Kenapa
Mandiri. Pertanyaan ini menggelitik jika dilontarkan kepada masyarakat
Kabupaten Sabu Raijua yang akan menggelar hajatan Pemilihan Umum Kepala Daerah
(Pilkada) pada Bulan Desember 2015. Mandiri ialah tagline pasangan Marthen Dira
Tome-Nikodemus Rihi Heke pada Pilkada 2010 silam.
Pasangan
ini terpilih menjadi bupati dan wakil bupati Sabu Raijua pertama setelah mekar
dari Kabupaten Kupang pada tahun 2008. Untuk menjawab pertanyaan ini, termasuk
mencari jawaban kenapa masyarakat menginginkan Marthen Dira Tome dan Nikodemus
Rihi Heke maju lagi pada Pilkada 2015, selama satu pekan terakhir, Seputar
NTT menjaring jawaban dari masyarakat di pulau sejuta lontar tersebut.
Di
antaranya pendapat yang disampaikan Ketua Kelompok Tani Lika Mandiri, di
Kelurahan Liamggu Kecamatan Sabu Timur, Yustinus Ratu, Bagi Dia, Mandiri
adalah jawaban dari mimpi masyarakat terhadap seorang pemimpin yang menjawab
persoalan yang dihadapi rakyat. Untuk itu sebagai petani yang telah merasakan
jamahan pemerintahan dibawah kendali Dira Tome-Rihi Heke, maka sangat pantas
jika memiliki keinginan supaya kedua orang ini melanjutkan lagi kepemimpunan
mereka di Bumi Rai Hawu.
“Bagi
kami para petani, Program yang saat ini dilakukan oleh Paket Mandiri sama
seperti Program dari surga yang tidak disukai manusia tetapi menyelamatkan para
petani. Mungkin saja tidak semua orang menyukai pasangan ini, tetapi jika
mereka ingin jujur dengan apa yang sudah dilakukan di daerah ini, maka tidak
ada alasan untuk tidak mendukung pasangan ini dalam Pilkada bulan Desember
nanti,” kata Yustinus kepada Seputar NTT, Minggu 8 Maret 2015.
Yustinus
mengakui bahwa program yang dilakukan Marthen Dira Tome dan Nikodemus Rihi Heke
adalah program yang langsung menyentuh kepada perut rakyat. Hanya seorang
pemimpin yang empati terhadap rakyat yang mampu meneropong apa yang ada dalam
lumbung masyarakatnya. Bagi orang yang malas bekerja, program ketahanan pangan
yang dilakukan oleh Bupati dan Wakil buptai melalui berbagai program seperti
kebun rakyat mandiri adalah program yang tidak masuk akal. Bagimana mungkin
orang menanam pada musim panas. Namun apa yang dilakukan oleh pemerintah
ternyata bukan retorika belaka.
“Pak
Marthen itu seperti seorang yang hendak mengambil madu tanpa harus digigit oeh
lebah. Dia adalah tipe pemimpin yang selalu berada didepan rakyatnya, bukan
berada dibelakang meja, semua orang tahu itu. Dia adalah pemimpin tegas tapi
memiliki rasa empati yang mendalam terhadap persoalan yang dihadapi rakyatnya,”
ungkap suami dari Marselina Rihi Dimu.
Pendapat
senada juga dilontarkan Chanisius Bara Pa, tokoh masyarakat asal Desa Nadawawi
Kecamatan Sabu Barat. Dia berpendapat bahwa pasangan ini sangat pantas untuk
didukung dalam Pilkada nanti. Jawabannya sederhana yakni, buka mata ebar-lebar
dan lihat program yang telah mereka lakukan di Kabupaten Sabu Raijua. Dia jujur
bahwa saat Pilkada lalu dia sempat meragukan kemampuan pasangan ini dalam
memimpin sebuah kabupaten baru yang miskin dan jauh dari sentuhan pembangunan.
“Kalau
aturan tidak melarang seseorang hanya dibatasi masa jabatannya hanya dua
periode maka saya mau kedua pasangan ini bisa memimpin sabu lebih dari dua
periode. Pendapat saya ini bukan karena saya kenal kedua pemimpin ini, tapi
melihat kenyataan yang mereka kerjakan sungguh luar biasa. Banyak orang yang
mengatakan tidak ada perubahan di Sabu Raijua selama empat tahun terakhir. Saya
anggap mereka adalah orang buta yang berteriak dari kegelapan malam,” ujar
orangtua yang sudah mulai renta ini.
Dia
mengatakan, tidak tepat jika orang membandingkan kondisi Sabu Raijua dengan
kota kupang atau Kabupaten lan yang telah lama menjadi daerah otonom. Harus
diakui bahwa ketika Sabu Raijua masih menjadi wilayah kabupaten Kupang, daerah
ini sangat jauh dari sumbu ibukota serta jauh dari sentuhan pembangunan. “Harus
dilihat secara baik bahwa program utama pemerintah adalah bagimana rakyatnya
kenyang dan tidak lapar. Untuk apa punya jalan bagus kalau akhirnya harus jatuh
karena kelaparan. Kalau perut masyarakat sudah kenyang maka cepat atau lambat
sarana jalan dan lain-lain akan berubah,” imbuhnya.
Lain
lagi apa yang diungkapkan Pendeta Romana Cu, Ketua majelis Jemaat Eibeo, di
Kecamatan Sabu Timur. Menurutnya, Marthen Dira Tome dan Nikodemus Rihi Heke
adalah pemipin yang selalu dekat dengan jemaat. Mereke paham benar bahwa jemaat
gereja adalah masyarakat mereka sendiri yang tidak boleh ditinggalkan. “Mereka
tidak pernah berpangku tangan dalam berbagai kegiatan pembangunan gereja. Hal
itu tentu didasari dari pemikiran bahwa gereja adalah bagian yang tak
terpisahkan dari masyarakat Sabu Raijua,” kata pendeta yang belum memiliki
pasangan ini.
Mencari
figur seperti Marthen Dira Tome saat ini sangat sulit, sebab untuk memimpin
daerah yang serba kekurangan ini membutuhkan enrgi yang luar biasa. Tidak hanya
tenaga, tapi juga pikiran yang jernih dalam memecahkan berbagai persoalan yang
dihadapi oleh masyarakat. “bagi saya mereka adalah pasangan yang sangat layak
untuk memimpin Sabu Raijua lima tahun lagi. Mencari pemimpin yang selalu berada
ditengah masyarakat dan turun langsung dalam berbagai pembangunan menurut saya
sudah langka untuk kita temui di era ini,” tambahnya.
Lalu
bagimana sosok Marthen Dira Tome dan Nikodemus Rihi Heke bagi para Kepala Desa
yang merupakan ujung tombak pemerintah yang paling bawah? Bagi Kepala Desa
Mehona Kecamatan Liae, Markus Djara Lulu, sosok Bupati dan Wakil Bupati adalah
panutan yang baik bagi para Kepala Desa. Bupati kata Markus, tak
sungkan-sungkan turun ke masyarakat untuk melihat dan mendapingi setiap program
yang sedang dijalankan.
“Kalau
dulu masyarakat desa melihat seorang bupati adalah pejabat besar maka tidak
demikian dengan pak Marthen. Beliau tidak menampakkan diri sebagai pemegang
kekuasaan di Kabupaten Sabu Raijua. Dengan kami para Kepala Desa, beliau selalu
membangun komunikasi dan koordinasi dengan baik, bahkan kami yang merasa
sungkan dengan sikap beliau yang tidak pernah merasa risih jika berada ditengah
masyarakat.
Sementara
Leonard Bau Bani, Kepala Desa Huwaga, Kecamatan Sabu Timur mengatakan, apa yang
dijanjikan oleh Paket Mandiri saat Pilkada semuanya telah dilaksanakan. “Setiap
janji mereka sudah dilaksanakan, bahwa ada program yang belum sempurna itu
adalah hal yang wajar sehingga mereka perlu melanjutkan kepemimpinan lima tahun
lagi,” katanya.
Mengapa
Ma Tade dan Ma Balla harus maju lagi dan harus dipilih kembali kata
Leonard, karena selama lima tahun mereka bekerja rasanya waktu sangat singkat
karena setelah pelantikan mereka tidak langsung bisa melaksanakan
program-programnya tetapi masih harus melakukan pembenahan terhadap sepuluh
kegiatan wajib yang merupakan indikator penilaiaan Dirjen Otonomi Daerah,
dimana sebagiannya sudah harus diselesaikan oleh Penjabat Bupati waktu itu.
Tetapi sampai dengan pelantikan Ma Tade dan Ma Balla belum diselesaikan malah
ada yang dilakukan tetapi terbengkalai misalnya pekerjaan RTRW, itulah
sebabnya Sabu Raijua saat itu hendak digabung kembali dengan
kabupaten induk (kabupaten kupang) karena skor atau nila sepuluh indikator tersebut
berada dibawah
“Mereka
menyadari kalau kondisi ini tidak segera diperbaiki maka Sabu Raijua kembali
gabung dengan Kabupaten Kupang sebagai Kabupaten Induk. Tahun pertama bekerja
mereka memperbaiki semua yang dikerjakan dengan tidak benar oleh Penjabat
Bupati, tahun itu pun nilai meningkat menjadi 64, tahun kedua meningkat
menjadi 72 dan tahun ketiga meningkat dengan tajam menjadi 76.12. Pada akhirnya
Sabu Raijua termasuk rangking 7 dari 32 DOB se Indonesia dengan demikian Sabu
Raijua telah bebas dari ancaman gabung dengan Kabupaten Induk,”paparnya. (joey
rihi ga)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar