![]() |
| Marthen Dira Tome saat memberi salam Cium Sabu kepada salah satu siswa SD |
Dulu Orang
Sabu Raijua hanya menggunakan biji pohon nitas untuk media penerangan, namun
ketika mereka sudah mengenal minyak tanah maka media itulah yang terus pakai hingga
saat ini sebagai penerangan. Jika dulu ada rumah yang diterangi listrik itu
bukan dari PLN tapi dari Genset yang dibeli masyarakat dengan hasil keringat
menjual rumput laut.
Tidak heran
ketika PLN membuka jaringan yang menghubungkan Sabu Barat, Sabu Timur dan
Mehara, masyarakat begitu antusias dan merelakan pohon mereka ditebang ketika
tersentuh jaringan listrik. Nmaun bagimana dengan nasib masyarakat yang rumah
tinggalnya jauh dari jaringan lantaran berada di atas bukit atau lembah? Ini
yang menjadi perhatian pemerintah setempat untuk membawa terang kedalam rumah
masyarakat.
Orang Sabu
Raijua dikenal sebagai pelaut yang handal, mereka sudah mengembara ke
pulau-pulau yang terang benderang oleh sinar listrik sehingga ketika pulang ke
rumah dan hanya kegelapan yang ditemui, maka sinar purnama pun terlampau redup
bagi mereka. Dalam kehidupan orang Sabu Raijua tidak pernah lepas dari upacara
atau ritual adat, baik itu ritual yang sederhana hingga ritual adat yang sangat
sakral.
Ritual yang
dilakukan adalah sebuah lambang penghormatan bagi para dewa yang mereka yakini
telah melindungi dan memilihara kehidupan. Para dewa dalam kepercayaan jingitiu
terdapat banyak dewa yang memiliki tugas masing-masing dalam menjaga dan
melindungi manusia. Masing-masing dewa memiliki namanya sendiri-sendiri sesuai
dengan tugas dan perannya menjaga manusia.
Ada dewa
angin, dewa laut dewa hujan, dewa pertanian, dewa kemakmuran. Sayangnya orang Sabu
Raijua tidak memiliki Deo (dewa) listrik sehingga mereka yang hidup jauh di
pedalaman, tetap hidup dalam kegelapan. Lantas siapa yang akan menjadi dewa listrik
bagi mereka yang hidup jauh di kampung nan sunyi?
Ketika Bupati
Marthen Dira Tome mulai membantu mereka dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya
(PLTS) hati orang Sabu Raijua kian besar menyeruak diantara tulang rusuk yang
kurang gisi. Upaya pemerintah dengan memberi bantuan PLTS bagi masyarakat
supaya segera membunuh kegelapan yang telah berurat akar menyelimuti Pulau
Sabu. Pasalnya jika menunggu jaringan PLN, akan memakan waktu yang lama. Rumah
penduduk yang terletak di atas bukit dan berjauhan adalah alasan kenapa
jaringan PLN sulit menjangkau mereka. Cara paling ampuh adalah dengan memberi
cahaya dari PLTS.
“Bagaimana
anak-anak sekolah bisa belajar dengan baik kalau tidak ditunjang dengan
penarangan yang baik pula. Kalau kita menunggu jaringan PLN maka harapan
masyarakat untuk segera menikmati listrik akan semakin jauh dari mimpi malam
mereka,” kata Dira Tome.
Memang tidak
bisa dipungkiri, sejak menjadi Kabupaten otonom, ekspansi jaringan PLN di Sabu
Raijua semakin hari semakin besar seiring kebutuhan masyarakat. Namun itu masih
sebatas bagi rumah warga yang ada di dekat jalan-jalan protokol dan belum jauh
mamasuki pedalaman. Misalnya di sebagian desa Depe di Sabu Barat, masyarakatnya
masih bergantung dengan lampu pijar. Inilah yang membuat pemerintah tidak bisa
tinggal diam untuk membantu warga dengan penerangan.
Lihat saja
kampung Mapipa saat ini, walau jauh dari jaringan PLN namun rumah mereka sudah
terang benderang dengan lampu PLTS yang dibantu Pemerintah. Kegelapan yang
salama ini menyelimuti kampung Mapipa lenyap bersama datangnya cahaya listrik.
“Kegelapan itu selalu memancing kejahatan sehingga sudah menjadi tanggungjawab
kita sebagai pemerintah untuk membantu masyarakat,” ujar Bupati Marthen Dira
Tome.
Tidak bisa
dipungkiri bahwa untuk membeli lempengan PLTS terlampau mahal bagi masyarakat,
sehingga bantuan dan ururan tangan pemerintah sangat berarti buat mereka. “Kami
memang sangat butuh PLTS untuk penerangan disini, sehingga bantuan pemerintah
sangat kami harapkan,” kata Ridolf Kore Djara, warga Desa Depe, Sabu Barat
ketika tambloid Seputar NTT berkunjung kesana.(joey rihi ga)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar