Kamis, 27 Agustus 2015

Hidup Mati Bersama Mandiri


Marthen Dira Tome bersama Masyarakat Desa Raerobo, Liae

Ketika rakyat merasakan jamahan dan sentuhan pelayanan yang baik dari seorang pemimpin, dengan sendirinya akan lahir sikap fanatisme untuk tetap mempertahankan sang pemimpin. Hal inilah yang sementara terjadi di Sabu Raijua menjelang pemilihan Bupati dan Wakil Bupati pada 9 Desember 2015.

Kata MANDIRI seperti sudah melekat dalam kehidupan masyarakat di Kabupaten Sabu Raijua. Kata tersebut mulai dikenal tak kala Marthen Dira Tome dan Nikodeus Rihi Heke maju dalam Pilkada Sabu Raijua pada 2010 silam. Kini kata Mandiri begitu membahana di seantero bumi sejuta lontar itu. Bagi orang Sabu Raijua, nama Marthen Dira Tome – Nikodemus Rihi Heke adalah Mandiri dan Mandiri adalah Marthen Dira Tome – Nikodemis Rihi Heke. Jangan heran ketika ditanya siapa yang mereka dukung dalam Pilkada nanti, semua seperti satu suara, kami mendukung MANDIRI. Mereka tidak menyebut Marthen Dira Tome – Nikodemus Rihi Heke ataupun nama panggilan akrab mereka Matade – Maballa.

Tanggal 14 Juni 2015, sehari setelah Paket Mandiri mengantarkan dokumen dukungan ke KPUD Sabu Raijua sebagai pasangan calon peseorangan/independen, tabloid Seputar NTT mencoba mengelili 5 kecamatan yang ada di Pulau Sabu. Ditemani oleh rekan wartawan dari tabloid Berita NTT, kami memulai perjalanan dari Kecamatan Hawu Mahera. Tujuannya adalah mengendus aroma dukungan terhadap Marthen Dira Tome – Nikodemus Rihi Heke, atau yang dikenal masyarakat sebagai Mandiri.

Melewati jalan lingkar/ringroad, kami mulai berkenala dibawah terik matahari untuk memastikan apa benar masyarakat masih menginginkan paket Mandiri memimpin Sabu Raijua lima tahun kedepan. Pasalnya, pada tanggal 13 Juni 2015, ribuan pendukung Mandiri sempat membuat macet jalan tras Seba-Bolou ketika mengantarkan dkumen ke KPUD. 

Untuk memastikannya, kami harus berkeliling. Dari Seba kami sudah melihat banyak stiker Mandiri terpampang di pintu rumah warga. Ada juga Posko Mandiri yang dibangun para relaman. Sepanjang jalan dari Seba menuju Desa Wadu Maddi Kecamatan Hawu Mehara, ada 32 posko Mandiri yang berdiri dipinggir jalan besar. Tidak tahu lagi jumlah posko yang ada dijalan Kecamatan atau jalan desa, karena kami tidak melewatinya. Jumlah tersebut akan bertambah seiring waktu Pilkada yang kian dekat. Kami belum melihat ada posko pasangan lain yang berdiri.

“Dulu kami tidak mendukung Mandiri disini, tapi sekarang kami sudah merasakan apa yang mereka buat untuk daerah ini. Apa salah kalau kami memilih orang yang sudah berbuat dan bekerja untuk membangun Sabu Raijua,” kata Mira Riwu warga desa Gurimonearu ketika berbincang – bincang dengan tablid Seputar NTT. 

Rupanya arus dukungan terhadap Paket Mandiri berubah drastis, sebab lima tahun lalu, tempat ini adalah daerah “merah” yang tidak memilih Marthen Dira Tome dan Nikodemus Rihi Heke. Ketika ditanya tentang sejumlah nama yang diprediksi akan maju, apakah dirinya nanti berubah pikiran, Mira Riwu menggelengkan kepalanya. Dia begitu bersemangat menceritakan tentang paket Mandiri yang ia dukung, bahkan berbagai isu yang sengaja dihembuskan oleh pihak lawan. Untuk Pilkada kali ini, ungkap Mira, dirinya bersama keluarga tidak melihat partai politik tapi melihat figure orang. 

“Kami memang ada dengar, katanya ada beberapa orang yang juga mau maju. Saya tidak perlu menyebut nama mereka karna saya sudah punya pilihan. Saya tidak masuk dalam tim relawan Mandiri, tapi saya sering ikut kalau Pak Bupati datang ke Mehara dan mendengar tentang mimpi dan masa depan yang dia sampaikan,” ujar Riwu.

Dari Kecamatan Hawu Mehara, kami melanjutkan perjalanan menuju Kecamatan Liae dimana pada Pilkada lalu Paket Mandiri menang telak. Dikecamatan ini pula program kebun rakyat mandiri dimulai ketika Marthen Dira Tome dan Nikodemus Rihi Reke mulai bekerja untuk memperkanalkan progrom Kebun Rakyat Mandiri atau program menanam di musim kemarau.

Memasuki Desa Deme, pohon gala-gala yang dulu ditanam oleh masyarakat di kebun mereka sudah tinggi. Ada beberapa ekor sapi yang diikat. Ternyata itu adalah sapi bantuan dari pemerintah bagi masyarakat yang memiliki pakan ternak. Kebun masyarakat juga sudah diolah untuk ditanam pada musim kemarau. Ada pula masyarakat yang sudah mulai menanam jagung dan sayur-sayuran dikebun mereka.

“Pak Bupati sudah kami kami berbagai bantuan sehingga kami tinggal kerja saja. Kadang-kadang Pak bupati datang beli sendiri kami punya hasil pertanian, itu yang membuat kami masyarakat tidak bisa melupakan beliau. Sebagai masyarakat kami sudah merasakan perubahan hidup dari pelayanan beliau. Kalau Tanya soal siapa yang kami dukung, maka kami secara tegas menyatakan dukungan kepada Mandiri,” kata Loni Lay, warga Desa Deme yang sedang sibuk dikebunnya.

Pendapat senada juga kami dapat dari masyarakat di Desa Bebae, Kecamatan Sabu Tengah. Adalah Agustina Haga, warga dusun Haidoi yang begitu fanatik dengan paket Mandiri. Saat kami berhenti untuk melihat ternak sapi yang gemuk bahkan ada yang bunting sedang diikat pada pohon gala-gala didepan rumah Agustina. Dia dan keluarga serta beberapa warga lainnya menghampiri kami. “Aduh saya pikir papa Matade,” katanya sambil tertawa ketika melihat ternyata yang datang bukan sang bupati.

Rupanya mereka sedang mengairi tanaman mereka di kebun. Ada beberapa orang yang sedang bersiap-siap menuju ke laut untuk melihat rumput laut milik mereka. Kami lalu berbincang-bincang tentang situasi menjelang pilkada dan bagimana pendapat mereka tentang Marthen Dira Tome dan Nikodemus Rihi Heke yang maju kembali untuk bertarung memimpin Sabu Raijua. “Ama tulis besar-besar disitu, hidup mati kami bersama Paket Mandiri,” kata Agustina penuh semangat.

Dia berkisah bahwa ketika :ilkada pada tahun 2010 silam dia bersama keluarga bahkan hampir semua warga desa Bebae tidak memilih paket Mandiri. Mereka lebih memilih keluarga kala itu, sebab pikirnya kalau keluarga pasti akan melihat kehidupan mereka yang ada dibalik kemiskinan. Ketika Paket Mandiri yang menjadi pemenang Pilkada, mereka kemudian kehilangan harapan. Mereka berpikir bahwa Marthen Dira Tome dan Nikodemus Rihi Heke tidak akan  mempedulikan mereka lagi.

“Jujur ama, waktu itu kami sudah putus harapan ketika Mandiri yang memang. Tapi ternyata, kami menjadi anak yang sangat dimanja leh Pak Bupati karna beliau melihat kami suka bekerja keras. Berbagai bantuan pak Bupati berikan bagi kami disini. Kami terharu ternyata beliau adalah tipe pemimpin yang tidak pernah berpikir apakah kami mendukung beliau waktu itu atau tidak. Sekarang kami sudah sadar dan apapun yang terjadi, hidup dan mati kami bersama Mandiri. Kalau Mandiri tidak maju maka kami semua akan tidur saja di rumah dan tidak memberikan hak pilih,” ungkap Ketua kelompok tani Suka Maju ini.

Dia tidak menampik kalau ada orang yang datang mempengaruhi mereka untuk tidak lagi memilih Marthen Dira Tome dan Nikodemus Rihi Heke. Tak sungkan-sungkan, pihak lawan datang dengan sejumlah isu pembusukan agar simpati masyarakat terhadap Paket Mandiri memudar. Namun mereka tidak peduli, bahkan menceritakan kembali kepada para penebar isu apa saja bantuan dari pemerintah bagi mereka. Bagimana hidup mereka berubah dan tidak lagi susah seperti dulu. 

“Kami sempat menangis waktu bapak jadi tersangka. Mereka bilang bapak sudah ditangkap KPK. Kami menangis seperti ada orang yang mati, hati kami hancur luluh. Bagi kami, Pak Marthen itu bukan sekedar Bupati tapi sudah menjadi bapak bagi kami. Kami kumpul banyak orang dan berdoa buat bapak, kami minta supaya Tuhan yang maha adil tetap memberikan kesempatan bagi bapak untuk menjadi pemimpin kami. Ketika kami lihat bapak ada di Sabu dan ada bekerja kami berteriak kegirangan,” ujar Agustina sambil terharu. 

Apa yang dialami oleh Agsutina, juga dirasakan oleh warga Dusun I, Desa Raekore, Kecamatan Sabu Barat. Namanya Aritif Bara Lado. Ketika kami bertandang, dia sedang mengairi bawan dikebun miliknya. Hamparan kebun bawang yang sedang menghijau seakan melawan terik matahri yang begitu panas siang itu. Martna berkisah bahwa dia bisa membangun rumah permanan dari hasil bawang tahun 2014 lalu.

“Ini rumah saya bangun dari hasil jual bawang. Tahun lalu saya tanam tidak terlalu banyak seperti sekarang, saya mendapatkan uang 17 juta rupiah dan saya gunakan untuk bangun rumah. Banyak sekali bantuan yang kami dapat dari pak Bupati, mulai dari benih, pupuk, mtor air bahkan selang, sehingga kami hanya tinggal kerja. Karna itu, rumah ini saya kasih nama “Rumah bawang Mandiri,” tuturnya. (joey rihi ga)





Tidak ada komentar:

Posting Komentar