![]() |
| Marthen Dira Tome di Kampung Adat Gopo, Kecamatan Liae |
Dia bukan dewa matahari, tapi matahari di pulau para dewa. Matahari yang tidak saja memberikan
penerangan, pencerahan, transparansi tetapi juga energi kehidupan aksiomatik,
yang tegas tanpa ragu untuk terbit atau terbenam lewat sidik jari pembangunan
di Sabu Raijua.
Begitulah
Marthen Dira Tome meninggalkan jejak bagi penerus generasi Kika Ga di bumi Rai
Hawu. Ketegasannya sering disalah artikan sebagai sebuah kekasaran dan arogansi
tanpa melihat secara jauh bahwa dia sedang menjalankan fungsi pengaturan dari
empat fungsi kepala daerah dengan lambang garuda di dada.
Untuk itu
mari menghitung buah kecerdasan dan pucuk keberhasilan yang diletakkan Dira
Tome di Kabupaten Sabu Raijua. Dalam waktu 49 purnama, dia telah mendirikan
tiga pabrik sekaligus yang mana daerah lain masih tidur dan bermimpi. Ketiga
pabrik ini adalah pabrik garam, pabrik rumput laut dan pabrik air minum dalam
kemasan. “Ini adalah masa depan Sabu Raijua yang harus dikelola secara baik
sehingga mampu melakukan akselerasi dalam berbagai aspek,” Kata Marthen Dira
Tome kepada Seputar NTT di Seba.
Sebelum
pabrik ini dibangun, Pemerintah Sabu Raijua telah lebih dulu melihat potensi
yang dianggap sebelah mata oleh orang lain. Marthen Dira Tome bersama wakilnya
Nikodemus Rihi Heke telah berbasah-basah dengan para petani rumput laut dari
satu bibir pantai ke bibir pantai yang lainnya. Melihat potensi rumput laut
yang semakin meningkat dan animo masyarakat untuk membudidaya rumput laut ini
semakin besar, menambatkan pemikiran Dira Tome untuk membangun sebuah pabrik
rumput laut.
“Bagaimana
mungkin kita hanya menjual rumput laut dengan harga yang murah jika tidak
diolah. Dengan demikian maka kami membangun pabrik pengolahan rumput laut
sehingga dengan hasil olahan tersebut bisa dijual dengan harga tinggi,”
katanya.
Demikian
juga dengan pabrik garam, pemerintah Sabu Raijua lebih dulu melakukan uji coba
tambak garam dengan teknologi geomembran. Rupanya, panas terik yang membakar
Pulau Sabu selama 8 bulan merupakan berkat Tuhan bagi pulau itu. Dengan
panjangnya musum kemarau yang membakar bumi, membuat peluang mereka untuk
memproduksi garam semakin panjang.
Dengan
hasil produksi 45 ton sebulan dari satu hektar lahan saja, memicu semangat Dira
Tome-Rihi Heke untuk menjual garam tidak dalam bentuk mentah, tapi harus dalam
kemasan dan beryodium. Karena itulah lalu dibangun pabrik pengolahan garam.
Tahun 2015 ini ada 121 hektar tambak garam yang akan berproduksi, bisa-bisa
tanah di pulau Sabu menjadi asin.
“Dari
sisi PAD pasti akan meningkat jika semua lahan sudah berproduksi, disisi lain
ada 1.210 tenaga kerja di tambak tersebut yang bisa kita kerjakan. PAD
meningkat, pengangguran menjadi kurang, sama seperti sekali mendayang, dua tiga
pulau terlampaui,” ungkap Marthen.
Pabrik
air kemasan yang dibangun di Kelurahan Limaggu juga bukan lahir dari sekedar
mimpi malam, tapi melalui kajian dan analisis terhadap kebutuhan masyarakat di
Sabu Raijua terhadap air kamasan yang begitu tinggi. Tidak heran berbagai merek
air minum dalam kemasan menyerbu Pulau Sabu yang memang panas. Jika Sabu Raijua
memiliki sendiri pabrik air minum dalam kemasan maka tidak adalah lagi capital
fliht atau uang yang terbang keluar hanya karena perkara air minum.
Pada awal
kepemimpinan Ma Tade sapaan karib Marthen Dira Tome dan Ma Balla sapaan akrab
Nikodemus Rihi Heke, situasi bidang pendidikan di Kabupaten Sabu Raijua sangat
carut-marut. Pada tahun pertama tingkat kelulusan pendidikan di Sabu Raijua
berada pada peringkat 21 dari 21 kabupaten kota. Berangkat dari kondisi tersebut,
pada tahun kedua ( tahun 2011 ) pemerintah melakukan pembenahan di bidang
pendidikan yaitu dengan melakukan Bedah SKL ( Standar Kompetensi Lulusan ) dan
Penyelenggaraan Center MIPA tingkat SD, SMP dan SMA selama 6 bulan lamanya,
dengan mendatangkan Nara sumber Dr. Keba Moto bersama tim dengan tujuan
meningkatkan kompetensi guru sehingga mereka mampu mempersiapkan anak didiknya
dalam mengikuti ujian nasional dan mampu bersaing di bidang Sains dan
Teknologi.
UU Guru
dan Dosen Nomor 14 tahun 2005 tentang tenaga pengajar harus berpendidikan
Sarjana juga menjadi alasan pemerintah untuk meningkatkan kompetensi guru di
Sabu Raijua. Dan upaya pemerintah pun berbuah manis dimana pada tahun 2013
tingkat kelulusan pendidikan di kabupaten Sabu Raijua mengalami peningkatan
yang membanggakan dengan mendapat peringkat pertama dengan nilai tertinggi
untuk NTT.
Terobosan
pemerintah untuk memajukan dunia pendidikan di Kabupaten Sabu Raijua berikutnya
adalah mendirikan Akademi Komunitas Sabu Raijua (AKSARA ) dimana pada tahun
2014 pemerintah mendapat ijin pendirian dari Dikti dengan membuka 3 jurusan
yaitu Jurusan Pertanian ( lahan kering & pengolahan hasil ), Jurusan
Perikanan ( budidaya rumput laut dan perikanan ) dan Jurusan Pengolahan Hasil
Bumi. Dengan berbagai upaya pemerintah untuk memajukan dunia pendidikan di Sabu
Raijua ini diharapkan dapat melahirkan generasi-generasi penerus yang cerdas,
kreatif, inovatif, dan bijaksana.
Infrastruktur
menjadi prioritas ke empat setelah Ekonomi, pendidikan dan kesehatan. Mengapa demikian?
Karena Apa gunanya Jalan yang bagus dan indah jika masyarakatnya masih hidup
dalam kemiskinan, buta huruf dan tidak sehat. Oleh karena itu setelah melakukan
pembenahan di bidang Ekonomi, pendidikan dan kesehatan, pemerintah bersama
instansi terkait dalam hal ini Dinas PU kemudian fokus dalam pembenahan
infrastruktur Jalan. Perbaikan dan pelebaran Jalan dilakukan dimana-mana,
pembangunan jembatan baru pun dilakukan.
Realisasinya
terlihat dari peningkatan kualitas jalan di tahun 2011 dibanding tahun 2010
dimana panjang jalan yang dalam kondisi baik bertambah sepanjang 13 km ( thn
2010 panjang jalan dalam kondisi baik 31,9 km dan Tahun 2011 kondisi jalannya
meningkat menjadi 44,9 km ). Dari tahun ke tahun pemerintah terus berupaya
meningkatkan kualitas jalan di Sabu Raijua ini, di tahun 2015 ini juga
masyarakat sudah bisa menikmati kondisi jalan yang sudah di aspal hot mix
sepanjang Seba sampai Menia.
Laksana
matahari yang senantiasa memberi pengharapan akan sinarnya yang menghidupkan,
demikianlah Marthen Dira Tome terus bekerja tanpa lelah bagi masyarakat Sabu
Raijua. Dia tetap memberi terang bagi setiap penghuni bumi Rai Hawu, tanpa
pamrih dan tak pilih kasih, laksana matahari para dewa yang selalu setia
menyinari pulau para dewa. (joey rihi ga)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar