Kamis, 27 Agustus 2015

Menghapus Air Mata Kekeringan dengan Mata Air Harapan Di Sabu Raijua


Marthen Dira Tome di sebuah embung di Sabu Tengah

Sabu Raijua merupakan daerah semi arit yang terkesan tandus dan kering, karena hanya disinggahi butiran air langit yang cukup sedikit kala musim hujan menyapa wilayah ini. Sebagai daerah baru tentu ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah setempat bagaimana menuntaskan persoalan kebutuhan air bagi masyarakat yang ada di enam kecamatan di Sabu Raijua. Air mata kekeringan memang menjadi sahabat setia ketika puncak musim kemarau menggerayangi Pulau sejuta lontar ini. Bulan September hingga November adalah masa kritis bagi masyarakat, hewan maupun tanaman yang ditakdirkan Tuhan mendiami pulau Sabu Raijua.
Bagi Bupati Sabu Raijua, Marthen Dira Tome dan Wakil Bupati Nikodemus Rihi Heke,  tantangan dan kesulitan air di Sabu Raijua merupakan peluang bagimana menghapus air mata kekeringan dan membangun mata air harapan dengan membangun berbagai embung. Tidak heran jika saat ini sudah banyak sekali embung yang telah dibangun di hampir semua kecamatan termasuk di Pulau Raijua.
“Salah satu cara yang kita tempuh bagimana supaya kesulitan air ini bisa kita tuntaskan adalah bagimana membangun embung-embung supaya bisa menangkap air hujan ketika musim penghujan tiba. Semakin banyak embaung yang dibangun maka akan semakin banyak persediaan air baku sehingga apa yang selama ini menjadi pergumulan masyarakat bisa terjawab,” ungkap Bupati Sabu Raijua, Marthen Dira Tome saat berbincang dengan Media NTT, akhir pekan silam.
Selama 50 purnama memimpin Sabu Raijua, Marthen Dira Tome selalu berkeliling dari satu kampung ke kampung lain untuk mendengar dan melihat apa yang menjadi keluhan warganya sambil mendeteksi lokasi-lokasi yang dapat dibangun embung. Hasilnya, saat ini sudah mulai terlihat dimana embung-embung yang dibangun tahun 2012 dan 2013, telah memberi hidup bagi warga sekitar embung sekaligus memberi pemandangan hujau ditengah tandus yang mengganas.
“Bisa dilihat saat ini bahwa dengan adanya embung dimana-mana, masyarakat sudah bisa menanam berbagai macam tanaman seperti jagung, bawang maupun sayur-sayuran. Dengan semakin banyaknya embung yang kita bangun maka kita harapkan ketersediaan air baku bagi masyarakat akan tercukupi selain dari mata air yang ada,” kata suami dari Ny. Irna Dira Tome ini.
Untuk membangun embung di Sabu Raijua, Pemerintah tidak jarang harus berjibaku dengan masyarakat setempat yang menolak lahan mereka dibangun embung-embung. Seperti saat membangun embung Guriola, pemerintah harus menghadapi tantangan sengit dari masyarakat setempat. Namun dengan berbagai pendekatan dan sosialisasi tentang manfaat embung maka semua persoalan bisa diselesaikan.
Selain membangun embung besar dan sedang, Pemerintah juga membangun embung-embung kecil  maupun jebakan-jebakan air yang bermanfaat sebagai wadah menangkap air saat hujan. “Hujan di Sabu sangat sedikit sehingga kalau kita tidak berusaha menangkap air tersebut dengan membiarkanya lari kelaut, maka pulau ini akan terus begelut dengan kekringan. Kita harus akui bahwa kita juga sering mendapat tantangan dari masyarakat ketika kita hendak melakukan pembangunan, termasuk dalam membangun embung,” ungkap Matade, sapaan akrab Marthen Dira Tome.
Salah satu embung yang fenomenal adalah embung Guriola yang kini telah menjadi lautan kecil di Desa Raenyale, Kecamatan Sabu Raijua. Dulu ketika embung ini hendak dibangun, perlawan yang cukup keras dilakukan oleh pemilik lahan. Namun ketika embung ini telah menampung jutaan kubik air, mata mereka terbelalak. Guriola bahkan kini menjadi tempat dan bumi baru bagi masyarakat untuk berwisata. Mereka begitu cepat melupakan kebencian yang terlontar kala pemerintah hendak membangun embung Guriola. Cacian dan makian yang terlntar kepada Bupati Sabu Raijua Marthen Dira Tome terbayar dengan mempesonanya embung Guriola yang untuk saat ini menjadi embung terbesar di tanah peninggalan Hawu Miha.
Tidak hanya itu, Untuk mengantisipasi kesulitan air pada musim kemarau tahun ini, Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua mengerjakan sumur bor di berbagai wilayah yang rawan air bersih. Pengerjaan sumur bor ini dilakukan secara manual oleh masyarakat dengan bantuan biaya dari pemerintah Daerah.
"Jadi saat ini kita sementara membuat sumur bor di beberapa wilayah yang memang-benar-benar krisis air pada saat kemarau seperti ini. Kita baru saja selesai kerja di Desa Keliha Kecamatan Sabu Timur, tepatnya disamping pasar Napuru," kata Bupati Sabu Raijua Marthen Dira Tome, lewat Ponselnya, Kamis (15/10/2014).
Marthen Dira Tome, menjelaskan, saat ini sudah ada empat titik sumur bor yang  dimanfaatkan oleh masyarakat yakni di Desa Jiwuwu dan Desa Keliha Kecamatan Sabu Timur. Kedua wilayah ini memang sangat kesulitan air ketika musim kemarau tiba. Dari Keliha  akan geser ke Desa Teriwu dan beberapa desa di kecamatan Mehara dan Liae. Diakuinya bahwa selama berpuluh-puluh tahun, masyarakat di Desa Keliha dan Jiwuwu serta beberapa desa lainnya harus bertarung dengan ganasnya kekeringan alam. Mereka harus berjalan berkilo-kilo meter hanya untuk mendapatkan air minum bagi keluarga. "Persoalan air menjadi tanggungjawab pemerintah bagimana menjawab kebutuhan masyarakat. Untuk itu maka selain embung, kita coba membuat sumur bor secara manual dan hasilnya cukup menolong masyarakat. Mereka yang selama ini berpeluh keringat dan air mata karena kekeringan, saat ini telah tersenyum karena ada mata air kehidupan," paparnya.
Menurutnya, orang Orang Sabu sangat pintar mendeteksi dimana ada air bawah tanah yang bisa dibor sehingga mudah untuk menentukan posisi mata air. "Kekeringan di NTT dan Sabu Raijua khususnya merupakan hal yang lasim sehingga tidak perlu diratapi atau ditangisi tetapi harus diatasi dengan cara-cara cerdas namun tidak memerlukan banyak biaya," ujarnya. Marthen Dira Tome mengatakan bahwa manusia, alam dan air adalah segitiga kehidupan yang harus dijaga keseimbangannya. "Karena itu saya berpesan kepada masyarakat agar menfaatkan mata air ini untuk kebaikan semua makluk dijagat ini,"tambahnya.
Untuk membuat satu sumur bor, kata Marthen, tidak membutuhkan waktu lama. Seperti yang telah dilakukan di empat titik di Jiwuwu dan Keliha, hanya dibutuhkan waktu 2 hari untuk satu sumur bor. Disisi lain biaya yang dibutuhkan juga tidak terlalu banyak, tergantung dari kedalaman air saat dilakukan pengeboran. "Dengan adanya air ini maka saya mengajak masyarakat untuk menciptakan alam yang layak untuk di huni dengan terus menanam. Saya juga berpesan supaya gunakan air yang ada untuk menyulam lingkungan yang gersang sehingga bisa mewariskan masa depan yang sejuk bagi generasi penerus," kata Marthen.
Apa yang menjadi mimpi Bupati dan Wakil Bupati dalam memenuhi kebutuhan air masyarakat didukung penuh oleh dinas teknis seperti Dinas Pekerjaan Umum. Pada akhir bulan September 2014 silam, Kepala Dinas PU Sabu Raijua, Lay Rohi, turun langsung menemui masyarakat di Pulau Raijua untuk menyampaikan kabar baik bahwa Pemerintah akan membangun beberapa embung di Pulau yang terpisah selat dengan Pulau Sabu ini.
Tidak tanggung-tanggung, Dinas PU Sabu Raijua langsung menurunkan alat berat ke Pulau Raijua dengan menggunakan Kapal Ferry. Hal ini dilakukan sebagai wujud keseriusan untuk melakukan akselerasi pembangunan di Sabu Raijua sekaligus pemerataan pembangunan. Sebab Pemerintah tidak mau ada yang menjadi anak tiri dalam pembangunan. Pemerintah menghendaki apa yang dirasakan oleh masyarakat di Pulau Sabu juga dirasakan oleh mereka yang ada di Pulau Raijua.
“Adalah penting kita melakukan pendekatan dengan masyarakat sebelum kita memulai sebuah pembangunan supaya mereka mengerti apa yang menjadi tujuan pemerintah sehingga tidak terjadi penolakan. Sebab kita sering berbenturan dengan masyarakat ketika kita hendak memulai suatu pembangunan,” Ungkap Lay Rohi.
Sebagai Dinas Teknis kata Lay Rohi, maka pihaknya selalu  mendeteksi wilayah-wilayah mana saja yang memiliki potensi untuk dibangun embung. Dari situ kemudian dilakukan pendekatan dan sosialisasi kepada masyarakat sehingga mereka dengan ikhas dan suka rela memberikan lahannya untuk dibangun embung maupun infrastruktur lainnya. 
Lay Rohi mengakui bahwa di Pulau Raijua lebih sulit air jika dibanding dengan Pulau Sabu, sehingga pembangunan embung merupakan solusi yang mutlak dilakukan selain mengoptimalkan beberapa mata air yang ada di Raijua sendiri. “Keberadaan embung Raijua, selain untuk mengatasi kekeringan saat musim kemarau, juga untuk kepentingan bercocok tanam, baik untuk lahan kering maupun lahan basah. Dengan demikian, tekad pemerintah untuk  memperbaiki ekonomi masyarakat dari bidang pertanian dapat terlaksana secara merata di seluruh kecamatan,”beber Lay.(joey rihi ga)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar