![]() |
| Panen Jagung di Desa Matei Kecamatan Sabu Tengah |
Rawan pangan selalu menjadi
hantu bagi masyarakat diwilayah Nusa Tenggara Timur. Saban tahun, ketika musim
kemarau datang selalu disertai dengan ancaman kelaparan atau rawan pangan.
Belum lagi masyarakat diberbagai tempat harus berjuang untuk mendapatkan air
karena musim kemarau yang senantiasa berdurasi panjang di NTT. Untuk mengusir
hantu rawan pangan di Kabupaten Sabu Raijua, Pemerintah setempat melakukan
program kebun rakyat mandiri yakni menanam pada musim kering dengan menggunakan
setiap potensi air yang ada.
Tahun pertama
menjabat sebagai Bupati dan Wakil Bupati, Marthen Dira Tome bersama Nikodemus
Rihi Heke, langsung mendorong masyarakat untuk menanam tidak hanya pada musim
hujan saja tapi juga pada musim kemarau. Pemerintah kemudian membuat demplot di
beberapa desa yang potensi airnya bisa untuk menanam berbagai jenis tanaman
Holtikultura. Masyarakat dididik untuk bekerjasama dalam kelompok.
Setiap Kelompok kemudian dibantu dengan benih, pupuk
maupun peralatan pertanian seperti motor air dan selang. Masyarakat hanya
tinggal kerja saja. Pemerintah juga ikut menanam dikebun masyarakat sehingga
benar-benar mampu memberi dorongan dan motivasi bagi para petani. Ketika
masyarakat melihat hasil tanam pada musim kemarau tidak kalah dengan hasil
panen pada musim hujan, mereka lalu beramai-ramai meminta bantuan kepada
pemerintah.
Memasuki tahun kedua pada tahun 2012, masyarakat
sudah beramai-ramai menanam dimusim kemarau. Ada yang menggunakan air dari
embung-embung, ada juga yang menggunakan air sungai serta air bawah tanah.
Kebun Rakyat menyebar di berbagai desa di enam kecamatan yang ada, apalagi
pemerintah juga membantu masyarakat mengolah tanah dengan traktor milik dinas
pertanian.
Ketua kelompok
tani di Desa Ledeana, Edison Haba Radja kepada koran ini mengatakan apa yang
dilakukan oleh pemerintah saat ini telah merubah pola pikir masyarakat bahwa
menjadi petani bukan profesi kelas dua dalam menghasilkan rupiah. Untuk itu
dirinya sangat berterimakasih kepada Pemerintah yang telah memberikan dorongan
secara penuh kepada masyarakat, sehingga lahan yang selama ini dibiarkan tidak
diolah pada musim kemarau, kini sudah bisa berproduksi.
“Kebiasaan
kami masyarakat di Sabu, kalau sudah musim panas hanya duduk-duduk saja atau
iris tuak, namun dengan adanya program kebun rakyat mandiri maka kami juga bisa
melaksanakannya dengan baik sekalipun kami sebagai petani pemula pada musim
kemarau tapi hasilnya cukup menggembirakan” ujarnya.
Menurutnya,
keberhasilan para petani dalam mengolah lahan pada musim kemarau lewat program
kebun rakyat mandiri ini tidak terlepas dari jerih payah para penyuluh
pertanian yang dengan setia mendampingi dan menolong para petani mulai dari
proses pengolahan lahan, saat menanam hingga masa panen. "Kita beri
aprisiasi kepada Pemerintah dalam hal ini pak Bupati, yang selalu datang
menengok kami dilapangan serta mau mendengar setiap kendala yang kami hadapi
dalam rangka mensukseskan program menanam pada musim kemarau ini,"katanya.
Diakuinya,
dalam menjalankan program tersebut Pemerintah lewat dinas teknis tidak hanya
memberi bantuan berupa peralatan, pupuk maupun obat-obatan. Namun Dinas teknis
melalui penyuluh pertanian selalu mendampingi masyarakat setiap saat sehingga
setiap kendala yang dihadapi langsung bisa diatasi. "Yang kita salut
adalah ketika kita mulai mengolah lahan ini Pemerintah sudah mengeluarkan
aturan soal penertiban ternak sehingga tanaman yang ada bisa aman. Memang masih
ada juga ternak yang keliaran tapi itu ternak dari desa lain. Kalau untuk Desa
Ledeana, semua ternak masyarakat sudah ditertibkan,"katanya.
Selain
menanam jagung dan sayur-sayuran, pada tahun 2014 ini, masyarakat di Sabu
Raijua sudah ramai-ramai menanam bawang merah pada musim kemarau dan hasilnya
cukup luar biasa, ratusan ton berhasil dipanen oleh masyarakat di berbagai desa di Sabu Raijua.
Jangan heran jika saat ini bawang dari Sabu Raijua sudah merambah ke Kupang,
Sumba dan Pulau Flores. Itu karena hasil panen mereka sangat banyak. Setiap ada
kapal ferry yang berlayar dari pulau Sabu maka ada puluhan ton bawang yang
diangkut keluar.
Bupati Sabu
Raijua marthen Dira Tome, seperti tak lelah berkeliling dari satu desa ke desa
lain untuk memantau para petani serta memberi mereka motivasi. Dengan menjadi
petani yang baik dan berhasil kata Bupati, maka keinginan untuk menjadi PNS
tidak lagi menjadi prioritas utama dalam rangka memperoleh pekerjaan.
"Memilih
menjadi petani itu bukan hal yang buruk, sebab dengan menjadi petani yang
berhasil maka tingkat kehidupan mereka juga tidak kalah dengan seorang PNS.
Petani bukan pekerjaan kelas dua sehingga orang tidak mau melirik pertanian
sebagai sumber penghasilan. Tinggal saja bagaimana merubah pola pikir
masyarakat serta menumbuhkan kesadaran mereka bahwa memilih menjadi petani bukan
pekerjaan kelas dua,"pungkas Bupati.
Kepala Dinas
Pertanian, Mansy R Koreh mengatakan, selain membantu masyarakat dengan bantuan bibit,
pupuk dan peralatan pertanian Dinas Pertanian melalui para penyuluh dilapangan
selalu memberi motivasi dan penyadaran-penyadaran kepada masyarakat bagaimana
meningkatkan produksi pertanian. Sebab berapapun bantuan yang diberikan oleh
pemerintah tapi masyarakatnya tidak memiliki kesadaran maka tidak akan memberi
hasil yang maksimal.
"Para
penyuluh lapangan sudah kita tekankan agar selalu dilapangan dan mendampingi
masyarakat. Dengan demikian, jika ada kesulitan-kesulitan dilapangan yang
dihadapi oleh para petani maka para penyuluh ini sudah bisa memberikan jalan
keluar atau menyampaikannya kepada Dinas untuk ditindaklanjuti," ungkap
Mansy. (joey)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar