![]() |
| Marthen Dira Tome bersama Masyarakat Desa Raerobo, Liae |
Ketika rakyat merasakan jamahan dan sentuhan pelayanan yang baik
dari seorang pemimpin, dengan sendirinya akan lahir sikap fanatisme untuk tetap
mempertahankan sang pemimpin. Hal inilah yang sementara terjadi di Sabu Raijua menjelang
pemilihan Bupati dan Wakil Bupati pada 9 Desember 2015.
Kata MANDIRI
seperti sudah melekat dalam kehidupan masyarakat di Kabupaten Sabu Raijua. Kata
tersebut mulai dikenal tak kala Marthen Dira Tome dan Nikodeus Rihi Heke maju
dalam Pilkada Sabu Raijua pada 2010 silam. Kini kata Mandiri begitu membahana
di seantero bumi sejuta lontar itu. Bagi orang Sabu Raijua, nama Marthen Dira
Tome – Nikodemus Rihi Heke adalah Mandiri dan Mandiri adalah Marthen Dira Tome
– Nikodemis Rihi Heke. Jangan heran ketika ditanya siapa yang mereka dukung
dalam Pilkada nanti, semua seperti satu suara, kami mendukung MANDIRI. Mereka
tidak menyebut Marthen Dira Tome – Nikodemus Rihi Heke ataupun nama panggilan
akrab mereka Matade – Maballa.
Tanggal 14
Juni 2015, sehari setelah Paket Mandiri mengantarkan dokumen dukungan ke KPUD
Sabu Raijua sebagai pasangan calon peseorangan/independen, tabloid Seputar NTT
mencoba mengelili 5 kecamatan yang ada di Pulau Sabu. Ditemani oleh rekan
wartawan dari tabloid Berita NTT, kami memulai perjalanan dari Kecamatan Hawu
Mahera. Tujuannya adalah mengendus aroma dukungan terhadap Marthen Dira Tome –
Nikodemus Rihi Heke, atau yang dikenal masyarakat sebagai Mandiri.
Melewati
jalan lingkar/ringroad, kami mulai berkenala dibawah terik matahari untuk
memastikan apa benar masyarakat masih menginginkan paket Mandiri memimpin Sabu
Raijua lima tahun kedepan. Pasalnya, pada tanggal 13 Juni 2015, ribuan
pendukung Mandiri sempat membuat macet jalan tras Seba-Bolou ketika mengantarkan
dkumen ke KPUD.
Untuk
memastikannya, kami harus berkeliling. Dari Seba kami sudah melihat banyak
stiker Mandiri terpampang di pintu rumah warga. Ada juga Posko Mandiri yang
dibangun para relaman. Sepanjang jalan dari Seba menuju Desa Wadu Maddi
Kecamatan Hawu Mehara, ada 32 posko Mandiri yang berdiri dipinggir jalan besar.
Tidak tahu lagi jumlah posko yang ada dijalan Kecamatan atau jalan desa, karena
kami tidak melewatinya. Jumlah tersebut akan bertambah seiring waktu Pilkada
yang kian dekat. Kami belum melihat ada posko pasangan lain yang berdiri.
“Dulu kami
tidak mendukung Mandiri disini, tapi sekarang kami sudah merasakan apa yang
mereka buat untuk daerah ini. Apa salah kalau kami memilih orang yang sudah
berbuat dan bekerja untuk membangun Sabu Raijua,” kata Mira Riwu warga desa
Gurimonearu ketika berbincang – bincang dengan tablid Seputar NTT.
Rupanya arus
dukungan terhadap Paket Mandiri berubah drastis, sebab lima tahun lalu, tempat
ini adalah daerah “merah” yang tidak memilih Marthen Dira Tome dan Nikodemus
Rihi Heke. Ketika ditanya tentang sejumlah nama yang diprediksi akan maju, apakah
dirinya nanti berubah pikiran, Mira Riwu menggelengkan kepalanya. Dia begitu
bersemangat menceritakan tentang paket Mandiri yang ia dukung, bahkan berbagai
isu yang sengaja dihembuskan oleh pihak lawan. Untuk Pilkada kali ini, ungkap
Mira, dirinya bersama keluarga tidak melihat partai politik tapi melihat figure
orang.
“Kami memang
ada dengar, katanya ada beberapa orang yang juga mau maju. Saya tidak perlu
menyebut nama mereka karna saya sudah punya pilihan. Saya tidak masuk dalam tim
relawan Mandiri, tapi saya sering ikut kalau Pak Bupati datang ke Mehara dan
mendengar tentang mimpi dan masa depan yang dia sampaikan,” ujar Riwu.
Dari
Kecamatan Hawu Mehara, kami melanjutkan perjalanan menuju Kecamatan Liae dimana
pada Pilkada lalu Paket Mandiri menang telak. Dikecamatan ini pula program
kebun rakyat mandiri dimulai ketika Marthen Dira Tome dan Nikodemus Rihi Reke
mulai bekerja untuk memperkanalkan progrom Kebun Rakyat Mandiri atau program
menanam di musim kemarau.
Memasuki Desa
Deme, pohon gala-gala yang dulu ditanam oleh masyarakat di kebun mereka sudah
tinggi. Ada beberapa ekor sapi yang diikat. Ternyata itu adalah sapi bantuan
dari pemerintah bagi masyarakat yang memiliki pakan ternak. Kebun masyarakat
juga sudah diolah untuk ditanam pada musim kemarau. Ada pula masyarakat yang
sudah mulai menanam jagung dan sayur-sayuran dikebun mereka.
“Pak Bupati
sudah kami kami berbagai bantuan sehingga kami tinggal kerja saja.
Kadang-kadang Pak bupati datang beli sendiri kami punya hasil pertanian, itu
yang membuat kami masyarakat tidak bisa melupakan beliau. Sebagai masyarakat
kami sudah merasakan perubahan hidup dari pelayanan beliau. Kalau Tanya soal
siapa yang kami dukung, maka kami secara tegas menyatakan dukungan kepada
Mandiri,” kata Loni Lay, warga Desa Deme yang sedang sibuk dikebunnya.
Pendapat
senada juga kami dapat dari masyarakat di Desa Bebae, Kecamatan Sabu Tengah.
Adalah Agustina Haga, warga dusun Haidoi yang begitu fanatik dengan paket
Mandiri. Saat kami berhenti untuk melihat ternak sapi yang gemuk bahkan ada
yang bunting sedang diikat pada pohon gala-gala didepan rumah Agustina. Dia dan
keluarga serta beberapa warga lainnya menghampiri kami. “Aduh saya pikir papa
Matade,” katanya sambil tertawa ketika melihat ternyata yang datang bukan sang
bupati.
Rupanya
mereka sedang mengairi tanaman mereka di kebun. Ada beberapa orang yang sedang
bersiap-siap menuju ke laut untuk melihat rumput laut milik mereka. Kami lalu
berbincang-bincang tentang situasi menjelang pilkada dan bagimana pendapat
mereka tentang Marthen Dira Tome dan Nikodemus Rihi Heke yang maju kembali
untuk bertarung memimpin Sabu Raijua. “Ama tulis besar-besar disitu, hidup mati
kami bersama Paket Mandiri,” kata Agustina penuh semangat.
Dia berkisah
bahwa ketika :ilkada pada tahun 2010 silam dia bersama keluarga bahkan hampir
semua warga desa Bebae tidak memilih paket Mandiri. Mereka lebih memilih
keluarga kala itu, sebab pikirnya kalau keluarga pasti akan melihat kehidupan
mereka yang ada dibalik kemiskinan. Ketika Paket Mandiri yang menjadi pemenang
Pilkada, mereka kemudian kehilangan harapan. Mereka berpikir bahwa Marthen Dira
Tome dan Nikodemus Rihi Heke tidak akan
mempedulikan mereka lagi.
“Jujur ama,
waktu itu kami sudah putus harapan ketika Mandiri yang memang. Tapi ternyata,
kami menjadi anak yang sangat dimanja leh Pak Bupati karna beliau melihat kami
suka bekerja keras. Berbagai bantuan pak Bupati berikan bagi kami disini. Kami
terharu ternyata beliau adalah tipe pemimpin yang tidak pernah berpikir apakah
kami mendukung beliau waktu itu atau tidak. Sekarang kami sudah sadar dan
apapun yang terjadi, hidup dan mati kami bersama Mandiri. Kalau Mandiri tidak
maju maka kami semua akan tidur saja di rumah dan tidak memberikan hak pilih,”
ungkap Ketua kelompok tani Suka Maju ini.
Dia tidak
menampik kalau ada orang yang datang mempengaruhi mereka untuk tidak lagi
memilih Marthen Dira Tome dan Nikodemus Rihi Heke. Tak sungkan-sungkan, pihak
lawan datang dengan sejumlah isu pembusukan agar simpati masyarakat terhadap
Paket Mandiri memudar. Namun mereka tidak peduli, bahkan menceritakan kembali
kepada para penebar isu apa saja bantuan dari pemerintah bagi mereka. Bagimana
hidup mereka berubah dan tidak lagi susah seperti dulu.
“Kami sempat
menangis waktu bapak jadi tersangka. Mereka bilang bapak sudah ditangkap KPK.
Kami menangis seperti ada orang yang mati, hati kami hancur luluh. Bagi kami,
Pak Marthen itu bukan sekedar Bupati tapi sudah menjadi bapak bagi kami. Kami
kumpul banyak orang dan berdoa buat bapak, kami minta supaya Tuhan yang maha
adil tetap memberikan kesempatan bagi bapak untuk menjadi pemimpin kami. Ketika
kami lihat bapak ada di Sabu dan ada bekerja kami berteriak kegirangan,” ujar
Agustina sambil terharu.
Apa yang
dialami oleh Agsutina, juga dirasakan oleh warga Dusun I, Desa Raekore,
Kecamatan Sabu Barat. Namanya Aritif Bara Lado. Ketika kami bertandang, dia
sedang mengairi bawan dikebun miliknya. Hamparan kebun bawang yang sedang
menghijau seakan melawan terik matahri yang begitu panas siang itu. Martna
berkisah bahwa dia bisa membangun rumah permanan dari hasil bawang tahun 2014
lalu.
“Ini rumah
saya bangun dari hasil jual bawang. Tahun lalu saya tanam tidak terlalu banyak
seperti sekarang, saya mendapatkan uang 17 juta rupiah dan saya gunakan untuk
bangun rumah. Banyak sekali bantuan yang kami dapat dari pak Bupati, mulai dari
benih, pupuk, mtor air bahkan selang, sehingga kami hanya tinggal kerja. Karna
itu, rumah ini saya kasih nama “Rumah bawang Mandiri,” tuturnya. (joey rihi ga)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar