![]() |
| Marthen Dira Tome saat panen rumput laut di Pulau Raijua |
Sebelum
Presiden SBY bicara tentang blue economi atau ekonomi biru yang mengandalkan
sumberdaya kelautan sebagai sumber penghasilan, jauh sebelumnya Bupati Marthen
Dira Tome telah menerapkannya di Kabupaten Sabu Raijua. Pola pendekatan Amphibi
yang digelorakan untuk masyarakat Sabu Raijua bagaimana mengelola laut dan
darat telah di retas Marthen Dira Tome dan pasangannya, Nikodemus Rihi Heke
yang dikenal dengan Paket Mandiri.
Pola pendekatan Amphibi
adalah cara memberikan penyadaran kepada masyarakat bahwa ketika daratan tidak
bersahabat untuk memberikan penghasilan, maka semua harus turun ke luat,
demikian juga, jika lautan tidak lagi berteman, maka daratan akan menjadi
tempat yang aman untuk mencari hidup. Dengan pola pendekatan amphibi ini telah
menggenjok ekonomi masyarakat Sabu Raijua yang selama ini terlena dengan
kondisi yang selalu dianggap takdir.
Marthen Dira Tome
menyadari bahwa salah satu pemicu terjadinya kerawanan sosial dalam masyarakat
adalah faktor kesenjangan ekonomi dan kehidupan yang serba sulit. Banyak orang
yang stres dan pusing tujuh keliling jika didapur tidak lagi berasap dan saat
perut melilit tak tersisi, maka pelariannya akan mengarah kepada hal-hal yang
negatif. Itulah kenapa Paket Mndiri saat Pilkada lalu menempatkan salah satu
misi utama mereka adalah peningakatan ekonomi masyarakat.
Berkaca dari sumberdaya
alam di daratan yang tidak kaya, telah membuat Marthen Dira Tome harus
berpaling melihat birunya laut Sabu yang selama ini hanya terkenal dengan
ganasnya ombak dan luasnya wilayah laut. Secara tegas dia mengatakan bahwa
selama ini orang Sabu Raijua hanya cukup dengan berbangga akan ganasnya dan
luasnya laut Sabu sementara hasil buminya dikeruk oleh nelayan luar dengan cara
maling.
Pepatah orang Sabu yang
selalu dinyanyikan dalam syair Mata Mara
Dahi Unu Pala Dokehia seperti melecut jiwa Marthen Dira Tome. Dia tidak mau
orang sabu hanya mengais rejeki pada saat laut surut, dia mau orang Sabu harus
mampu mengelola setiap sumberdaya yang ada dalam laut. “Kita hanya bangga
dengan laut kita yang lusa dan ganas, sementara hasil kekeyaan laut kita
diambil oleh orang luar. Kita tidak mau hanya menjadi penonton, sehingga
berbagai bantuan kita berikan kepada nelayan, ”ungkap mrathen Dira Tome.
Menyadari hal ini, maka
berbagai bantuan diseting dalam anggaran oleh Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua.
Mulai dari bantuan perahu kecil hingga perahu besar dilengkapi dengan peralatan
penangakan yang modern. Hasilnya tidak mengecewakan, hal ini terbukti dengan
hasil tangkapan nelayan yang cukup bagus setelah dibantu dengan perahu dan
peralatan yang lebih modern.
Demikian juga dengan
geliat rumput laut di sepanjang pesisir pantai Sabu Raijua. Rumput laut menjadi
primadona penghasil rupiah bagi masyarakat. Dari data yang ada, sebanyak 388
kepala keluarga pembudidaya rumput laut mengitasi hampir seluruh seluruh
pesisir. Dari situ ada 10 ton rumput laut kering yang bisa diproduksi oleh
masyarakat di Sabu Raijua dari luas area budidaya 1.160 hektar lahan.
Geliat budidaya rumput
laut ini begitu tinggi lantaran bantuan pemerintah kepada para petani rumput
laut tidak sedkit, mulai dari tali hingga bibit unggul. Intervensi pemerintah
tidak hanya lewat bantuan, tapi juga pelatihan-pelatihan bagimana membudidaya
rumput laut secara modern. Bupati dan wakil bupati tidak pernah sungkan untuk
turun berbasah-basah dilaut ketika hendak melakukan panen maupun menanam bibit
bersama masyarakat.
“Sejak rumput laut di
Sabu mulai berkembang dengan bantuan dan pelatihan dari pemerintah lewat dinas
kelutan dan perikanan, maka menjadi petani rumput laut adalah pilihan kami saat
ini. Dari hasil rumput laut kami bisa bangun rumah dan bisa menyekolahkan
anak-anak dengan baik,” ungkap Mikael Ga Djami, petani rumput laut di Kelurahan
Limaggu Sabu Timur.
Melihat potensi rumput
laut yang begitu bagus di Kabupaten Sabu Raijua, maka Bupati Marthen Dira Tome
merancang anggaran untuk pembangunan Pabrik rumput laut di Kelurahan Limaggu
Sabu Timur yang kini gedungnya sudah berdiri megah. Dalam waktu tidak lama
lagi, mesin rumput laut sudah dipasang dan akan segera berpoduksi. Walupun
sempat bersitegang dengan DPRD mengenai anggaran pembangunan pabrik hingga
pengadaan mesin, namun tidak mengurungkan niat Bupati Marthen Dira Dira Tome
untuk pabrik rumput laut tetap jalan.
Tujuan pembangunan
rumput laut, tidak hanya untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), tapi
juga untuk menghindarkan petani rumput laut dari para cukong dan lintah darat
yang seenak perut mereka mempermainkan harga rumput laut ditingkat petani.
Dengan mengolah rumput laut menjadi setengah jadi maka harga jual akan
berkali-kali lipat jika dibandingkan dengan hanya sekedar menjual rumput laut
kering keluar pulau Sabu Raijua.
Strategi samudera biru
dengan pola pendekatan amphibi untuk meningkatkan ekonomi masyarakat
dilanjutkan dengan pembangunan tambak garam. Bagi Marthen Dira Tome, panas
terik dan kemarau panjang selama 9 bulan di Sabu Raijua, adalah anugrah Tuhan
yang harus dikelola secara baik. Salah satu manfaat dari kemarau panjang dan
panas yang cukup luas biasa ini membuat Marthen Dira Tome berpikir untuk
mengembangkan garam di Sabu Raijua.
Untuk pengembangan
garam, Bupati langsung tancap gas dengan menggunakan teknologi geomembran.
Teknologi mutahir saat ini untuk memproduksi garam dalam jumlah yang banyak
sekalgus memikili kualitas yang sangat tinggi. Dimulai dari lahan dua hektar,
pada tahun 2014, tahun 2015 ini Pemerintah kemudian meningatkannya menjadi 121
hektar lahan. Dari satu hektar lahan bisa memproduksi 15 ton garam mentah dalam
kurun waktu 10 hari. Dengan demikian maka dalam sebulan, lahan satu hektar
mampu memproduksi 45 ton garam.
Jika dijual dengan
harga seribu rupiah saja per kilogram garam mentah maka bisa dihitung berapa
puluh ribu ton produksi dalam setahun. Lalu jika diolah menjadi garam beryodium
untuk dikomsumsi maka keuntungannya akan berkali lipat dan bermuara pada
peningatakan PAD yang luar biasa. Ini pula yang mendasari tujuan pemerintah
membangun pabrik garam beryoduim di Sabu Raijua sehingga bisa dijual dengan
harga yang bersaing. Inilah yang memicu Marthen Dira Tome untuk melakukan pengembangan
Garam di Sabu Raijua, karena selain hasil nya yang puith mengkristal,
kualitasnya juga sangat tinggi.
Hal ini sudah diakui
oleh Kepala Dinas Perirnustrian dan Perdagangan Provinsi NTT, Bruno Kupok pada
Koran Harian Timor Express terbitan Jumat 24 Mei 2015. Disitu dia mengatakan
bahwa garam rumah tangga terbaik di NTT adalah garam dari Sabu Raijua.
Sayangnya, pernyataan sang Kadis, seolah-olah tambak garam di Sabu adalah
anggaran dari Pemerintah Provinsi NTT, padah tidak ada satu rupiah pun dana
dari Pemerintah Provinsi NTT untuk mengembangan garam di Sabu Raijua. Semua
adalah uang di Kabupaten Sabu Raijua.
Tidak heran ketika
banyak pengusaha kini sudah memesan garam dari Pulau Sabu Raijua, padahal
kabupaten yang dianggap miskin ini tidak pernah dibantu oleh pemeritah pusat
sama seperti Kabupaten lain di NTT yang diberi bantuan namum hasilnya nihil.
Pemerintah Sabu Raijua telah melakukan inovasi bagimana mengolah potensi alam
dengan sumber dana sendiri. Karena itu,
tidak heran ketika, Kabupaten Alor harus telah melakukan studi banding tentang
pengelolaan tambak garam di Sabu Raijua. Sabu raijua sedang meratas sumbu Ilmu
pengetahuan bagi Kabupaten lain di NTT.
“Tidak hanya target PAD
yang akan meningkat, Tapi tujuan kita untuk membuka lapangan kerja untuk
anak-anak di daerah ini juga terbuka. Dengan mempekerjakan 10 orang untuk satu
hektar lahan tambak, maka dari 210 hektar lahan akan menyerap tenaga kerja
sebanyak 1.210 orang. Kita kasih mereka gaji yang cukup,” terang Marthen.
Ulasan diatas hanya
sebagaian dari apa yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua
bagimana mengelola potensi yang ada di laut. Lalu bagimana pemerintah mengelola
potensi yang ada di daratan? Langkah awal yang dilakukan adalah dengan
melakukan program kebun Rakyat Mandir. Kebun rakyat mandiri adalah menanam pada
musim kemarau dengan memanfaatkan setiap potensi air yang ada. Pemerintah
mendorong masyarakat untuk menanam tidak hanya pada musim hujan saja tapi juga
pada musim kemarau. Pemerintah kemudian membuat demplot di beberapa desa yang
potensi airnya bisa untuk menanam berbagai jenis tanaman Holtikultura.
Masyarakat dididik untuk bekerjasama dalam kelompok.
Setiap Kelompok kemudian dibantu dengan
benih, pupuk maupun peralatan pertanian seperti motor air dan selang.
Masyarakat hanya tinggal kerja saja. Pemerintah juga ikut menanam dikebun
masyarakat sehingga benar-benar mampu memberi dorongan dan motivasi bagi para
petani. Ketika masyarakat melihat hasil tanam pada musim kemarau tidak kalah
dengan hasil panen pada musim hujan, mereka lalu beramai-ramai meminta bantuan
kepada pemerintah.
Selain menanam jagung dan sayur-sayuran,
pada tahun 2014 ini, masyarakat di Sabu Raijua sudah ramai-ramai menanam bawang
merah pada musim kemarau dan hasilnya cukup luar biasa, ratusan ton berhasil
dipanen oleh masyarakat di berbagai desa
di Sabu Raijua. Jangan heran jika saat ini bawang dari Sabu Raijua sudah
merambah ke Kupang, Sumba dan Pulau Flores. Itu karena hasil panen mereka sangat
banyak. Setiap ada kapal ferry yang berlayar dari pulau Sabu maka ada puluhan
ton bawang yang diangkut keluar.
Bupati Sabu Raijua marthen Dira Tome,
seperti tak lelah berkeliling dari satu desa ke desa lain untuk memantau para
petani serta memberi mereka motivasi. Dengan menjadi petani yang baik dan
berhasil kata Bupati, maka keinginan untuk menjadi PNS tidak lagi menjadi
prioritas utama dalam rangka memperoleh pekerjaan.
"Memilih menjadi petani itu bukan
hal yang buruk, sebab dengan menjadi petani yang berhasil maka tingkat
kehidupan mereka juga tidak kalah dengan seorang PNS. Petani bukan pekerjaan
kelas dua sehingga orang tidak mau melirik pertanian sebagai sumber
penghasilan. Tinggal saja bagaimana merubah pola pikir masyarakat serta
menumbuhkan kesadaran mereka bahwa memilih menjadi petani bukan pekerjaan kelas
dua. Dengan demikian kita bersama-sama mengusir kemiskinan dari daerah
ini"pungkas Bupati. (joey rihi ga)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar