Kamis, 27 Agustus 2015

Mendayung Diantara Dua Karang


Marthen Dira Tome sedang membeli semangka milik petani di Desa Lobodei, Sabu Timur

Kabupaten Sabu Raijua, memiliki tiga pulau yang kasat mata yakni Pulau Sabu, Pulau Raijua, Pulau Ndana dan satu pulau tidak kasat mata yakni pulau kelara. Karena tak kasat mata, maka pulau Kelara menjadi pulau mitos bagi orang Sabu Raijua. Hanya dua pulau yang memiliki penduduk yakni Sabu dan Raijua. Dua pulau karang yang dipisahkan sebuah selat yang ganas, yakni selat Raijua. Kondisi wilayahnya tidak jauh berbeda, pulau semi arit dan dipenuhi karang.

Bupati Sabu Raijua Marthen Dira Tome dan wakilnya, Nikodemus Rihi Heke harus mampu mendayung diantara dua karang ini untuk membawa masyarakatnya menuju kabupaten yang maju, inovatis dan bermartabat sesuai dengan visi yang mereka emban selama memabngun lima tahun di Sabu Raijua. Jika mereka tidak lihai berkelok cantik diatara dua karang ini serta mampu menerjang selat yang memisahkan Sabu dan Raijua, maka akan mustahil jika perahu yang mereka nahkodai akan berlabuh dipelabuhan kesejahteraan.

Kabupaten Sabu Raijua memiliki Luas Wilayah  46.084,50 Hektar dan Luas Laut ,  136.954,74 Hektar dengan panjang garis pantai  kurang lebih 134.356,66 Mil. Sesuai data kependudukan pada Januari 2015, jumlah penduduk Sabu Raijua saat ini sebesar 105.000 Garis pantai yang cukup panjang dan luas laut yang demikian luas menjadi potensi potensi bagi pemerintah untuk menggerakkkan sektor kelautan. Walaupun orang Sabu Raijua dikenal sebagai pelaut yang handal, namun mereka belum mampu melihat potensi laut yang dimiliki.

Dulu, orang Raijua hanya terkenal dengan tikar pandannya, namun dengan intervensi pemerintah lewat budidaya rumput laut membuat mereka beralihtidak saja dari seorang penganyam tikar pandan tapi juga menjauhkan mereka dari kasarnya batang lontar untuk menghasilkan nira dan gula. Marthen Dira Tome menyadari bahwa Raijua adalah bagian tak terpisahkan dari pulau Sabu, sehingga geliat untuk meningkatkan perekonomian masyarakat disama ratakan dengan pulau Sabu. Bantuan stimulan berupa tali dan bibit diberikan bagi petani rumput laut secara Cuma-Cuma.

“Sekarang mencari orang yang mau menganyam tikar pandan sudah sulit di Raijua, karena semua orang sudah turun ke luat untuk bidaya rumput laut. Dulu, hampir tiap rumah ada kebun pandan, tapi sekarang mereka tidak lagi menanam pandan,” kata Melkianus Boni kepada seputar NTT di pelabuhan Seba.

Tak bisa dipungkiri bahwa rumput laut telah merubah hidup orang Raijua, mereka bisa membangun rumhat yang layak hingga permanen. Mereka juga bisa membeli sepeda motor dan televise serta antenna parabola. Dulu kendaraan roda dua di Raijua bisa dihitung dengan jari, tapi sekarang, hamper tiap rumah petani rumput laut ada sepeda motor. Demikian juga dengan mobil, dulu hanya mobil camat dan ambulans, tapi sekarang ada juga mobil pribadi yang meramaikan jalanan di Raijua. Itu pertanda eknomi mereka terus mengalami peningkatan.

Melihat rumput laut telah menjadi sumber pengahsilan yang merubah taraf hidup masyarakat, maka pemerintah melakukan pembangunan sarana pendukung seperti jalan, listrik maupun sarana air bersih. Katika Dira Tome memegang pucuk pimpinan di Sabu Raijua, dia dengan segera mengalihkan mesin pembangkit listrik PLN dari Sabu Timur menuju Raijua. Tidak sampai disitu saja, rumah warga yang tidak dijangkau jaringan, juga dipasang pembangkit listrik tenaga surya atau solar cell.
“Kami sangat merasakan apa yang sudah dilakukan oleh Pak Bupati untuk kami masyarakat di Raijua. Dulu saya jual rokok dipinggir jalan di Kupang, tapi tidak ada perubahan hidup. Ketika saya kembali ke Raijua dan menekuni budidaya rumput laut, sekarang saya bisa bangun rumah, bisa beli sepeda motor dan kasih sekolah anak di Kupang,” ungkap Gere Bora.

Untuk memenuhi kebutuhan air, Bupati sendiri yang memasang selang sepanjang 6,7 kilometer dari mata air di puncak pulau Raijua untuk dibawa ke perumahan warga. Melihat Raijua yang terus bergeliat, maka secara otomatis, transportasi kesana juga semakin meningkat walaupun hanya perahu rakyat. Memang kadang juga ada kapal perintis meilik PELNI yang sesekali menyinggahi dermaga Namo di Desa Ledeunu, Raijua. Para pemuda/I yang selama ini selalu eksodus keluar pulau seperti ke Flores dan Sumba, akhirnya memilih tetap mengais rupiah di pulaunya sendiri.

Hal yang sama juga dilakukan di pulau Sabu yang jumlah penduduknya sepuluh kali lipat penduduk Raijua. Bagi orang yang membandingkan kemajuan di Sabu dengan daerah lain di NTT seperti Kota Kupang, memang tidak melihat perubahan yang signifikan. Namun, bagi mereka yang hari-harinya diabiskan di pulau Sabu, bisa melihat secara jelas dan nyata, apa saja perubahan dan geliat pembangunan di Sabu sebelum menjadi kabupaten otonom. Tidak adil memang, jika orang membandingka Sabu yang baru berumur Balita menjadi daerah otonom dengan kota lian yang sudah berusia renta di NTT.

Marthen Dira Tome mengatakan, pembangunan yang dilakukan di Sabu Raijua selama masa kepemimpinan lima tahun pertama bersama Wakil Bupati Nikodemus Rihi Heke bertujuan melepaskan masayarakat dari krisis pangan. Salah satu program yang menjadi primadona sejak awal kepemimpinan ialah membangun Kebun Rakyat Mandiri. "Sekarang kebun rakyat mandiri telah memberikan dampak yang sangat luar biasa bagi pemenuhan pangan masyarakat," ujarnya.

Kebun rakyat mandiri ialah program menanam di musim kemarau memanfaatkan air dari sumber yang ada. Program ini digelar di berbagai lokasi di enam kecamatan. Kini wilayah yang dulunya gersang, sudah berubah menjadi hijau dengan tanaman seperti jagung, kacang hijau, sayuran, dan bawang. Ratusan embung sedang dibangun dimapir semua pelosok demi menujang program kebun rakyat mandiri. Dia sadar bahwa dengan air yang cukup, akan memberi motivasi bagi para petani untuk terus menanam sehingga mampu memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Kehadiran kebun rakyat mandiri di Kecamatan Liae misalnya,  telah merubah pemikiran masyarakat yang selama ini berpikir bahwa bahwa masyarakat Liae hanya mampu membuat kerajinan periuk tanah dan mengolah garam. Pasalnya lahan yang sebelumnya tandus telah berubah jadi kebun yang didalamnya tumbuh subur beragam tanaman pertanian.

Marthen tak pernah lelah berkunjung dari satu desa ke desa lainnya untuk memantau apa yang dikerjakan para petani sekaligus mendengar keluhan masyarakat terkait berbagai persoalan, entah berhubungan dengan kebun rakyat mandiri atau program pembangunan lainnya.  Dengan demikian, ancaman kekurangan pangan yang sering muncul pada kemarau, sekarang secara perlahan berhasil dientaskan. “Bagi saya, masyarakat sejahtera ialah yang mandiri pangan," tandasnya. 

Mengukur kemandirian pangan masyarakat di Kabupaten Sabu Raijua bisa dilihat perluasan areal dan peningkatan produksi dari tahun ke tahun. Untuk komoditas bawang, total produksi pada 2014 mencapai 259,84 ton dari luas lahan 27,4 hektare (ha). Produksi sebesar itu meningkat dari tahun 2013 sebesar 70 ton dari luas lahan 10 ha. Tahun 2012, produksi bawang di daerah itu hanya 14 ton dari luas lahan dua ton, dan tahun 2011 hanya 10,6 ton dari luas lahan 1,51 ha

Kini Marthen Dira Tome dan Nikodemus Rihi Heke telah lolos mendayung diantara dua karang. Kapal yang mereka nahkodai tidak karam oleh gelombang kemiskinan dan keterbelakangan. Kini jika rakyat Sabu Raijua memberi mereka kesempatan lagi pada Pilkada tanggal 9 Desember 2014 nanti, maka mereka telah siap mengembangkan layar, membelah samudera biru untuk menuju pelabuhan yang inovatif, maju dan bermartabat sesuai visi paket Mandiri. (joey rihi ga)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar