![]() |
| Marthen Dira Tome di sebuah embung di Sabu Tengah |
Sabu Raijua merupakan daerah semi arit
yang terkesan tandus dan kering, karena hanya disinggahi butiran air langit
yang cukup sedikit kala musim hujan menyapa wilayah ini. Sebagai daerah baru
tentu ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah setempat bagaimana
menuntaskan persoalan kebutuhan air bagi masyarakat yang ada di enam kecamatan
di Sabu Raijua. Air mata kekeringan memang menjadi sahabat setia ketika puncak
musim kemarau menggerayangi Pulau sejuta lontar ini. Bulan September hingga
November adalah masa kritis bagi masyarakat, hewan maupun tanaman yang
ditakdirkan Tuhan mendiami pulau Sabu Raijua.
Bagi Bupati Sabu Raijua, Marthen Dira
Tome dan Wakil Bupati Nikodemus Rihi Heke, tantangan dan kesulitan air di Sabu Raijua
merupakan peluang bagimana menghapus air mata kekeringan dan membangun mata air
harapan dengan membangun berbagai embung. Tidak heran jika saat ini sudah
banyak sekali embung yang telah dibangun di hampir semua kecamatan termasuk di
Pulau Raijua.
“Salah satu cara yang kita tempuh
bagimana supaya kesulitan air ini bisa kita tuntaskan adalah bagimana membangun
embung-embung supaya bisa menangkap air hujan ketika musim penghujan tiba.
Semakin banyak embaung yang dibangun maka akan semakin banyak persediaan air
baku sehingga apa yang selama ini menjadi pergumulan masyarakat bisa terjawab,”
ungkap Bupati Sabu Raijua, Marthen Dira Tome saat berbincang dengan Media NTT,
akhir pekan silam.
Selama 50 purnama memimpin Sabu Raijua,
Marthen Dira Tome selalu berkeliling dari satu kampung ke kampung lain untuk
mendengar dan melihat apa yang menjadi keluhan warganya sambil mendeteksi
lokasi-lokasi yang dapat dibangun embung. Hasilnya, saat ini sudah mulai
terlihat dimana embung-embung yang dibangun tahun 2012 dan 2013, telah memberi
hidup bagi warga sekitar embung sekaligus memberi pemandangan hujau ditengah
tandus yang mengganas.
“Bisa dilihat saat ini bahwa dengan
adanya embung dimana-mana, masyarakat sudah bisa menanam berbagai macam tanaman
seperti jagung, bawang maupun sayur-sayuran. Dengan semakin banyaknya embung
yang kita bangun maka kita harapkan ketersediaan air baku bagi masyarakat akan
tercukupi selain dari mata air yang ada,” kata suami dari Ny. Irna Dira Tome
ini.
Untuk membangun embung di Sabu Raijua,
Pemerintah tidak jarang harus berjibaku dengan masyarakat setempat yang menolak
lahan mereka dibangun embung-embung. Seperti saat membangun embung Guriola,
pemerintah harus menghadapi tantangan sengit dari masyarakat setempat. Namun
dengan berbagai pendekatan dan sosialisasi tentang manfaat embung maka semua
persoalan bisa diselesaikan.
Selain membangun embung besar dan
sedang, Pemerintah juga membangun embung-embung kecil maupun jebakan-jebakan air yang bermanfaat
sebagai wadah menangkap air saat hujan. “Hujan di Sabu sangat sedikit sehingga
kalau kita tidak berusaha menangkap air tersebut dengan membiarkanya lari
kelaut, maka pulau ini akan terus begelut dengan kekringan. Kita harus akui
bahwa kita juga sering mendapat tantangan dari masyarakat ketika kita hendak
melakukan pembangunan, termasuk dalam membangun embung,” ungkap Matade, sapaan
akrab Marthen Dira Tome.
Salah satu embung yang fenomenal adalah
embung Guriola yang kini telah menjadi lautan kecil di Desa Raenyale, Kecamatan
Sabu Raijua. Dulu ketika embung ini hendak dibangun, perlawan yang cukup keras
dilakukan oleh pemilik lahan. Namun ketika embung ini telah menampung jutaan
kubik air, mata mereka terbelalak. Guriola bahkan kini menjadi tempat dan bumi
baru bagi masyarakat untuk berwisata. Mereka begitu cepat melupakan kebencian
yang terlontar kala pemerintah hendak membangun embung Guriola. Cacian dan
makian yang terlntar kepada Bupati Sabu Raijua Marthen Dira Tome terbayar
dengan mempesonanya embung Guriola yang untuk saat ini menjadi embung terbesar
di tanah peninggalan Hawu Miha.
Tidak hanya itu, Untuk mengantisipasi
kesulitan air pada musim kemarau tahun ini, Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua
mengerjakan sumur bor di berbagai wilayah yang rawan air bersih. Pengerjaan
sumur bor ini dilakukan secara manual oleh masyarakat dengan bantuan biaya dari
pemerintah Daerah.
"Jadi
saat ini kita sementara membuat sumur bor di beberapa wilayah yang
memang-benar-benar krisis air pada saat kemarau seperti ini. Kita baru saja
selesai kerja di Desa Keliha Kecamatan Sabu Timur, tepatnya disamping pasar
Napuru," kata Bupati Sabu Raijua Marthen Dira Tome, lewat Ponselnya, Kamis
(15/10/2014).
Marthen Dira Tome, menjelaskan, saat ini
sudah ada empat titik sumur bor yang
dimanfaatkan oleh masyarakat yakni di Desa Jiwuwu dan Desa Keliha
Kecamatan Sabu Timur. Kedua wilayah ini memang sangat kesulitan air ketika
musim kemarau tiba. Dari Keliha akan
geser ke Desa Teriwu dan beberapa desa di kecamatan Mehara dan Liae. Diakuinya
bahwa selama berpuluh-puluh tahun, masyarakat di Desa Keliha dan Jiwuwu serta
beberapa desa lainnya harus bertarung dengan ganasnya kekeringan alam. Mereka
harus berjalan berkilo-kilo meter hanya untuk mendapatkan air minum bagi
keluarga. "Persoalan air menjadi tanggungjawab pemerintah bagimana
menjawab kebutuhan masyarakat. Untuk itu maka selain embung, kita coba membuat
sumur bor secara manual dan hasilnya cukup menolong masyarakat. Mereka yang
selama ini berpeluh keringat dan air mata karena kekeringan, saat ini telah
tersenyum karena ada mata air kehidupan," paparnya.
Menurutnya, orang Orang Sabu sangat
pintar mendeteksi dimana ada air bawah tanah yang bisa dibor sehingga mudah
untuk menentukan posisi mata air. "Kekeringan di NTT dan Sabu Raijua
khususnya merupakan hal yang lasim sehingga tidak perlu diratapi atau ditangisi
tetapi harus diatasi dengan cara-cara cerdas namun tidak memerlukan banyak
biaya," ujarnya. Marthen Dira Tome mengatakan bahwa manusia, alam dan air
adalah segitiga kehidupan yang harus dijaga keseimbangannya. "Karena itu
saya berpesan kepada masyarakat agar menfaatkan mata air ini untuk kebaikan
semua makluk dijagat ini,"tambahnya.
Untuk membuat satu sumur bor, kata
Marthen, tidak membutuhkan waktu lama. Seperti yang telah dilakukan di empat titik
di Jiwuwu dan Keliha, hanya dibutuhkan waktu 2 hari untuk satu sumur bor.
Disisi lain biaya yang dibutuhkan juga tidak terlalu banyak, tergantung dari
kedalaman air saat dilakukan pengeboran. "Dengan adanya air ini maka saya
mengajak masyarakat untuk menciptakan alam yang layak untuk di huni dengan
terus menanam. Saya juga berpesan supaya gunakan air yang ada untuk menyulam
lingkungan yang gersang sehingga bisa mewariskan masa depan yang sejuk bagi
generasi penerus," kata Marthen.
Apa yang menjadi mimpi Bupati dan Wakil
Bupati dalam memenuhi kebutuhan air masyarakat didukung penuh oleh dinas teknis
seperti Dinas Pekerjaan Umum. Pada akhir bulan September 2014 silam, Kepala
Dinas PU Sabu Raijua, Lay Rohi, turun langsung menemui masyarakat di Pulau
Raijua untuk menyampaikan kabar baik bahwa Pemerintah akan membangun beberapa
embung di Pulau yang terpisah selat dengan Pulau Sabu ini.
Tidak tanggung-tanggung, Dinas PU Sabu
Raijua langsung menurunkan alat berat ke Pulau Raijua dengan menggunakan Kapal
Ferry. Hal ini dilakukan sebagai wujud keseriusan untuk melakukan akselerasi
pembangunan di Sabu Raijua sekaligus pemerataan pembangunan. Sebab Pemerintah
tidak mau ada yang menjadi anak tiri dalam pembangunan. Pemerintah menghendaki
apa yang dirasakan oleh masyarakat di Pulau Sabu juga dirasakan oleh mereka
yang ada di Pulau Raijua.
“Adalah penting kita melakukan
pendekatan dengan masyarakat sebelum kita memulai sebuah pembangunan supaya
mereka mengerti apa yang menjadi tujuan pemerintah sehingga tidak terjadi penolakan.
Sebab kita sering berbenturan dengan masyarakat ketika kita hendak memulai
suatu pembangunan,” Ungkap Lay Rohi.
Sebagai Dinas Teknis kata Lay Rohi, maka
pihaknya selalu mendeteksi
wilayah-wilayah mana saja yang memiliki potensi untuk dibangun embung. Dari
situ kemudian dilakukan pendekatan dan sosialisasi kepada masyarakat sehingga
mereka dengan ikhas dan suka rela memberikan lahannya untuk dibangun embung
maupun infrastruktur lainnya.
Lay Rohi mengakui bahwa di Pulau Raijua
lebih sulit air jika dibanding dengan Pulau Sabu, sehingga pembangunan embung
merupakan solusi yang mutlak dilakukan selain mengoptimalkan beberapa mata air
yang ada di Raijua sendiri. “Keberadaan embung Raijua, selain untuk mengatasi
kekeringan saat musim kemarau, juga untuk kepentingan bercocok tanam, baik
untuk lahan kering maupun lahan basah. Dengan demikian, tekad pemerintah
untuk memperbaiki ekonomi masyarakat
dari bidang pertanian dapat terlaksana secara merata di seluruh
kecamatan,”beber Lay.(joey rihi ga)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar