Kamis, 27 Agustus 2015

Rajawali Dalam Badai


Marthen Dira Tome di Desa Lobohede, Hawu Mehara

Ketangguhan seekor burung rajawali akan terukur bila dia mampu terbang melintasi badai. Gambaran ini akan mengisahkan bagimana sepak terbang Bupati Sabu Raijua, Marthen Dira Tome memulai kariernya sebagai orang nomer satu di negeri sejuta lontar itu. 

Niatnya untuk menjadikan kabupaten ini sebagai Kabupaten yang inovatif, maju dan bermartabat seperti bunyi visi paket mandiri tidak segampang membalikkan telapan tangan. Dia bukan penjabat bupati yang diangkat dari keinginan seorang gubernur, tapi seorang pemegang mandat yang mendapat legitimasi rakyat saat hajatan pilkada.

Sebagai peletak dasar di Kabupaten Sabu Raijua yang terlahir dari rahim kabupaten Kupang, Marthen Dira Tome tidak disuguhi oleh nikmatnya duduk dikursi DH 1 Sabu Raijua. Dia harus berjibaku dengan berbagai persoalan yang ada di Kabupaten yang dulunya kampung tersebut. Jika dia tak setangguh rajawali maka mana mungkin dia mampu melambung tinggi untuk membawa rakyat yang dicintainya melihat bumi baru dan langit baru.

Sebagai penerima estafet dari seorang penjabat bupati, maka Bupati Marthen Dira Tome harus menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah yang ditinggalkan oleh sang penjabat selama memimpin Sabu Raijua pada masa transisi. Salah satu pekerjaan tersebut adalah Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang kala itu tak sanggup diselesaikan oleh penjabat bupati Thobias Uly. Waktunya harus tersita. Disisi lain dia harus mengejar waktu bagaimana masyarakat harus memperoleh sentuhan pelayanan.

Ada beberapa kebijakan sang bupati yang ditentang habis-habisan oleh masyarakat yang masih berpola pikir lama. Penertiban ternak misalnya, masyarakat menganggap itu kekang yang dibuat pemimpin untuk mereka melepas ternak sesuka hati. Disisi lain mereka tidak sadar bahwa tanpa peneriban ternak maka usaha pangan akan menjadi kendala. Bagaimana mungkin orang berkebun atau menanam tanaman pangan dengan bebas tanpa dihantui oleh ternak yang berkeliaran bebas. Padahal saat itu Bupati sedang bergerak mengajari rakyatnya untuk menanam pada musim kemarau lewat program kebun rakyat mandiri.

“Dalam mensukseskan berbagai program seperti kebun rakyat mandiri, hutan rakyat mandiri, revolusi hijau dan hijauan makanan ternak maka tidak ada cara lain selain menertibkan ternak yang berkeliaran. Dengan menertibkan ternak, maka tanaman yang ada akan aman serta  gairah masyarakat untuk menanam juga semakin mekar. Kita tidak bisa memelihara ternak dalam jumlah yang banyak kemudian kita gantung perut ternak kita pada tanaman milik orang lain,"kata Bupati

Ketika melakukan pelebaran jalan di Kota Seba, bupati juga ditentang oleh masyarakatnya sendiri yang tidak mau rumah atau halaman mereka tergeser lantaran pelabaran jalan. Rupanya sisa-sisa aroma politik saat pilkada masih melekat saat itu. Jadi apapun kebijakan sang bupati, laksana bensin yang dekat dengan api, tersambar dan langsung menyala. Padahal ketika jalan -jalan di Seba sudah lebar mereka tersenyum, lalu dengan gampang melupakan perlawanan serta cacian dan hinaan yang sempat terlontar waktu lalu. Bupati bahkan berjalan dari pintu ke pintu untuk menjelaskan kepada masyarakat yang halaman rumahnya harus tergeser oleh pelebaran jalan.

“Kenapa kita mulai dari Seba, karena ini adalah pintu masuk ke Sabu Raijua dimana pelabuhan ada disini baik udara maupun laut sehingga jika jalannya sempit dan kumuh akan meninggalkan kesan yang tidak baik. Untuk itu kita perlu tata supaya jalan-jalan yang ada bisa memadai sebagaimana jalan dalam kota. Perlu keiklasan dari masyarakat untuk melepaskan tanahnya bagi pembangunan dan pelebaran jalan,"ujar Marthen.

Pada tahun 2011 diawal kepemimpinanya, Marthen Dira Tome juga harus berhadap-hadapan dengan DPRD Sabu Raijua. Bagimana tidak, saat itu DPRD tidak mau melakukan perubahan anggaran, padahal pembangunan sudah dimulai. Imbasnya, rakyat sempat menyegel gedung DPRD dan Mobil Ketua DPRD saat itu Ruben Kale Dipa. Sang ketua harus pulang dengan menumpang sepeda motor lantaran fasilitas yang diberikan telah disegel oleh rakykatnya sendiri.

Berulang kali Pemerintah harus berhadap-hadapan dengan Anggota DPRD ketika membahas anggaran. Partai Golkar sebagai partai pendukung seperti tak bernyali dalam memperjuangkan apa yang ingin dilakukan oleh Pemerintah. Bahkan kadang berlaku seperti oposisi. Misalnya saja saat penetapan anggaran untuk membeli mesin bagi pabrik rumput laut dan pabrik air mineral. Pembahasannya memakan waktu dan energi bahkan hingga dilakukan Voting

Jika saja Bupati tidak lihai dalam menaklukan beringasnya DPRD maka kedua pabrik tersebut bisa saja tidak memiliki mesin dan tentu saja pembangunan pabrik akan mubasir. Serpertinya mereka sangat berkeinginan jika apa yang ingin dilakukan bupati harus gagal. Sayangnya masyarakat tidak menyaksikan langsung apa yang dilakukan wakilnya ketika bersidang di gedung DPRD. Kalau mereka menyaksikan tentu bisa menilai siapa saja anggota DPRD yang selalu berseberangan dengan Bupati lalu mengatasnamakan rakyat.

Perlawanan yang tak kalah heboh adalah ketika hendak membangun embung Guriola di Desa Raenyale Kecamatan Sabu Barat. Saat itu bupati benar-benar dibenturkan dengan masyarakat. Tidak sedikit yang bermian di air keruh lantaran hajatan Pilkada sudah di depan mata. Masyarakat bahkan melaporkan Bupati ke berbagi pihak, bahkan hingga Komas HAM. Hal ini berbanding terbalik ketika Guriola sudah menampung jutaan kubik air dan telah berubah menjadi gadis cantik yang disapa semua orang.

Waktu itu Marthen Dira Tome, secara tegas mengatakan, walaupun esok langit runtuh tapi Embung Guriola harus dikerjakan. Pemerintah tidak pernah mempersoalkan siapa pemilik tanah Guriola, tetapi masyarakat perlu memahami bahwa tanah boleh dimiliki tetapi tugas pemerintah adalah mengatur sehingga bisa memberikan manfaat untuk kesejahteraan masyarakat luas. Itu undang-undang yang tidak boleh dilawan.

“Banyak orang yang mengatakan bahwa kami terlalu kasar dan menggunakan tangan besi, disini perlu saya ingatkan bahwa sulit dibedakan antara kasar dan tugas. Pemimpin harus seperti matahari (Enabling leaders) tidak saja memberikan penerangan, pencerahan, transparansi tetapi juga energy kehidupan aksiomatik, tegas tanpa ragu untuk terbit atau terbenam. Jika masa lalu banyak orang Guriola yang meneteskan air mata, itu bukan air mata kesusahan tetapi air mata bahagia karena mereka telah melihat cahaya masa depan,” ujar Marthen.

Beberapa contoh diatas hanyalah sebagian kecil dari banyaknya perlawanan terhadap Bupati Sabu Raijua Marthen Dira Tome oleh rakyat yang dicitainya. Namun tak bisa dipungkiri, seiring perjalanan waktu, masyarakat sudah mulai terbelalak matanya dengan buah tangan Dira Tome lewat berbagi terobosan pembangunan den kebijakan yang pro rakyat.

Tidak hanya tantangan yang datang dari rakyat Sabu Raijua, hubungan yang tidak harmonis antara Marthen Dira Tome dengan Gubernur NTT, Frans Lebu Raya sudah menjadi rahasia umum. Hal ini menjadi pergumulan tersendiri bagi Marthen Dira Tome dalam menjalankan tugas sebagi seorang Bupati yang tidak mendapat restu sang Gubernur.

Namun satu persoalan yang terus membayangi perjalanan karier politik Dira Tome adalah kasus PLS yang kini ditangani KPK. Sudah lima purna berlalu, tapi status tersangka yang dikenakan KPK kepada Dira Tome seperti senyap. Pada edisi I Marthen Dira Tome telah menjelaskan secara terang benderang terkait kasus PLS. Kasus ini seperti lalat yang terus mengerubuni Dira Tome setiap ada hajatan politik. Entah siapa yang memesan lalu siapa yang hendak dijadikan santapan, semuanya menjadi kabur. KPK seperti sedang mengendus bau kentuk yang aroma nya mengganggu tapi tidak tahu siapa yang melepas gas beracun tersebut. (Baca: Mencari Keadilan Hingga Pelataran KPK).

Diantara kasus-kasus yang mendera dirinya, Dira Tome tetap mengepakkan sayap, melesat ke langit biru layaknya rajawali yang dengan sorot matanya yang tajam melihat keluh dan kesah rakyat yang dicintainya. Dari sana sang “rajawali” itu akan meretas jalan menuju masa depan yang gemilang untuk Rai Hawu Miha Ngara. (joey rihi ga)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar