Kamis, 27 Agustus 2015

Kebun Rakyat Mandiri, Obat Anti Rawan Pangan Di Sabu Raijua


Panen Jagung di Desa Matei Kecamatan Sabu Tengah

Rawan pangan selalu menjadi hantu bagi masyarakat diwilayah Nusa Tenggara Timur. Saban tahun, ketika musim kemarau datang selalu disertai dengan ancaman kelaparan atau rawan pangan. Belum lagi masyarakat diberbagai tempat harus berjuang untuk mendapatkan air karena musim kemarau yang senantiasa berdurasi panjang di NTT. Untuk mengusir hantu rawan pangan di Kabupaten Sabu Raijua, Pemerintah setempat melakukan program kebun rakyat mandiri yakni menanam pada musim kering dengan menggunakan setiap potensi air yang ada.
Tahun pertama menjabat sebagai Bupati dan Wakil Bupati, Marthen Dira Tome bersama Nikodemus Rihi Heke, langsung mendorong masyarakat untuk menanam tidak hanya pada musim hujan saja tapi juga pada musim kemarau. Pemerintah kemudian membuat demplot di beberapa desa yang potensi airnya bisa untuk menanam berbagai jenis tanaman Holtikultura. Masyarakat dididik untuk bekerjasama dalam kelompok.
                Setiap Kelompok kemudian dibantu dengan benih, pupuk maupun peralatan pertanian seperti motor air dan selang. Masyarakat hanya tinggal kerja saja. Pemerintah juga ikut menanam dikebun masyarakat sehingga benar-benar mampu memberi dorongan dan motivasi bagi para petani. Ketika masyarakat melihat hasil tanam pada musim kemarau tidak kalah dengan hasil panen pada musim hujan, mereka lalu beramai-ramai meminta bantuan kepada pemerintah.
                Memasuki tahun kedua pada tahun 2012, masyarakat sudah beramai-ramai menanam dimusim kemarau. Ada yang menggunakan air dari embung-embung, ada juga yang menggunakan air sungai serta air bawah tanah. Kebun Rakyat menyebar di berbagai desa di enam kecamatan yang ada, apalagi pemerintah juga membantu masyarakat mengolah tanah dengan traktor milik dinas pertanian.
Ketua kelompok tani di Desa Ledeana, Edison Haba Radja kepada koran ini mengatakan apa yang dilakukan oleh pemerintah saat ini telah merubah pola pikir masyarakat bahwa menjadi petani bukan profesi kelas dua dalam menghasilkan rupiah. Untuk itu dirinya sangat berterimakasih kepada Pemerintah yang telah memberikan dorongan secara penuh kepada masyarakat, sehingga lahan yang selama ini dibiarkan tidak diolah pada musim kemarau, kini sudah bisa berproduksi.
“Kebiasaan kami masyarakat di Sabu, kalau sudah musim panas hanya duduk-duduk saja atau iris tuak, namun dengan adanya program kebun rakyat mandiri maka kami juga bisa melaksanakannya dengan baik sekalipun kami sebagai petani pemula pada musim kemarau tapi hasilnya cukup menggembirakan” ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan para petani dalam mengolah lahan pada musim kemarau lewat program kebun rakyat mandiri ini tidak terlepas dari jerih payah para penyuluh pertanian yang dengan setia mendampingi dan menolong para petani mulai dari proses pengolahan lahan, saat menanam hingga masa panen. "Kita beri aprisiasi kepada Pemerintah dalam hal ini pak Bupati, yang selalu datang menengok kami dilapangan serta mau mendengar setiap kendala yang kami hadapi dalam rangka mensukseskan program menanam pada musim kemarau ini,"katanya.
Diakuinya, dalam menjalankan program tersebut Pemerintah lewat dinas teknis tidak hanya memberi bantuan berupa peralatan, pupuk maupun obat-obatan. Namun Dinas teknis melalui penyuluh pertanian selalu mendampingi masyarakat setiap saat sehingga setiap kendala yang dihadapi langsung bisa diatasi. "Yang kita salut adalah ketika kita mulai mengolah lahan ini Pemerintah sudah mengeluarkan aturan soal penertiban ternak sehingga tanaman yang ada bisa aman. Memang masih ada juga ternak yang keliaran tapi itu ternak dari desa lain. Kalau untuk Desa Ledeana, semua ternak masyarakat sudah ditertibkan,"katanya.
Selain menanam jagung dan sayur-sayuran, pada tahun 2014 ini, masyarakat di Sabu Raijua sudah ramai-ramai menanam bawang merah pada musim kemarau dan hasilnya cukup luar biasa, ratusan ton berhasil dipanen oleh  masyarakat di berbagai desa di Sabu Raijua. Jangan heran jika saat ini bawang dari Sabu Raijua sudah merambah ke Kupang, Sumba dan Pulau Flores. Itu karena hasil panen mereka sangat banyak. Setiap ada kapal ferry yang berlayar dari pulau Sabu maka ada puluhan ton bawang yang diangkut keluar.
Bupati Sabu Raijua marthen Dira Tome, seperti tak lelah berkeliling dari satu desa ke desa lain untuk memantau para petani serta memberi mereka motivasi. Dengan menjadi petani yang baik dan berhasil kata Bupati, maka keinginan untuk menjadi PNS tidak lagi menjadi prioritas utama dalam rangka memperoleh pekerjaan.
"Memilih menjadi petani itu bukan hal yang buruk, sebab dengan menjadi petani yang berhasil maka tingkat kehidupan mereka juga tidak kalah dengan seorang PNS. Petani bukan pekerjaan kelas dua sehingga orang tidak mau melirik pertanian sebagai sumber penghasilan. Tinggal saja bagaimana merubah pola pikir masyarakat serta menumbuhkan kesadaran mereka bahwa memilih menjadi petani bukan pekerjaan kelas dua,"pungkas Bupati.
Kepala Dinas Pertanian, Mansy R Koreh mengatakan, selain membantu masyarakat dengan bantuan bibit, pupuk dan peralatan pertanian Dinas Pertanian melalui para penyuluh dilapangan selalu memberi motivasi dan penyadaran-penyadaran kepada masyarakat bagaimana meningkatkan produksi pertanian. Sebab berapapun bantuan yang diberikan oleh pemerintah tapi masyarakatnya tidak memiliki kesadaran maka tidak akan memberi hasil yang maksimal.
"Para penyuluh lapangan sudah kita tekankan agar selalu dilapangan dan mendampingi masyarakat. Dengan demikian, jika ada kesulitan-kesulitan dilapangan yang dihadapi oleh para petani maka para penyuluh ini sudah bisa memberikan jalan keluar atau menyampaikannya kepada Dinas untuk ditindaklanjuti," ungkap Mansy. (joey)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar