Kamis, 27 Agustus 2015

Strategi Amphibi Ala Mandiri


Marthen Dira Tome saat panen rumput laut di Pulau Raijua

Sebelum Presiden SBY bicara tentang blue economi atau ekonomi biru yang mengandalkan sumberdaya kelautan sebagai sumber penghasilan, jauh sebelumnya Bupati Marthen Dira Tome telah menerapkannya di Kabupaten Sabu Raijua. Pola pendekatan Amphibi yang digelorakan untuk masyarakat Sabu Raijua bagaimana mengelola laut dan darat telah di retas Marthen Dira Tome dan pasangannya, Nikodemus Rihi Heke yang dikenal dengan Paket Mandiri. 


Pola pendekatan Amphibi adalah cara memberikan penyadaran kepada masyarakat bahwa ketika daratan tidak bersahabat untuk memberikan penghasilan, maka semua harus turun ke luat, demikian juga, jika lautan tidak lagi berteman, maka daratan akan menjadi tempat yang aman untuk mencari hidup. Dengan pola pendekatan amphibi ini telah menggenjok ekonomi masyarakat Sabu Raijua yang selama ini terlena dengan kondisi yang selalu dianggap takdir.

Marthen Dira Tome menyadari bahwa salah satu pemicu terjadinya kerawanan sosial dalam masyarakat adalah faktor kesenjangan ekonomi dan kehidupan yang serba sulit. Banyak orang yang stres dan pusing tujuh keliling jika didapur tidak lagi berasap dan saat perut melilit tak tersisi, maka pelariannya akan mengarah kepada hal-hal yang negatif. Itulah kenapa Paket Mndiri saat Pilkada lalu menempatkan salah satu misi utama mereka adalah peningakatan ekonomi masyarakat.

Berkaca dari sumberdaya alam di daratan yang tidak kaya, telah membuat Marthen Dira Tome harus berpaling melihat birunya laut Sabu yang selama ini hanya terkenal dengan ganasnya ombak dan luasnya wilayah laut. Secara tegas dia mengatakan bahwa selama ini orang Sabu Raijua hanya cukup dengan berbangga akan ganasnya dan luasnya laut Sabu sementara hasil buminya dikeruk oleh nelayan luar dengan cara maling.

Pepatah orang Sabu yang selalu dinyanyikan dalam syair Mata Mara Dahi Unu Pala Dokehia seperti melecut jiwa Marthen Dira Tome. Dia tidak mau orang sabu hanya mengais rejeki pada saat laut surut, dia mau orang Sabu harus mampu mengelola setiap sumberdaya yang ada dalam laut. “Kita hanya bangga dengan laut kita yang lusa dan ganas, sementara hasil kekeyaan laut kita diambil oleh orang luar. Kita tidak mau hanya menjadi penonton, sehingga berbagai bantuan kita berikan kepada nelayan, ”ungkap mrathen Dira Tome.

Menyadari hal ini, maka berbagai bantuan diseting dalam anggaran oleh Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua. Mulai dari bantuan perahu kecil hingga perahu besar dilengkapi dengan peralatan penangakan yang modern. Hasilnya tidak mengecewakan, hal ini terbukti dengan hasil tangkapan nelayan yang cukup bagus setelah dibantu dengan perahu dan peralatan yang lebih modern.

Demikian juga dengan geliat rumput laut di sepanjang pesisir pantai Sabu Raijua. Rumput laut menjadi primadona penghasil rupiah bagi masyarakat. Dari data yang ada, sebanyak 388 kepala keluarga pembudidaya rumput laut mengitasi hampir seluruh seluruh pesisir. Dari situ ada 10 ton rumput laut kering yang bisa diproduksi oleh masyarakat di Sabu Raijua dari luas area budidaya 1.160 hektar lahan.

Geliat budidaya rumput laut ini begitu tinggi lantaran bantuan pemerintah kepada para petani rumput laut tidak sedkit, mulai dari tali hingga bibit unggul. Intervensi pemerintah tidak hanya lewat bantuan, tapi juga pelatihan-pelatihan bagimana membudidaya rumput laut secara modern. Bupati dan wakil bupati tidak pernah sungkan untuk turun berbasah-basah dilaut ketika hendak melakukan panen maupun menanam bibit bersama masyarakat.

“Sejak rumput laut di Sabu mulai berkembang dengan bantuan dan pelatihan dari pemerintah lewat dinas kelutan dan perikanan, maka menjadi petani rumput laut adalah pilihan kami saat ini. Dari hasil rumput laut kami bisa bangun rumah dan bisa menyekolahkan anak-anak dengan baik,” ungkap Mikael Ga Djami, petani rumput laut di Kelurahan Limaggu Sabu Timur.

Melihat potensi rumput laut yang begitu bagus di Kabupaten Sabu Raijua, maka Bupati Marthen Dira Tome merancang anggaran untuk pembangunan Pabrik rumput laut di Kelurahan Limaggu Sabu Timur yang kini gedungnya sudah berdiri megah. Dalam waktu tidak lama lagi, mesin rumput laut sudah dipasang dan akan segera berpoduksi. Walupun sempat bersitegang dengan DPRD mengenai anggaran pembangunan pabrik hingga pengadaan mesin, namun tidak mengurungkan niat Bupati Marthen Dira Dira Tome untuk pabrik rumput laut tetap jalan.

Tujuan pembangunan rumput laut, tidak hanya untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), tapi juga untuk menghindarkan petani rumput laut dari para cukong dan lintah darat yang seenak perut mereka mempermainkan harga rumput laut ditingkat petani. Dengan mengolah rumput laut menjadi setengah jadi maka harga jual akan berkali-kali lipat jika dibandingkan dengan hanya sekedar menjual rumput laut kering keluar pulau Sabu Raijua.

Strategi samudera biru dengan pola pendekatan amphibi untuk meningkatkan ekonomi masyarakat dilanjutkan dengan pembangunan tambak garam. Bagi Marthen Dira Tome, panas terik dan kemarau panjang selama 9 bulan di Sabu Raijua, adalah anugrah Tuhan yang harus dikelola secara baik. Salah satu manfaat dari kemarau panjang dan panas yang cukup luas biasa ini membuat Marthen Dira Tome berpikir untuk mengembangkan garam di Sabu Raijua.

Untuk pengembangan garam, Bupati langsung tancap gas dengan menggunakan teknologi geomembran. Teknologi mutahir saat ini untuk memproduksi garam dalam jumlah yang banyak sekalgus memikili kualitas yang sangat tinggi. Dimulai dari lahan dua hektar, pada tahun 2014, tahun 2015 ini Pemerintah kemudian meningatkannya menjadi 121 hektar lahan. Dari satu hektar lahan bisa memproduksi 15 ton garam mentah dalam kurun waktu 10 hari. Dengan demikian maka dalam sebulan, lahan satu hektar mampu memproduksi 45 ton garam.

Jika dijual dengan harga seribu rupiah saja per kilogram garam mentah maka bisa dihitung berapa puluh ribu ton produksi dalam setahun. Lalu jika diolah menjadi garam beryodium untuk dikomsumsi maka keuntungannya akan berkali lipat dan bermuara pada peningatakan PAD yang luar biasa. Ini pula yang mendasari tujuan pemerintah membangun pabrik garam beryoduim di Sabu Raijua sehingga bisa dijual dengan harga yang bersaing. Inilah yang memicu Marthen Dira Tome untuk melakukan pengembangan Garam di Sabu Raijua, karena selain hasil nya yang puith mengkristal, kualitasnya juga sangat tinggi.

Hal ini sudah diakui oleh Kepala Dinas Perirnustrian dan Perdagangan Provinsi NTT, Bruno Kupok pada Koran Harian Timor Express terbitan Jumat 24 Mei 2015. Disitu dia mengatakan bahwa garam rumah tangga terbaik di NTT adalah garam dari Sabu Raijua. Sayangnya, pernyataan sang Kadis, seolah-olah tambak garam di Sabu adalah anggaran dari Pemerintah Provinsi NTT, padah tidak ada satu rupiah pun dana dari Pemerintah Provinsi NTT untuk mengembangan garam di Sabu Raijua. Semua adalah uang di Kabupaten Sabu Raijua.

Tidak heran ketika banyak pengusaha kini sudah memesan garam dari Pulau Sabu Raijua, padahal kabupaten yang dianggap miskin ini tidak pernah dibantu oleh pemeritah pusat sama seperti Kabupaten lain di NTT yang diberi bantuan namum hasilnya nihil. Pemerintah Sabu Raijua telah melakukan inovasi bagimana mengolah potensi alam dengan sumber dana sendiri.  Karena itu, tidak heran ketika, Kabupaten Alor harus telah melakukan studi banding tentang pengelolaan tambak garam di Sabu Raijua. Sabu raijua sedang meratas sumbu Ilmu pengetahuan bagi Kabupaten lain di NTT.

“Tidak hanya target PAD yang akan meningkat, Tapi tujuan kita untuk membuka lapangan kerja untuk anak-anak di daerah ini juga terbuka. Dengan mempekerjakan 10 orang untuk satu hektar lahan tambak, maka dari 210 hektar lahan akan menyerap tenaga kerja sebanyak 1.210 orang. Kita kasih mereka gaji yang cukup,” terang Marthen.

Ulasan diatas hanya sebagaian dari apa yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua bagimana mengelola potensi yang ada di laut. Lalu bagimana pemerintah mengelola potensi yang ada di daratan? Langkah awal yang dilakukan adalah dengan melakukan program kebun Rakyat Mandir. Kebun rakyat mandiri adalah menanam pada musim kemarau dengan memanfaatkan setiap potensi air yang ada. Pemerintah mendorong masyarakat untuk menanam tidak hanya pada musim hujan saja tapi juga pada musim kemarau. Pemerintah kemudian membuat demplot di beberapa desa yang potensi airnya bisa untuk menanam berbagai jenis tanaman Holtikultura. Masyarakat dididik untuk bekerjasama dalam kelompok.

Setiap Kelompok kemudian dibantu dengan benih, pupuk maupun peralatan pertanian seperti motor air dan selang. Masyarakat hanya tinggal kerja saja. Pemerintah juga ikut menanam dikebun masyarakat sehingga benar-benar mampu memberi dorongan dan motivasi bagi para petani. Ketika masyarakat melihat hasil tanam pada musim kemarau tidak kalah dengan hasil panen pada musim hujan, mereka lalu beramai-ramai meminta bantuan kepada pemerintah.

Selain menanam jagung dan sayur-sayuran, pada tahun 2014 ini, masyarakat di Sabu Raijua sudah ramai-ramai menanam bawang merah pada musim kemarau dan hasilnya cukup luar biasa, ratusan ton berhasil dipanen oleh  masyarakat di berbagai desa di Sabu Raijua. Jangan heran jika saat ini bawang dari Sabu Raijua sudah merambah ke Kupang, Sumba dan Pulau Flores. Itu karena hasil panen mereka sangat banyak. Setiap ada kapal ferry yang berlayar dari pulau Sabu maka ada puluhan ton bawang yang diangkut keluar.

Bupati Sabu Raijua marthen Dira Tome, seperti tak lelah berkeliling dari satu desa ke desa lain untuk memantau para petani serta memberi mereka motivasi. Dengan menjadi petani yang baik dan berhasil kata Bupati, maka keinginan untuk menjadi PNS tidak lagi menjadi prioritas utama dalam rangka memperoleh pekerjaan.

"Memilih menjadi petani itu bukan hal yang buruk, sebab dengan menjadi petani yang berhasil maka tingkat kehidupan mereka juga tidak kalah dengan seorang PNS. Petani bukan pekerjaan kelas dua sehingga orang tidak mau melirik pertanian sebagai sumber penghasilan. Tinggal saja bagaimana merubah pola pikir masyarakat serta menumbuhkan kesadaran mereka bahwa memilih menjadi petani bukan pekerjaan kelas dua. Dengan demikian kita bersama-sama mengusir kemiskinan dari daerah ini"pungkas Bupati. (joey rihi ga)

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar