![]() |
| Marthen Dira Tome sedang membeli semangka milik petani di Desa Lobodei, Sabu Timur |
Kabupaten
Sabu Raijua, memiliki tiga pulau yang kasat mata yakni Pulau Sabu, Pulau
Raijua, Pulau Ndana dan satu pulau tidak kasat mata yakni pulau kelara. Karena
tak kasat mata, maka pulau Kelara menjadi pulau mitos bagi orang Sabu Raijua.
Hanya dua pulau yang memiliki penduduk yakni Sabu dan Raijua. Dua pulau karang
yang dipisahkan sebuah selat yang ganas, yakni selat Raijua. Kondisi wilayahnya
tidak jauh berbeda, pulau semi arit dan dipenuhi karang.
Bupati Sabu Raijua
Marthen Dira Tome dan wakilnya, Nikodemus Rihi Heke harus mampu mendayung
diantara dua karang ini untuk membawa masyarakatnya menuju kabupaten yang maju,
inovatis dan bermartabat sesuai dengan visi yang mereka emban selama memabngun
lima tahun di Sabu Raijua. Jika mereka tidak lihai berkelok cantik diatara dua
karang ini serta mampu menerjang selat yang memisahkan Sabu dan Raijua, maka
akan mustahil jika perahu yang mereka nahkodai akan berlabuh dipelabuhan
kesejahteraan.
Kabupaten Sabu Raijua
memiliki Luas Wilayah 46.084,50 Hektar dan Luas Laut , 136.954,74 Hektar
dengan panjang garis pantai kurang lebih
134.356,66 Mil. Sesuai data
kependudukan pada Januari 2015, jumlah penduduk Sabu Raijua saat ini sebesar
105.000 Garis pantai yang cukup panjang dan luas laut yang demikian luas
menjadi potensi potensi bagi pemerintah untuk menggerakkkan sektor kelautan.
Walaupun orang Sabu Raijua dikenal sebagai pelaut yang handal, namun mereka
belum mampu melihat potensi laut yang dimiliki.
Dulu, orang Raijua
hanya terkenal dengan tikar pandannya, namun dengan intervensi pemerintah lewat
budidaya rumput laut membuat mereka beralihtidak saja dari seorang penganyam
tikar pandan tapi juga menjauhkan mereka dari kasarnya batang lontar untuk
menghasilkan nira dan gula. Marthen Dira Tome menyadari bahwa Raijua adalah
bagian tak terpisahkan dari pulau Sabu, sehingga geliat untuk meningkatkan
perekonomian masyarakat disama ratakan dengan pulau Sabu. Bantuan stimulan
berupa tali dan bibit diberikan bagi petani rumput laut secara Cuma-Cuma.
“Sekarang mencari orang
yang mau menganyam tikar pandan sudah sulit di Raijua, karena semua orang sudah
turun ke luat untuk bidaya rumput laut. Dulu, hampir tiap rumah ada kebun
pandan, tapi sekarang mereka tidak lagi menanam pandan,” kata Melkianus Boni
kepada seputar NTT di pelabuhan Seba.
Tak bisa dipungkiri
bahwa rumput laut telah merubah hidup orang Raijua, mereka bisa membangun
rumhat yang layak hingga permanen. Mereka juga bisa membeli sepeda motor dan
televise serta antenna parabola. Dulu kendaraan roda dua di Raijua bisa
dihitung dengan jari, tapi sekarang, hamper tiap rumah petani rumput laut ada
sepeda motor. Demikian juga dengan mobil, dulu hanya mobil camat dan ambulans,
tapi sekarang ada juga mobil pribadi yang meramaikan jalanan di Raijua. Itu
pertanda eknomi mereka terus mengalami peningkatan.
Melihat rumput laut
telah menjadi sumber pengahsilan yang merubah taraf hidup masyarakat, maka
pemerintah melakukan pembangunan sarana pendukung seperti jalan, listrik maupun
sarana air bersih. Katika Dira Tome memegang pucuk pimpinan di Sabu Raijua, dia
dengan segera mengalihkan mesin pembangkit listrik PLN dari Sabu Timur menuju
Raijua. Tidak sampai disitu saja, rumah warga yang tidak dijangkau jaringan,
juga dipasang pembangkit listrik tenaga surya atau solar cell.
“Kami sangat merasakan
apa yang sudah dilakukan oleh Pak Bupati untuk kami masyarakat di Raijua. Dulu
saya jual rokok dipinggir jalan di Kupang, tapi tidak ada perubahan hidup.
Ketika saya kembali ke Raijua dan menekuni budidaya rumput laut, sekarang saya
bisa bangun rumah, bisa beli sepeda motor dan kasih sekolah anak di Kupang,”
ungkap Gere Bora.
Untuk memenuhi
kebutuhan air, Bupati sendiri yang memasang selang sepanjang 6,7 kilometer dari
mata air di puncak pulau Raijua untuk dibawa ke perumahan warga. Melihat Raijua
yang terus bergeliat, maka secara otomatis, transportasi kesana juga semakin
meningkat walaupun hanya perahu rakyat. Memang kadang juga ada kapal perintis
meilik PELNI yang sesekali menyinggahi dermaga Namo di Desa Ledeunu, Raijua.
Para pemuda/I yang selama ini selalu eksodus keluar pulau seperti ke Flores dan
Sumba, akhirnya memilih tetap mengais rupiah di pulaunya sendiri.
Hal yang sama juga
dilakukan di pulau Sabu yang jumlah penduduknya sepuluh kali lipat penduduk
Raijua. Bagi orang yang membandingkan kemajuan di Sabu dengan daerah lain di
NTT seperti Kota Kupang, memang tidak melihat perubahan yang signifikan. Namun,
bagi mereka yang hari-harinya diabiskan di pulau Sabu, bisa melihat secara
jelas dan nyata, apa saja perubahan dan geliat pembangunan di Sabu sebelum
menjadi kabupaten otonom. Tidak adil memang, jika orang membandingka Sabu yang
baru berumur Balita menjadi daerah otonom dengan kota lian yang sudah berusia
renta di NTT.
Marthen Dira Tome mengatakan, pembangunan yang dilakukan di
Sabu Raijua selama masa kepemimpinan lima tahun pertama bersama Wakil Bupati
Nikodemus Rihi Heke bertujuan melepaskan masayarakat dari krisis pangan. Salah
satu program yang menjadi primadona sejak awal kepemimpinan ialah membangun
Kebun Rakyat Mandiri. "Sekarang kebun rakyat mandiri telah memberikan
dampak yang sangat luar biasa bagi pemenuhan pangan masyarakat," ujarnya.
Kebun rakyat mandiri ialah program menanam di musim kemarau memanfaatkan air dari sumber yang ada. Program ini digelar di berbagai lokasi di enam kecamatan. Kini wilayah yang dulunya gersang, sudah berubah menjadi hijau dengan tanaman seperti jagung, kacang hijau, sayuran, dan bawang. Ratusan embung sedang dibangun dimapir semua pelosok demi menujang program kebun rakyat mandiri. Dia sadar bahwa dengan air yang cukup, akan memberi motivasi bagi para petani untuk terus menanam sehingga mampu memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Kehadiran kebun rakyat mandiri di Kecamatan Liae misalnya, telah merubah pemikiran masyarakat yang selama ini berpikir bahwa bahwa masyarakat Liae hanya mampu membuat kerajinan periuk tanah dan mengolah garam. Pasalnya lahan yang sebelumnya tandus telah berubah jadi kebun yang didalamnya tumbuh subur beragam tanaman pertanian.
Marthen tak pernah lelah berkunjung dari satu desa ke desa lainnya untuk memantau apa yang dikerjakan para petani sekaligus mendengar keluhan masyarakat terkait berbagai persoalan, entah berhubungan dengan kebun rakyat mandiri atau program pembangunan lainnya. Dengan demikian, ancaman kekurangan pangan yang sering muncul pada kemarau, sekarang secara perlahan berhasil dientaskan. “Bagi saya, masyarakat sejahtera ialah yang mandiri pangan," tandasnya.
Kebun rakyat mandiri ialah program menanam di musim kemarau memanfaatkan air dari sumber yang ada. Program ini digelar di berbagai lokasi di enam kecamatan. Kini wilayah yang dulunya gersang, sudah berubah menjadi hijau dengan tanaman seperti jagung, kacang hijau, sayuran, dan bawang. Ratusan embung sedang dibangun dimapir semua pelosok demi menujang program kebun rakyat mandiri. Dia sadar bahwa dengan air yang cukup, akan memberi motivasi bagi para petani untuk terus menanam sehingga mampu memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Kehadiran kebun rakyat mandiri di Kecamatan Liae misalnya, telah merubah pemikiran masyarakat yang selama ini berpikir bahwa bahwa masyarakat Liae hanya mampu membuat kerajinan periuk tanah dan mengolah garam. Pasalnya lahan yang sebelumnya tandus telah berubah jadi kebun yang didalamnya tumbuh subur beragam tanaman pertanian.
Marthen tak pernah lelah berkunjung dari satu desa ke desa lainnya untuk memantau apa yang dikerjakan para petani sekaligus mendengar keluhan masyarakat terkait berbagai persoalan, entah berhubungan dengan kebun rakyat mandiri atau program pembangunan lainnya. Dengan demikian, ancaman kekurangan pangan yang sering muncul pada kemarau, sekarang secara perlahan berhasil dientaskan. “Bagi saya, masyarakat sejahtera ialah yang mandiri pangan," tandasnya.
Mengukur kemandirian pangan masyarakat di Kabupaten Sabu
Raijua bisa dilihat perluasan areal dan peningkatan produksi dari tahun ke
tahun. Untuk komoditas bawang, total produksi pada 2014 mencapai 259,84 ton
dari luas lahan 27,4 hektare (ha). Produksi sebesar itu meningkat dari tahun
2013 sebesar 70 ton dari luas lahan 10 ha. Tahun 2012, produksi bawang di
daerah itu hanya 14 ton dari luas lahan dua ton, dan tahun 2011 hanya 10,6 ton
dari luas lahan 1,51 ha
Kini Marthen Dira Tome dan Nikodemus
Rihi Heke telah lolos mendayung diantara dua karang. Kapal yang mereka nahkodai
tidak karam oleh gelombang kemiskinan dan keterbelakangan. Kini jika rakyat
Sabu Raijua memberi mereka kesempatan lagi pada Pilkada tanggal 9 Desember 2014
nanti, maka mereka telah siap mengembangkan layar, membelah samudera biru untuk
menuju pelabuhan yang inovatif, maju dan bermartabat sesuai visi paket Mandiri.
(joey rihi ga)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar