Kamis, 27 Agustus 2015

Dira Tome dan Bongkahan Surga Bernama Sabu Raijua


Marthen Dira Tome sedang mendengar keluahan warganya

Kesan Pertama ketika melihat Sabu Raijua, adalah dua Pulau Tandus yang menyendiri di Selatan Indonesia. Kondisi alam yang keras membuat masyarakatnya menjadi pengembara. Namun bagi Bupati Marthen Dira Tome dan Nikodemus Rihi Heke, Sabu Raijua adalah Bongkahan Surga yang jatuh ke Bumi untuk diurus hingga semua orang suatu kali kelak akan menuju kesana.

Tak pernah Menyangka bahwa kini telah menjadi sebuah daerah Otonom setelah lebih dari setengah abad Indonesia merdeka. Banyak pertentangan kala Sabu Raijua hendak dipisah dari ibu kandungnya Kabupaten Kupang pada tahun 2008. Jauh dari sumbu ibu kota dan rentang kendali yang cukup jauh dan harus menyeberangi samudera adalah salah satu alasan kenapa Bupati Kupang, Ibrahim Agustinus Medah kala itu, begitu ngotot agar Sabu Raijua harus menjadi daerah yang Mandiri. Mengatur sendiri pembangunan dan mensejahterakan masyarakatnya.

Banyak yang pesimis bahkan begitu ragu ketika daerah itu resmi menjadi daerah otonom. Mereka yang menganggap diri kaum cendekiawan mulai berlontar kata bahwa darimana PAD Sabu Raijua diperoleh dan bagaimana mereka bisa bertahan dengan kondisi daerah yang sulit dan penuh tantangan.  Namun semua rasa ragu dan kabut pesimis yang begitu tebal, kini secara perlahan mulai sirna. Sabu Raijua yang dulu dipertanyakan darimana asala PAD nya malah telah melewati beberapa kabupaten yang umurnya jauh lebih tua. Tahun 2014 PAD Sabu Raijua mencapai angka Rp.26,8 miliar rupiah dari sebelumnya hanya 300 juta kala dipimpin Penjabat Bupati.

“Saya ingin Orang Sabu Raijua mampu berpikir melampaui apa yang orang lain pikirkan dan mampu berbuat melampaui apa yang orang lain perbuat. Dengan demikian mereka akan melihat bumi baru dan langit baru. Semua itu tersirat dalam visi dan misi kami saat memipin daerah ini. Dengan moto orang Sabu Raijua juga bisa saya ingin membakar semangat mereka bahwa kita mampu melakukan segela sesuatu yang tidak pernah dipikirkan sebelumnya,” kata Marthen Dira Tome, kepada Seputar NTT.

Kabupaten Sabu Raijua pada tahun 2014 ini menempati rangking 7 tingkat nasional dengan skor 76,2 dari 36 DOB yang dibentuk pada tahun 2008 silam. Dengan skor ini maka Kabupaten Sabu Raijua boleh bernafas lega karena bayang-bayang untuk bergabung kembali dengan Kabupaten induk sudah terhapus.  Sebab jika skornya dibawah 60 atau terkategori buruk maka bukan hal yang mustahil jika Sabu Raijua bisa bergabung kembali dengan Kabupaten Kupang sebagai kabupaten induk.

“Jadi Setiap tahun ada evaluasi dari Dirjen Otda terhadap DOB. Sabu Raijua termasuk dalam DOB yang dibentuk pada tahun 2008-2009 bersama 35 DOB lain nya di Indonesia. Hasil Evaluasi pada tahun 2014, Sabu Raijua menempati urutan ke-7 dengan skor 76,2. Saya kira ini kabar baik bagi masyarakat Sabu Raijua” ungkap Marthen.

Marthen mengatakan, Sabu Raijua pernah diekspos oleh media bahwa termasuk dalam 5 DOB terburuk hasil evaluasi Dirjen Otda, sehingga sempat menjadi isu negatif ditengah masyarakat. Padahal apa yang diberitakan media kali lalu merupakan hasil evaluasi ketika Sabu Raijua masih dijabat oleh seorang Penjabat Bupati. Selama memimpin Sabu Raijua, kata Marthen, pihaknya terus berusaha meningkatkan skor yang menjadi indikator penilaian bagi DOB oleh Dirjen Otda.

“Perlu kami jelaskan bahwa saat itu Sabu Raijua hanya mendapatkan skor 40 ketika masih dijabat oleh Penjabat Bupati, Thobias Uly, dimana hasil evaluasi  itu pada tahun 2009-2010. Ketika kami menjabat tahun 2011 kami berusaha meningkatkan skor tersebut menjadi 64, kemudian naik menjadi 71 dan sekarang menjadi 76,2,” papar suami dari Ny Irna Dira Tome ini. 

Dia memaparkan,  untuk memperoleh hasil evaluasi yang baik dari Dirjen Otda,  Pemerintah harus bekerja keras untuk mencapai berbagai indikator yang akan dinilai. Indikator yang dinilai tersebut yakni meliputi peningkatan infrastruktur, peningkatan ekonomi masyarakat, pelayanan publik serta sejumlah indikator lainnya. 

“Untuk itu maka berbagai kebijakan serta terobosan telah kami lakukan di Sabu Raijua. Bukan semata-mata untuk mengejar penilaian dari Dirjen Otda tapi bagaimana kami menjawab setiap kebutuhan masyarakat dan daerah. Sebagai daerah otonomi baru maka kerja keras harus kami lakukan, terutama bagaimana meningkatkan perekonomian masyarakat,” tambahnya.

Marthen Dira Tome mengatakan bahwa, penilaian buruk terhadap Daerah Otonom Baru harus menjadi warning bagi Gubernur ketika hendak menempatkan seseorang menjadi penjabat bupati. Sebab dua atau tiga tahun pertama ketika sebuah Kabupaten baru dijabat seorang Penjabat akan dinilai oleh Kemendagri.

“Jangan heran ketika sebuah daerah baru dinilai buruk karena penjabat yang ditempatkan tidak tahu apa yang harus dia buat. Untuk itu ini adalah warning buat pak Gubernur ketika hendak menempatkan seseorang menjadi penjabat bupati di daerah baru,” pungkasnya.

Menurut Marthen, meningkatnya skor hasil evaluasi tersebut karena adanya akselerasi pembangunan yang dilakukan diberbagai bidang seperti infrastruktur, pendidikan, ekonomi, kesehatan maupun pelayanan terhadap masyarakat. “Indikator ini yang akan dinilai oleh Kemendagri lewat Dirjen Otda, apakah ada peningkatan atau tidak. Indikator ini akan naik dengan sendirinya kalau kita bekerja bukan berpangku tangan” ujarnya.

Tidak hanya itu, pada saat Pemerintahan Marthen Dira Tome dan Nikodemus Rihi Heke menjalankan pemerintahan setelah masa penjabat bupati Thobias Uly pada Januari 2011, Pendapatan Asli Daerah (PAD) waktu itu hanya sebesar Rp.300 juta. Namun dengan kerja keras selama 4 tahun terkahir, kini PAD Sabu Raijua telah berada di angka Rp.26,8 miliar rupiah. “Kita malah berada diatas Kabupaten lain yang lebih dulu menjadi Kabupaten otonom,” pungkas Marthen.

Untuk itu mari menghitung buah kecerdasan dan pucuk keberhasilan yang diletakkan Dira Tome di Kabupaten Sabu Raijua. Dalam waktu 53 purnama, dia telah mendirikan tiga pabrik sekaligus yang mana daerah lain masih tidur dan bermimpi. Ketiga pabrik ini adalah pabrik garam, pabrik rumput laut dan pabrik air minum dalam kemasan. “Ini adalah masa depan Sabu Raijua yang harus dikelola secara baik sehingga mampu melakukan akselerasi dalam berbagai aspek,” Kata Marthen Dira Tome kepada Seputar NTT di Seba.

Sebelum pabrik ini dibangun, Pemerintah Sabu Raijua telah lebih dulu melihat potensi yang dianggap sebelah mata oleh orang lain. Marthen Dira Tome bersama wakilnya Nikodemus Rihi Heke telah berbasah-basah dengan para petani rumput laut dari satu bibir pantai ke bibir pantai yang lainnya. Melihat potensi rumput laut yang semakin meningkat dan animo masyarakat untuk membudidaya rumput laut ini semakin besar, menambatkan pemikiran Dira Tome untuk membangun sebuah pabrik rumput laut.

“Bagaimana mungkin kita hanya menjual rumput laut dengan harga yang murah jika tidak diolah. Dengan demikian maka kami membangun pabrik pengolahan rumput laut sehingga dengan hasil olahan tersebut bisa dijual dengan harga tinggi,” katanya.

Demikian juga dengan pabrik garam, pemerintah Sabu Raijua lebih dulu melakukan uji coba tambak garam dengan teknologi geomembran. Rupanya, panas terik yang membakar Pulau Sabu selama 8 bulan merupakan berkat Tuhan bagi pulau itu. Dengan panjangnya musum kemarau yang membakar bumi, membuat peluang mereka untuk memproduksi garam semakin panjang.

Dengan hasil produksi 45 ton sebulan dari satu hektar lahan saja, memicu semangat Dira Tome-Rihi Heke untuk menjual garam tidak dalam bentuk mentah, tapi harus dalam kemasan dan beryodium. Karena itulah lalu dibangun pabrik pengolahan garam. Tahun 2015 ini ada 121 hektar tambak garam yang akan berproduksi, bisa-bisa tanah di pulau Sabu menjadi asin. 

“Dari sisi PAD pasti akan meningkat jika semua lahan sudah berproduksi, disisi lain ada 1.210 tenaga kerja di tambak tersebut yang bisa kita kerjakan. PAD meningkat, pengangguran menjadi kurang, sama seperti sekali mendayang, dua tiga pulau terlampaui,” ungkap Marthen.

Pabrik air kemasan yang dibangun di Kelurahan Limaggu juga bukan lahir dari sekedar mimpi malam, tapi melalui kajian dan analisis terhadap kebutuhan masyarakat di Sabu Raijua terhadap air kamasan yang begitu tinggi. Tidak heran berbagai merek air minum dalam kemasan menyerbu Pulau Sabu yang memang panas. Jika Sabu Raijua memiliki sendiri pabrik air minum dalam kemasan maka tidak ada lagi capital fliht atau uang yang terbang keluar hanya karena perkara air minum. (joey rihi ga)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar