![]() |
| Marthen Dira Tome saat penan padi bersama petani di Desa Nadawai, Sabu Barat |
Hamparan sawah yang menguning menyambut kedatangan kami di dusun
huli Desa Nadawai, Kecamatan Sabu Barat pada Sabtu 28 Maret 2015. Ada ratusan
orang yang tengah bergotong royong menyabit bulir padi dari dalam sawah tadah
hujan. Ada 20 hektar lahan sawah yang baru dibuka pada musum tanam kali ini.
Dikerjakan oleh kelompok mira dai dibawah pimpinan ketua kelompok Frans Wadu
Netu.
Mobil
hi-lux putih yang masuk area persawan tersebut sempat membuyarkan keasyikan para
petani yang sedang panen raya. Mereka terperangah ketika dari mobil tersebut
keluar Bupati Sabu Raijua, Marthen Dira Tome. Lambaian tangan sang bupati
disambut tampik sorak kegembiraan dari para petani. Seperti dikomando mereka
berhenti, setengah berlari berusaha memberi ciuman sabu bagi Bupati.
Ditengah
para petani ada juga Kepala Desa Nadawai yang baru terpilih, Mathias Djara Liwe
yang akrab disapa Ama Moy. Dia adalah ketua tim relawan paket mandiri jilid II
yang akan dihelat pada 9 Desember 2015 jika tak ada aral yang merintang. Ada
juga Kepala Dinas Pertanian dan perkebunan Kabupaten Sabu Raijua, Marnsi R Kore
yang sedang mengukur estimasi hasil panen para petani.
Bupati Marthen
Dira Tome berlari kecil diantara pematang sawah, dia merasa gembira dengan
hasil kerja para petani. Pasalnya, mereka telah meminta embung kepada
pemerintah supaya mereka bisa mencetak sawah baru. Sebagai lahan baru, hasil panen
mereka rata-rata delapan ton per hektar. Artinya ada 160 ton gabah kering yang
mampu mereka produksi menggunakan air hujan dibantu dengan pengairan dari
embung yang telah dibangun sebelumnya.
Bupati
kemudian turun kedalam sawah untuk panen bersama masyarakat. .Sabit ditangan
kananya menari dengan cepat untuk memisahkan bulir dari batang padi yang sudah
menguning. Usai panen, Bupati Marthen Dira Tome kemudian memberikah arahan
kepada para petani bagimana menyiapkan pangan yang cukup dengan memanfaatkan
setiap potensi air yang ada di Sabu Raijua.
“Pangan
itu adalah sesuatu yang tidak bisa tergantikan dari kehidupan manusia, tanpa
pangan manusia akan mati, dan tanpa pangan yang cukup dan bergisi maka manusia
menjadi tidak cerdas. Langkah masyarakat disini patut diberi dukungan karena
telah memberi bukti kepada pemerintah untuk menyiapkan embung dan menjawabnya
dengan mencetak lahan sawah baru,” kata Bupati
Bupati
menegaskan, pangan adalah harga diri masyarakat dalam sebuah daerah. Kecukupan
pangan tanpa meminta-minta adalah pembuktian harga diri yang harus dimiliki
oleh masyarakat di Kabupaten Sabu Raijua. Untuk itu, pemerintah berusaha
menjawab setiap kebutuhan masyarakat terutama yang berkaitan dengan percepatan
peningkatan ekonomi, dimana pangan merupakan salah satu indikator baik atau
buruknya ekonomi masyarakat.
“Kita
harus mampu mengusir kemiskinan dari daerah ini dengan cara bekerja keras.
Kemiskinan tidak boleh tinggal di Sabu Raijua dan kita buktikan kita bukan
bangsa pengemis yang hanya menunggu uluran tangan pemerintah lewat beras
miskin,” tegas Bupati.
Dengan
mempersiapkan pangan yang cukup dan bergisi kata Marthen Dira Tome, kita sedang
menyiapkan generasi-generasi Sabu Raijua yang cerdas dan bisa bersaing dengan
dearah lain dari sisi intelektual. “Dengan cukup makan dan cukup gisi, kita
sedang mempersiapkan anak-anak dan penuerus yang cerdas. Karena itu saya minta
kepada semua masyarakat di Sabu Raijua untuk tidak lelah bekerja keras sehingga
kita mampu mencetak calon pemimpin masa depan,” pungkasnya.
Ketua
kelompok Miradei, Frans Wadu Netu kepada Bupati mengungkapkan rasa terimakasih karena
telah dibantu dengan berbagi peralatan pertanian (Altan) sehingga memberi
mereka kemudahan sekaligus semangat untuk bekerja. Menurutnya, hanya masyarakat
yang malas saja yang bersahabat dengan kekurangan pangan, sebab saat ini apapun
keluhan masyarakat selalu dijawab oleh pemerintah dengan berbagai bantuan.
“Dulu
lahan ini adalah lahan tidur yang tidak pernah diolah. Namun dengan dorogan yang kuat dari pemerintah
lewat bantuan kepada kami, maka saat ini lahan yang dulu hanya hanya ditumbuhi
rumput liar, kini telah berubah menjadi hamparan sawah. Pemimpin yang baik
adalah pemimpin yang selalu memikirkan perut masyarakatnya dan tahu bagimana cara yang tepat mengatasi persoalan
yang dihadapi masyarakat,” ungkap Frans.
Dari
Nadawawi, Mobil hi-lux yang ditumpangi Bupati Marthen Dira Tome melaju menuju
Desa Raenalulu di Kecamatan Sabu Barat. Ada keluarga yang berduka disana dan
sudah memberitahukan kepada Bupati sebagai keluarga. Bagi orang Sabu Raijua,
hambar rasanya, jika kabar duka sudah sampai ke rumah lalu kita tidak pergi
untuk melayat. Dan sesempit apapun waktu bupati, dia akan berusaha untuk sampai
ditenda duka.
Sesampai
disana, sudah banyak keluarga yang sedang melayat. Ada dua anggota DPRD Sabu
Raijua yang juga sudah lebih dahulu melayat yakni leonidas V.C Adoe dan
Donserses Naralulu. Keduanya adalah anggota fraksi PDIP yang sering
bersebarangan dengan kebijakan Bupati. Namun jika ditenda duka, berciuman wajib
hukumnya, tanpa harus memilah mana ciuman tulus dan mana ciuman Yudas.
Diantara
para orang tua-tua kampung disana, Bupati Marthen Dira Tome bercerita tentang
apa saja yang dilakukannya setiap hari, termasuk memberitahukan bahwa baru saja
panen dengan masyarakat di Nadawawi. Yang namanya di tenda duka, jika ada orang
besar seperti bupati yang hadir dan berceritera, maka semua orang akan merapat
untuk mendengarkan, sekaligus ingin menyampaikan keluhan mereka, dengan harapan
pemerintah bisa membantu.
Dimulai
dari percakapan soal pembangunan embung-embung dan manfaatnya bagi masyarakat
sambil memberi contoh di beberapa wilayah yang telah merasakan manfaat dari kehadiran
sebuah embug, Marthen Dira Tome memberi penyadaran kepada masyarakat sekaligus
memberitahukan secara langsung dan lisan apa yang telah dia perbuat sebagai
pemerintah, atas mandat yang diberikan padanya saat Pilkada.
“Jangan
percaya itu, DPR dong, mereka hanya datang tipu-tipu kita. Ini yang pak bupati
omong yang benar jadi kalau mau minta bangun embung langsung bilang saja di
Bupati sekarang,” kata salah satu orang tua yang duduk persis di depan Bupati.
Orang tua
yang sudah renta dan menggunakan destar (lehu hawu) ini menyampaikan bahwa dia
memiliki lokasi untuk membangun embung. “Kalau Pak Bupati bisa bantu, saya
sudah siapkan lahan untuk bangun embung. Tidak ada persoalan lahan karena itu
milik saya sendiri. Kami sangat susah air disini,” katanya.
Bupati
lalu menjawab, bahwa dalam waktu dekat, alat berat akan segera masuk ke desa
Raenalulu. Bila alat berat sudah masuk, masyarakat bisa membangun beberapa
embung diwilayah itu. “Jangan hanya bangun satu embung, bisa buat lebih kalau
alat sudah masuk kesini yang penting lahan tidak ada persoalan,” kata Bupati.
Tidak
hanya tentang pembangunan embung yang diceritakan Bupati, ada berbagai program
baik yang sudah dilakukan maupun yang akan dilakukan pada waktu mendatang, jika
masyarakat Sabu Raijua masih memberi kepercayaan pada dirinya bersama wakil
Bupati untuk melanjutkan pembangunan lima tahun mendatang.
“Kita saat ini sudah bangun tiga pabrik, kita
juga lagi membangun tambak garam. Pabrik dan tembak garam yang kita buat ini
akan memberi peluang kerja bagi anak-anak Sabu raijua. Saya dengar banyak
anak-anak kita yang terpaksa keluar dari Sabu untuk bekerja diluar sebagai
penyadap nira lontar karena disini tidak lapangan kerja buat mereka hidup”
terang bupati.
Banyak
hal yang disampaikan Bupati kepada masyarakat sambil sesekali mengunyak sirih
pinang. Pertemuan dalam tenda duka yang benar-benar menyentuh hati. Hasrat
warga Raenalulu untuk lebih lama berbincang dengan sang Bupati harus diakhiri
ketika Mentari hendak meinggalkan bumi menuju peraduannya. Bupati pun harus
pamit dan seperti waktu datang, mereka kembali berciuman layaknya tradisi di
tanah peninggalan Hawu Miha. (joey rihi ga)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar