Kamis, 27 Agustus 2015

Matahari Para Dewa


Marthen Dira Tome di Kampung Adat Gopo, Kecamatan Liae

Dia bukan dewa matahari, tapi  matahari di pulau para dewa.  Matahari yang tidak saja memberikan penerangan, pencerahan, transparansi tetapi juga energi kehidupan aksiomatik, yang tegas tanpa ragu untuk terbit atau terbenam lewat sidik jari pembangunan di Sabu Raijua.

Begitulah Marthen Dira Tome meninggalkan jejak bagi penerus generasi Kika Ga di bumi Rai Hawu. Ketegasannya sering disalah artikan sebagai sebuah kekasaran dan arogansi tanpa melihat secara jauh bahwa dia sedang menjalankan fungsi pengaturan dari empat fungsi kepala daerah dengan lambang garuda di dada.

Untuk itu mari menghitung buah kecerdasan dan pucuk keberhasilan yang diletakkan Dira Tome di Kabupaten Sabu Raijua. Dalam waktu 49 purnama, dia telah mendirikan tiga pabrik sekaligus yang mana daerah lain masih tidur dan bermimpi. Ketiga pabrik ini adalah pabrik garam, pabrik rumput laut dan pabrik air minum dalam kemasan. “Ini adalah masa depan Sabu Raijua yang harus dikelola secara baik sehingga mampu melakukan akselerasi dalam berbagai aspek,” Kata Marthen Dira Tome kepada Seputar NTT di Seba.

Sebelum pabrik ini dibangun, Pemerintah Sabu Raijua telah lebih dulu melihat potensi yang dianggap sebelah mata oleh orang lain. Marthen Dira Tome bersama wakilnya Nikodemus Rihi Heke telah berbasah-basah dengan para petani rumput laut dari satu bibir pantai ke bibir pantai yang lainnya. Melihat potensi rumput laut yang semakin meningkat dan animo masyarakat untuk membudidaya rumput laut ini semakin besar, menambatkan pemikiran Dira Tome untuk membangun sebuah pabrik rumput laut.

“Bagaimana mungkin kita hanya menjual rumput laut dengan harga yang murah jika tidak diolah. Dengan demikian maka kami membangun pabrik pengolahan rumput laut sehingga dengan hasil olahan tersebut bisa dijual dengan harga tinggi,” katanya.

Demikian juga dengan pabrik garam, pemerintah Sabu Raijua lebih dulu melakukan uji coba tambak garam dengan teknologi geomembran. Rupanya, panas terik yang membakar Pulau Sabu selama 8 bulan merupakan berkat Tuhan bagi pulau itu. Dengan panjangnya musum kemarau yang membakar bumi, membuat peluang mereka untuk memproduksi garam semakin panjang.

Dengan hasil produksi 45 ton sebulan dari satu hektar lahan saja, memicu semangat Dira Tome-Rihi Heke untuk menjual garam tidak dalam bentuk mentah, tapi harus dalam kemasan dan beryodium. Karena itulah lalu dibangun pabrik pengolahan garam. Tahun 2015 ini ada 121 hektar tambak garam yang akan berproduksi, bisa-bisa tanah di pulau Sabu menjadi asin. 

“Dari sisi PAD pasti akan meningkat jika semua lahan sudah berproduksi, disisi lain ada 1.210 tenaga kerja di tambak tersebut yang bisa kita kerjakan. PAD meningkat, pengangguran menjadi kurang, sama seperti sekali mendayang, dua tiga pulau terlampaui,” ungkap Marthen.

Pabrik air kemasan yang dibangun di Kelurahan Limaggu juga bukan lahir dari sekedar mimpi malam, tapi melalui kajian dan analisis terhadap kebutuhan masyarakat di Sabu Raijua terhadap air kamasan yang begitu tinggi. Tidak heran berbagai merek air minum dalam kemasan menyerbu Pulau Sabu yang memang panas. Jika Sabu Raijua memiliki sendiri pabrik air minum dalam kemasan maka tidak adalah lagi capital fliht atau uang yang terbang keluar hanya karena perkara air minum.

Pada awal kepemimpinan Ma Tade sapaan karib Marthen Dira Tome dan Ma Balla sapaan akrab Nikodemus Rihi Heke, situasi bidang pendidikan di Kabupaten Sabu Raijua sangat carut-marut. Pada tahun pertama tingkat kelulusan pendidikan di Sabu Raijua berada pada peringkat 21 dari 21 kabupaten kota. Berangkat dari kondisi tersebut, pada tahun kedua ( tahun 2011 ) pemerintah melakukan pembenahan di bidang pendidikan yaitu dengan melakukan Bedah SKL ( Standar Kompetensi Lulusan ) dan Penyelenggaraan Center MIPA tingkat SD, SMP dan SMA selama 6 bulan lamanya, dengan mendatangkan Nara sumber Dr. Keba Moto bersama tim dengan tujuan meningkatkan kompetensi guru sehingga mereka mampu mempersiapkan anak didiknya dalam mengikuti ujian nasional dan mampu bersaing di bidang Sains dan Teknologi. 

UU Guru dan Dosen Nomor 14 tahun 2005 tentang tenaga pengajar harus berpendidikan Sarjana juga menjadi alasan pemerintah untuk meningkatkan kompetensi guru di Sabu Raijua. Dan upaya pemerintah pun berbuah manis dimana pada tahun 2013 tingkat kelulusan pendidikan di kabupaten Sabu Raijua mengalami peningkatan yang membanggakan dengan mendapat peringkat pertama dengan nilai tertinggi untuk NTT. 

Terobosan pemerintah untuk memajukan dunia pendidikan di Kabupaten Sabu Raijua berikutnya adalah mendirikan Akademi Komunitas Sabu Raijua (AKSARA ) dimana pada tahun 2014 pemerintah mendapat ijin pendirian dari Dikti dengan membuka 3 jurusan yaitu Jurusan Pertanian ( lahan kering & pengolahan hasil ), Jurusan Perikanan ( budidaya rumput laut dan perikanan ) dan Jurusan Pengolahan Hasil Bumi. Dengan berbagai upaya pemerintah untuk memajukan dunia pendidikan di Sabu Raijua ini diharapkan dapat melahirkan generasi-generasi penerus yang cerdas, kreatif, inovatif, dan bijaksana.

Infrastruktur menjadi prioritas ke empat setelah Ekonomi, pendidikan dan kesehatan. Mengapa demikian? Karena Apa gunanya Jalan yang bagus dan indah jika masyarakatnya masih hidup dalam kemiskinan, buta huruf dan tidak sehat. Oleh karena itu setelah melakukan pembenahan di bidang Ekonomi, pendidikan dan kesehatan, pemerintah bersama instansi terkait dalam hal ini Dinas PU kemudian fokus dalam pembenahan infrastruktur Jalan. Perbaikan dan pelebaran Jalan dilakukan dimana-mana, pembangunan jembatan baru pun dilakukan. 

Realisasinya terlihat dari peningkatan kualitas jalan di tahun 2011 dibanding tahun 2010 dimana panjang jalan yang dalam kondisi baik bertambah sepanjang 13 km ( thn 2010 panjang jalan dalam kondisi baik 31,9 km dan Tahun 2011 kondisi jalannya meningkat menjadi 44,9 km ). Dari tahun ke tahun pemerintah terus berupaya meningkatkan kualitas jalan di Sabu Raijua ini, di tahun 2015 ini juga masyarakat sudah bisa menikmati kondisi jalan yang sudah di aspal hot mix sepanjang Seba sampai Menia.

Laksana matahari yang senantiasa memberi pengharapan akan sinarnya yang menghidupkan, demikianlah Marthen Dira Tome terus bekerja tanpa lelah bagi masyarakat Sabu Raijua. Dia tetap memberi terang bagi setiap penghuni bumi Rai Hawu, tanpa pamrih dan tak pilih kasih, laksana matahari para dewa yang selalu setia menyinari pulau para dewa. (joey rihi ga)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar