![]() |
| Marthen Dira Tome sedang mendengar keluahan warganya |
Kesan Pertama ketika melihat Sabu Raijua, adalah dua Pulau Tandus
yang menyendiri di Selatan Indonesia. Kondisi alam yang keras membuat
masyarakatnya menjadi pengembara. Namun bagi Bupati Marthen Dira Tome dan
Nikodemus Rihi Heke, Sabu Raijua adalah Bongkahan Surga yang jatuh ke Bumi
untuk diurus hingga semua orang suatu kali kelak akan menuju kesana.
Tak pernah
Menyangka bahwa kini telah menjadi sebuah daerah Otonom setelah lebih dari
setengah abad Indonesia merdeka. Banyak pertentangan kala Sabu Raijua hendak
dipisah dari ibu kandungnya Kabupaten Kupang pada tahun 2008. Jauh dari sumbu
ibu kota dan rentang kendali yang cukup jauh dan harus menyeberangi samudera
adalah salah satu alasan kenapa Bupati Kupang, Ibrahim Agustinus Medah kala
itu, begitu ngotot agar Sabu Raijua harus menjadi daerah yang Mandiri. Mengatur
sendiri pembangunan dan mensejahterakan masyarakatnya.
Banyak yang
pesimis bahkan begitu ragu ketika daerah itu resmi menjadi daerah otonom.
Mereka yang menganggap diri kaum cendekiawan mulai berlontar kata bahwa
darimana PAD Sabu Raijua diperoleh dan bagaimana mereka bisa bertahan dengan
kondisi daerah yang sulit dan penuh tantangan. Namun semua rasa ragu dan kabut pesimis yang
begitu tebal, kini secara perlahan mulai sirna. Sabu Raijua yang dulu
dipertanyakan darimana asala PAD nya malah telah melewati beberapa kabupaten
yang umurnya jauh lebih tua. Tahun 2014 PAD Sabu Raijua mencapai angka Rp.26,8
miliar rupiah dari sebelumnya hanya 300 juta kala dipimpin Penjabat Bupati.
“Saya ingin Orang Sabu Raijua mampu berpikir melampaui apa yang
orang lain pikirkan dan mampu berbuat melampaui apa yang orang lain perbuat.
Dengan demikian mereka akan melihat bumi baru dan langit baru. Semua itu
tersirat dalam visi dan misi kami saat memipin daerah ini. Dengan moto orang
Sabu Raijua juga bisa saya ingin membakar semangat mereka bahwa kita mampu
melakukan segela sesuatu yang tidak pernah dipikirkan sebelumnya,” kata Marthen Dira Tome, kepada Seputar NTT.
Kabupaten
Sabu Raijua pada tahun 2014 ini menempati rangking 7 tingkat nasional dengan
skor 76,2 dari 36 DOB yang dibentuk pada tahun 2008 silam. Dengan skor ini maka
Kabupaten Sabu Raijua boleh bernafas lega karena bayang-bayang untuk bergabung
kembali dengan Kabupaten induk sudah terhapus.
Sebab jika skornya dibawah 60 atau terkategori buruk maka bukan hal yang
mustahil jika Sabu Raijua bisa bergabung kembali dengan Kabupaten Kupang
sebagai kabupaten induk.
“Jadi Setiap
tahun ada evaluasi dari Dirjen Otda terhadap DOB. Sabu Raijua termasuk dalam
DOB yang dibentuk pada tahun 2008-2009 bersama 35 DOB lain nya di Indonesia.
Hasil Evaluasi pada tahun 2014, Sabu Raijua menempati urutan ke-7 dengan skor
76,2. Saya kira ini kabar baik bagi masyarakat Sabu Raijua” ungkap Marthen.
Marthen
mengatakan, Sabu Raijua pernah diekspos oleh media bahwa termasuk dalam 5 DOB
terburuk hasil evaluasi Dirjen Otda, sehingga sempat menjadi isu negatif
ditengah masyarakat. Padahal apa yang diberitakan media kali lalu merupakan
hasil evaluasi ketika Sabu Raijua masih dijabat oleh seorang Penjabat Bupati.
Selama memimpin Sabu Raijua, kata Marthen, pihaknya terus berusaha meningkatkan
skor yang menjadi indikator penilaian bagi DOB oleh Dirjen Otda.
“Perlu kami
jelaskan bahwa saat itu Sabu Raijua hanya mendapatkan skor 40 ketika masih
dijabat oleh Penjabat Bupati, Thobias Uly, dimana hasil evaluasi itu pada tahun 2009-2010. Ketika kami
menjabat tahun 2011 kami berusaha meningkatkan skor tersebut menjadi 64,
kemudian naik menjadi 71 dan sekarang menjadi 76,2,” papar suami dari Ny Irna
Dira Tome ini.
Dia
memaparkan, untuk memperoleh hasil
evaluasi yang baik dari Dirjen Otda,
Pemerintah harus bekerja keras untuk mencapai berbagai indikator yang
akan dinilai. Indikator yang dinilai tersebut yakni meliputi peningkatan
infrastruktur, peningkatan ekonomi masyarakat, pelayanan publik serta sejumlah
indikator lainnya.
“Untuk itu
maka berbagai kebijakan serta terobosan telah kami lakukan di Sabu Raijua.
Bukan semata-mata untuk mengejar penilaian dari Dirjen Otda tapi bagaimana kami
menjawab setiap kebutuhan masyarakat dan daerah. Sebagai daerah otonomi baru
maka kerja keras harus kami lakukan, terutama bagaimana meningkatkan
perekonomian masyarakat,” tambahnya.
Marthen Dira
Tome mengatakan bahwa, penilaian buruk terhadap Daerah Otonom Baru harus menjadi
warning bagi Gubernur ketika hendak menempatkan seseorang menjadi penjabat
bupati. Sebab dua atau tiga tahun pertama ketika sebuah Kabupaten baru dijabat
seorang Penjabat akan dinilai oleh Kemendagri.
“Jangan heran
ketika sebuah daerah baru dinilai buruk karena penjabat yang ditempatkan tidak
tahu apa yang harus dia buat. Untuk itu ini adalah warning buat pak Gubernur
ketika hendak menempatkan seseorang menjadi penjabat bupati di daerah baru,”
pungkasnya.
Menurut
Marthen, meningkatnya skor hasil evaluasi tersebut karena adanya akselerasi
pembangunan yang dilakukan diberbagai bidang seperti infrastruktur, pendidikan,
ekonomi, kesehatan maupun pelayanan terhadap masyarakat. “Indikator ini yang
akan dinilai oleh Kemendagri lewat Dirjen Otda, apakah ada peningkatan atau
tidak. Indikator ini akan naik dengan sendirinya kalau kita bekerja bukan
berpangku tangan” ujarnya.
Tidak hanya
itu, pada saat Pemerintahan Marthen Dira Tome dan Nikodemus Rihi Heke
menjalankan pemerintahan setelah masa penjabat bupati Thobias Uly pada Januari
2011, Pendapatan Asli Daerah (PAD) waktu itu hanya sebesar Rp.300 juta. Namun
dengan kerja keras selama 4 tahun terkahir, kini PAD Sabu Raijua telah berada
di angka Rp.26,8 miliar rupiah. “Kita malah berada diatas Kabupaten lain yang lebih
dulu menjadi Kabupaten otonom,” pungkas Marthen.
Untuk itu
mari menghitung buah kecerdasan dan pucuk keberhasilan yang diletakkan Dira
Tome di Kabupaten Sabu Raijua. Dalam waktu 53 purnama, dia telah mendirikan
tiga pabrik sekaligus yang mana daerah lain masih tidur dan bermimpi. Ketiga
pabrik ini adalah pabrik garam, pabrik rumput laut dan pabrik air minum dalam
kemasan. “Ini adalah masa depan Sabu Raijua yang harus dikelola secara baik
sehingga mampu melakukan akselerasi dalam berbagai aspek,” Kata Marthen Dira
Tome kepada Seputar NTT di Seba.
Sebelum
pabrik ini dibangun, Pemerintah Sabu Raijua telah lebih dulu melihat potensi
yang dianggap sebelah mata oleh orang lain. Marthen Dira Tome bersama wakilnya
Nikodemus Rihi Heke telah berbasah-basah dengan para petani rumput laut dari
satu bibir pantai ke bibir pantai yang lainnya. Melihat potensi rumput laut
yang semakin meningkat dan animo masyarakat untuk membudidaya rumput laut ini
semakin besar, menambatkan pemikiran Dira Tome untuk membangun sebuah pabrik
rumput laut.
“Bagaimana
mungkin kita hanya menjual rumput laut dengan harga yang murah jika tidak
diolah. Dengan demikian maka kami membangun pabrik pengolahan rumput laut
sehingga dengan hasil olahan tersebut bisa dijual dengan harga tinggi,”
katanya.
Demikian juga
dengan pabrik garam, pemerintah Sabu Raijua lebih dulu melakukan uji coba
tambak garam dengan teknologi geomembran. Rupanya, panas terik yang membakar
Pulau Sabu selama 8 bulan merupakan berkat Tuhan bagi pulau itu. Dengan
panjangnya musum kemarau yang membakar bumi, membuat peluang mereka untuk
memproduksi garam semakin panjang.
Dengan hasil
produksi 45 ton sebulan dari satu hektar lahan saja, memicu semangat Dira
Tome-Rihi Heke untuk menjual garam tidak dalam bentuk mentah, tapi harus dalam
kemasan dan beryodium. Karena itulah lalu dibangun pabrik pengolahan garam.
Tahun 2015 ini ada 121 hektar tambak garam yang akan berproduksi, bisa-bisa
tanah di pulau Sabu menjadi asin.
“Dari sisi
PAD pasti akan meningkat jika semua lahan sudah berproduksi, disisi lain ada
1.210 tenaga kerja di tambak tersebut yang bisa kita kerjakan. PAD meningkat,
pengangguran menjadi kurang, sama seperti sekali mendayang, dua tiga pulau
terlampaui,” ungkap Marthen.
Pabrik air
kemasan yang dibangun di Kelurahan Limaggu juga bukan lahir dari sekedar mimpi
malam, tapi melalui kajian dan analisis terhadap kebutuhan masyarakat di Sabu
Raijua terhadap air kamasan yang begitu tinggi. Tidak heran berbagai merek air
minum dalam kemasan menyerbu Pulau Sabu yang memang panas. Jika Sabu Raijua
memiliki sendiri pabrik air minum dalam kemasan maka tidak ada lagi capital
fliht atau uang yang terbang keluar hanya karena perkara air minum. (joey rihi
ga)


