![]() |
| Marthen Dira Tome di Desa Lobohede, Hawu Mehara |
Ketangguhan seekor burung rajawali akan terukur bila dia mampu
terbang melintasi badai. Gambaran ini akan mengisahkan bagimana sepak terbang
Bupati Sabu Raijua, Marthen Dira Tome memulai kariernya sebagai orang nomer
satu di negeri sejuta lontar itu.
Niatnya
untuk menjadikan kabupaten ini sebagai Kabupaten yang inovatif, maju dan
bermartabat seperti bunyi visi paket mandiri tidak segampang membalikkan
telapan tangan. Dia bukan penjabat bupati yang diangkat dari keinginan seorang
gubernur, tapi seorang pemegang mandat yang mendapat legitimasi rakyat saat
hajatan pilkada.
Sebagai
peletak dasar di Kabupaten Sabu Raijua yang terlahir dari rahim kabupaten
Kupang, Marthen Dira Tome tidak disuguhi oleh nikmatnya duduk dikursi DH 1 Sabu
Raijua. Dia harus berjibaku dengan berbagai persoalan yang ada di Kabupaten
yang dulunya kampung tersebut. Jika dia tak setangguh rajawali maka mana
mungkin dia mampu melambung tinggi untuk membawa rakyat yang dicintainya melihat
bumi baru dan langit baru.
Sebagai
penerima estafet dari seorang penjabat bupati, maka Bupati Marthen Dira Tome
harus menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah yang ditinggalkan oleh sang
penjabat selama memimpin Sabu Raijua pada masa transisi. Salah satu pekerjaan
tersebut adalah Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang kala itu tak sanggup
diselesaikan oleh penjabat bupati Thobias Uly. Waktunya harus tersita. Disisi
lain dia harus mengejar waktu bagaimana masyarakat harus memperoleh sentuhan
pelayanan.
Ada
beberapa kebijakan sang bupati yang ditentang habis-habisan oleh masyarakat
yang masih berpola pikir lama. Penertiban ternak misalnya, masyarakat
menganggap itu kekang yang dibuat pemimpin untuk mereka melepas ternak sesuka
hati. Disisi lain mereka tidak sadar bahwa tanpa peneriban ternak maka usaha
pangan akan menjadi kendala. Bagaimana mungkin orang berkebun atau menanam
tanaman pangan dengan bebas tanpa dihantui oleh ternak yang berkeliaran bebas.
Padahal saat itu Bupati sedang bergerak mengajari rakyatnya untuk menanam pada
musim kemarau lewat program kebun rakyat mandiri.
“Dalam
mensukseskan berbagai program seperti kebun rakyat mandiri, hutan rakyat
mandiri, revolusi hijau dan hijauan makanan ternak maka tidak ada cara lain
selain menertibkan ternak yang berkeliaran. Dengan menertibkan ternak, maka
tanaman yang ada akan aman serta gairah
masyarakat untuk menanam juga semakin mekar. Kita tidak bisa memelihara ternak
dalam jumlah yang banyak kemudian kita gantung perut ternak kita pada tanaman
milik orang lain,"kata Bupati
Ketika melakukan
pelebaran jalan di Kota Seba, bupati juga ditentang oleh masyarakatnya sendiri
yang tidak mau rumah atau halaman mereka tergeser lantaran pelabaran jalan.
Rupanya sisa-sisa aroma politik saat pilkada masih melekat saat itu. Jadi apapun
kebijakan sang bupati, laksana bensin yang dekat dengan api, tersambar dan
langsung menyala. Padahal ketika jalan -jalan di Seba sudah lebar mereka
tersenyum, lalu dengan gampang melupakan perlawanan serta cacian dan hinaan
yang sempat terlontar waktu lalu. Bupati bahkan berjalan dari pintu ke pintu
untuk menjelaskan kepada masyarakat yang halaman rumahnya harus tergeser oleh
pelebaran jalan.
“Kenapa
kita mulai dari Seba, karena ini adalah pintu masuk ke Sabu Raijua dimana
pelabuhan ada disini baik udara maupun laut sehingga jika jalannya sempit dan
kumuh akan meninggalkan kesan yang tidak baik. Untuk itu kita perlu tata supaya
jalan-jalan yang ada bisa memadai sebagaimana jalan dalam kota. Perlu keiklasan
dari masyarakat untuk melepaskan tanahnya bagi pembangunan dan pelebaran
jalan,"ujar Marthen.
Pada
tahun 2011 diawal kepemimpinanya, Marthen Dira Tome juga harus berhadap-hadapan
dengan DPRD Sabu Raijua. Bagimana tidak, saat itu DPRD tidak mau melakukan
perubahan anggaran, padahal pembangunan sudah dimulai. Imbasnya, rakyat sempat
menyegel gedung DPRD dan Mobil Ketua DPRD saat itu Ruben Kale Dipa. Sang ketua
harus pulang dengan menumpang sepeda motor lantaran fasilitas yang diberikan
telah disegel oleh rakykatnya sendiri.
Berulang
kali Pemerintah harus berhadap-hadapan dengan Anggota DPRD ketika membahas
anggaran. Partai Golkar sebagai partai pendukung seperti tak bernyali dalam
memperjuangkan apa yang ingin dilakukan oleh Pemerintah. Bahkan kadang berlaku
seperti oposisi. Misalnya saja saat penetapan anggaran untuk membeli mesin bagi
pabrik rumput laut dan pabrik air mineral. Pembahasannya memakan waktu dan
energi bahkan hingga dilakukan Voting
Jika saja
Bupati tidak lihai dalam menaklukan beringasnya DPRD maka kedua pabrik tersebut
bisa saja tidak memiliki mesin dan tentu saja pembangunan pabrik akan mubasir.
Serpertinya mereka sangat berkeinginan jika apa yang ingin dilakukan bupati
harus gagal. Sayangnya masyarakat tidak menyaksikan langsung apa yang dilakukan
wakilnya ketika bersidang di gedung DPRD. Kalau mereka menyaksikan tentu bisa
menilai siapa saja anggota DPRD yang selalu berseberangan dengan Bupati lalu
mengatasnamakan rakyat.
Perlawanan
yang tak kalah heboh adalah ketika hendak membangun embung Guriola di Desa
Raenyale Kecamatan Sabu Barat. Saat itu bupati benar-benar dibenturkan dengan
masyarakat. Tidak sedikit yang bermian di air keruh lantaran hajatan Pilkada
sudah di depan mata. Masyarakat bahkan melaporkan Bupati ke berbagi pihak,
bahkan hingga Komas HAM. Hal ini berbanding terbalik ketika Guriola sudah
menampung jutaan kubik air dan telah berubah menjadi gadis cantik yang disapa
semua orang.
Waktu itu Marthen Dira
Tome, secara tegas mengatakan, walaupun esok langit runtuh tapi Embung Guriola
harus dikerjakan. Pemerintah tidak pernah mempersoalkan siapa pemilik tanah
Guriola, tetapi masyarakat perlu memahami bahwa tanah boleh dimiliki tetapi
tugas pemerintah adalah mengatur sehingga bisa memberikan manfaat untuk
kesejahteraan masyarakat luas. Itu undang-undang yang tidak boleh dilawan.
“Banyak orang yang
mengatakan bahwa kami terlalu kasar dan menggunakan tangan besi, disini perlu
saya ingatkan bahwa sulit dibedakan antara kasar dan tugas. Pemimpin harus
seperti matahari (Enabling leaders) tidak saja memberikan penerangan,
pencerahan, transparansi tetapi juga energy kehidupan aksiomatik, tegas tanpa
ragu untuk terbit atau terbenam. Jika masa lalu banyak orang Guriola yang
meneteskan air mata, itu bukan air mata kesusahan tetapi air mata bahagia
karena mereka telah melihat cahaya masa depan,” ujar Marthen.
Beberapa contoh diatas
hanyalah sebagian kecil dari banyaknya perlawanan terhadap Bupati Sabu Raijua
Marthen Dira Tome oleh rakyat yang dicitainya. Namun tak bisa dipungkiri,
seiring perjalanan waktu, masyarakat sudah mulai terbelalak matanya dengan buah
tangan Dira Tome lewat berbagi terobosan pembangunan den kebijakan yang pro
rakyat.
Tidak hanya tantangan yang
datang dari rakyat Sabu Raijua, hubungan yang tidak harmonis antara Marthen
Dira Tome dengan Gubernur NTT, Frans Lebu Raya sudah menjadi rahasia umum. Hal
ini menjadi pergumulan tersendiri bagi Marthen Dira Tome dalam menjalankan
tugas sebagi seorang Bupati yang tidak mendapat restu sang Gubernur.
Namun satu persoalan yang
terus membayangi perjalanan karier politik Dira Tome adalah kasus PLS yang kini
ditangani KPK. Sudah lima purna berlalu, tapi status tersangka yang dikenakan
KPK kepada Dira Tome seperti senyap. Pada edisi I Marthen Dira Tome telah
menjelaskan secara terang benderang terkait kasus PLS. Kasus ini seperti lalat
yang terus mengerubuni Dira Tome setiap ada hajatan politik. Entah siapa yang
memesan lalu siapa yang hendak dijadikan santapan, semuanya menjadi kabur. KPK
seperti sedang mengendus bau kentuk yang aroma nya mengganggu tapi tidak tahu
siapa yang melepas gas beracun tersebut. (Baca: Mencari Keadilan Hingga
Pelataran KPK).
Diantara kasus-kasus yang
mendera dirinya, Dira Tome tetap mengepakkan sayap, melesat ke langit biru
layaknya rajawali yang dengan sorot matanya yang tajam melihat keluh dan kesah
rakyat yang dicintainya. Dari sana sang “rajawali” itu akan meretas jalan
menuju masa depan yang gemilang untuk Rai Hawu Miha Ngara. (joey rihi ga)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar