepada Ratusan masyarakat yang berasal dari Kacamatan Sabu Tengah, Sabu Timur dan Liae.

Ada lima hektar lahan tambak garam yang dipenan dari 35 hektar lahan yang ada di Desa Bodae.
Bupati Sabu Raijua, Marthen Dira Tome dalam araannya sebelum melakukan panen perdana mengatakan, garam akan menjadi komoditi unggulan di Kabupaten Sabu Raijua. Saat ini ada 121 hektar lahan yang sedang dikembangkan diwilayah tersebut dan bisa menampung ribuan tenaga kerja. “Garam adalah komoditi sensitif yg harus dijaga dan dilindungi sehingga perlu didukung semua pihak karena saat ini garam adalah masa depan Sabu Raijua,” kara Dira Tome.

Bupati berharap agar seluruh masyarakat termasuk camat dan para kepala Desa untuk melakukan pengamanan terhadap wilayah tambak garam sehingga terhindar dari gangguan tangan-tangan tak bertanggungjawab. “Demikian juga dengan hewan-hewan jangan dibiarkan keliaran supaya tidak merusak lahan tambak,” harapnya.

Marthen Dira Tome juga meminta kepada 103 orang karyawan tambak di Desa Bodae yang telah diangkat menjadi tenaga kontrak Pemda agar tetap bekerja dengan tenang dan menjaga keselamatan tambak. Selain itu, para pekerja juga harus berusaha untuk meningkatkan produksi dan menjaga kualitas garam karena berkaitan langsung dengan pasar. “Berkaitan dengan laporan bahwa adanya orang-orang atau oknum yang mungkin punya kepentingan politik yang datang memprovokasi bahwa tambak mubazir, garam masih muda, Lokasi tidak cocok karna angin kencang, kalian anggap saja sebagai anjing yang sedang melolong,” tandas Dira Tome.

Marthen Dira Tome menegaskan, oknum yang datang menebar isu tentang tambak garam tidak mengerti apa yang sedang dibuat oleh Pemerintah saat ini. “Semua yang kita lakukan telah melalui perencanaan yang panjang dan kita menggunakan tenaga ahli bukan mendengar kata orang dipinggir jalan, sekali lagi kalau mereka datang lagi diusir saja dari tempat ini, mereka bukan org yang pantas  untuk didengar,” katanya.

Bupati juga menegaskan kepada para kontraktor yang mengerjakan tambak garam untuk secepatnya menyelsaikan pekerjaan mereka. Kepada masyarakat dia berpesan untuk selalu waspada. Sebab bisa saja ada oknum yang tidak bertanggungjawab datang kelokasi tambak garam lalu membuat kejahatan yang nanti bermuara pada bermasalahnya produksi dipasar. “Karena itu saya minta awasi mereka yang datang. Orang frustrasi seperti mereka bisa saja berbuat hal konyol untuk kepentingan sesaat,” tandas Dira Tome. (joey rihi ga)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar