Kamis, 27 Agustus 2015

Membunuh Kegelapan Rai Hawu



Marthen Dira Tome saat memberi salam Cium Sabu kepada salah satu siswa SD
Harapan orang Sabu Raijua untuk menikmati listrik memang setinggi gunung. Pasalnya sejak merdeka 69 tahun silam hanya beberapa wilayah saja yang sudah menimati cahaya listrik dari PLN, sementara yang lainnya masih bergulat dalam kegelapan. Ketika siang bercahaya mentari, kala malam bermandikan cahaya rembulan.

Dulu Orang Sabu Raijua hanya menggunakan biji pohon nitas untuk media penerangan, namun ketika mereka sudah mengenal minyak tanah maka media itulah yang terus pakai hingga saat ini sebagai penerangan. Jika dulu ada rumah yang diterangi listrik itu bukan dari PLN tapi dari Genset yang dibeli masyarakat dengan hasil keringat menjual rumput laut. 

Tidak heran ketika PLN membuka jaringan yang menghubungkan Sabu Barat, Sabu Timur dan Mehara, masyarakat begitu antusias dan merelakan pohon mereka ditebang ketika tersentuh jaringan listrik. Nmaun bagimana dengan nasib masyarakat yang rumah tinggalnya jauh dari jaringan lantaran berada di atas bukit atau lembah? Ini yang menjadi perhatian pemerintah setempat untuk membawa terang kedalam rumah masyarakat.

Orang Sabu Raijua dikenal sebagai pelaut yang handal, mereka sudah mengembara ke pulau-pulau yang terang benderang oleh sinar listrik sehingga ketika pulang ke rumah dan hanya kegelapan yang ditemui, maka sinar purnama pun terlampau redup bagi mereka. Dalam kehidupan orang Sabu Raijua tidak pernah lepas dari upacara atau ritual adat, baik itu ritual yang sederhana hingga ritual adat yang sangat sakral.  

Ritual yang dilakukan adalah sebuah lambang penghormatan bagi para dewa yang mereka yakini telah melindungi dan memilihara kehidupan. Para dewa dalam kepercayaan jingitiu terdapat banyak dewa yang memiliki tugas masing-masing dalam menjaga dan melindungi manusia. Masing-masing dewa memiliki namanya sendiri-sendiri sesuai dengan tugas dan perannya menjaga manusia.
Ada dewa angin, dewa laut dewa hujan, dewa pertanian, dewa kemakmuran. Sayangnya orang Sabu Raijua tidak memiliki Deo (dewa) listrik sehingga mereka yang hidup jauh di pedalaman, tetap hidup dalam kegelapan. Lantas siapa yang akan menjadi dewa listrik bagi mereka yang hidup jauh di kampung nan sunyi?

Ketika Bupati Marthen Dira Tome mulai membantu mereka dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hati orang Sabu Raijua kian besar menyeruak diantara tulang rusuk yang kurang gisi. Upaya pemerintah dengan memberi bantuan PLTS bagi masyarakat supaya segera membunuh kegelapan yang telah berurat akar menyelimuti Pulau Sabu. Pasalnya jika menunggu jaringan PLN, akan memakan waktu yang lama. Rumah penduduk yang terletak di atas bukit dan berjauhan adalah alasan kenapa jaringan PLN sulit menjangkau mereka. Cara paling ampuh adalah dengan memberi cahaya dari PLTS.

“Bagaimana anak-anak sekolah bisa belajar dengan baik kalau tidak ditunjang dengan penarangan yang baik pula. Kalau kita menunggu jaringan PLN maka harapan masyarakat untuk segera menikmati listrik akan semakin jauh dari mimpi malam mereka,” kata Dira Tome.

Memang tidak bisa dipungkiri, sejak menjadi Kabupaten otonom, ekspansi jaringan PLN di Sabu Raijua semakin hari semakin besar seiring kebutuhan masyarakat. Namun itu masih sebatas bagi rumah warga yang ada di dekat jalan-jalan protokol dan belum jauh mamasuki pedalaman. Misalnya di sebagian desa Depe di Sabu Barat, masyarakatnya masih bergantung dengan lampu pijar. Inilah yang membuat pemerintah tidak bisa tinggal diam untuk membantu warga dengan penerangan.

Lihat saja kampung Mapipa saat ini, walau jauh dari jaringan PLN namun rumah mereka sudah terang benderang dengan lampu PLTS yang dibantu Pemerintah. Kegelapan yang salama ini menyelimuti kampung Mapipa lenyap bersama datangnya cahaya listrik. “Kegelapan itu selalu memancing kejahatan sehingga sudah menjadi tanggungjawab kita sebagai pemerintah untuk membantu masyarakat,” ujar Bupati Marthen Dira Tome.

Tidak bisa dipungkiri bahwa untuk membeli lempengan PLTS terlampau mahal bagi masyarakat, sehingga bantuan dan ururan tangan pemerintah sangat berarti buat mereka. “Kami memang sangat butuh PLTS untuk penerangan disini, sehingga bantuan pemerintah sangat kami harapkan,” kata Ridolf Kore Djara, warga Desa Depe, Sabu Barat ketika tambloid Seputar NTT berkunjung kesana.(joey rihi ga)








Tidak ada komentar:

Posting Komentar