Kamis, 27 Agustus 2015

Panen di Nadawawi, Berkabung di Raenalulu


Marthen Dira Tome saat penan padi bersama petani di Desa Nadawai, Sabu Barat

Hamparan sawah yang menguning menyambut kedatangan kami di dusun huli Desa Nadawai, Kecamatan Sabu Barat pada Sabtu 28 Maret 2015. Ada ratusan orang yang tengah bergotong royong menyabit bulir padi dari dalam sawah tadah hujan. Ada 20 hektar lahan sawah yang baru dibuka pada musum tanam kali ini. Dikerjakan oleh kelompok mira dai dibawah pimpinan ketua kelompok Frans Wadu Netu.

Mobil hi-lux putih yang masuk area persawan tersebut sempat membuyarkan keasyikan para petani yang sedang panen raya. Mereka terperangah ketika dari mobil tersebut keluar Bupati Sabu Raijua, Marthen Dira Tome. Lambaian tangan sang bupati disambut tampik sorak kegembiraan dari para petani. Seperti dikomando mereka berhenti, setengah berlari berusaha memberi ciuman sabu bagi Bupati. 

Ditengah para petani ada juga Kepala Desa Nadawai yang baru terpilih, Mathias Djara Liwe yang akrab disapa Ama Moy. Dia adalah ketua tim relawan paket mandiri jilid II yang akan dihelat pada 9 Desember 2015 jika tak ada aral yang merintang. Ada juga Kepala Dinas Pertanian dan perkebunan Kabupaten Sabu Raijua, Marnsi R Kore yang sedang mengukur estimasi hasil panen para petani.

Bupati Marthen Dira Tome berlari kecil diantara pematang sawah, dia merasa gembira dengan hasil kerja para petani. Pasalnya, mereka telah meminta embung kepada pemerintah supaya mereka bisa mencetak sawah baru. Sebagai lahan baru, hasil panen mereka rata-rata delapan ton per hektar. Artinya ada 160 ton gabah kering yang mampu mereka produksi menggunakan air hujan dibantu dengan pengairan dari embung yang telah dibangun sebelumnya.

Bupati kemudian turun kedalam sawah untuk panen bersama masyarakat. .Sabit ditangan kananya menari dengan cepat untuk memisahkan bulir dari batang padi yang sudah menguning. Usai panen, Bupati Marthen Dira Tome kemudian memberikah arahan kepada para petani bagimana menyiapkan pangan yang cukup dengan memanfaatkan setiap potensi air yang ada di Sabu Raijua.

“Pangan itu adalah sesuatu yang tidak bisa tergantikan dari kehidupan manusia, tanpa pangan manusia akan mati, dan tanpa pangan yang cukup dan bergisi maka manusia menjadi tidak cerdas. Langkah masyarakat disini patut diberi dukungan karena telah memberi bukti kepada pemerintah untuk menyiapkan embung dan menjawabnya dengan mencetak lahan sawah baru,” kata Bupati

Bupati menegaskan, pangan adalah harga diri masyarakat dalam sebuah daerah. Kecukupan pangan tanpa meminta-minta adalah pembuktian harga diri yang harus dimiliki oleh masyarakat di Kabupaten Sabu Raijua. Untuk itu, pemerintah berusaha menjawab setiap kebutuhan masyarakat terutama yang berkaitan dengan percepatan peningkatan ekonomi, dimana pangan merupakan salah satu indikator baik atau buruknya ekonomi masyarakat.

“Kita harus mampu mengusir kemiskinan dari daerah ini dengan cara bekerja keras. Kemiskinan tidak boleh tinggal di Sabu Raijua dan kita buktikan kita bukan bangsa pengemis yang hanya menunggu uluran tangan pemerintah lewat beras miskin,” tegas Bupati.

Dengan mempersiapkan pangan yang cukup dan bergisi kata Marthen Dira Tome, kita sedang menyiapkan generasi-generasi Sabu Raijua yang cerdas dan bisa bersaing dengan dearah lain dari sisi intelektual. “Dengan cukup makan dan cukup gisi, kita sedang mempersiapkan anak-anak dan penuerus yang cerdas. Karena itu saya minta kepada semua masyarakat di Sabu Raijua untuk tidak lelah bekerja keras sehingga kita mampu mencetak calon pemimpin masa depan,” pungkasnya.

Ketua kelompok Miradei, Frans Wadu Netu kepada Bupati mengungkapkan rasa terimakasih karena telah dibantu dengan berbagi peralatan pertanian (Altan) sehingga memberi mereka kemudahan sekaligus semangat untuk bekerja. Menurutnya, hanya masyarakat yang malas saja yang bersahabat dengan kekurangan pangan, sebab saat ini apapun keluhan masyarakat selalu dijawab oleh pemerintah dengan berbagai bantuan.

“Dulu lahan ini adalah lahan tidur yang tidak pernah diolah. Namun  dengan dorogan yang kuat dari pemerintah lewat bantuan kepada kami, maka saat ini lahan yang dulu hanya hanya ditumbuhi rumput liar, kini telah berubah menjadi hamparan sawah. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang selalu memikirkan perut masyarakatnya dan tahu  bagimana cara yang tepat mengatasi persoalan yang dihadapi masyarakat,” ungkap Frans.

Dari Nadawawi, Mobil hi-lux yang ditumpangi Bupati Marthen Dira Tome melaju menuju Desa Raenalulu di Kecamatan Sabu Barat. Ada keluarga yang berduka disana dan sudah memberitahukan kepada Bupati sebagai keluarga. Bagi orang Sabu Raijua, hambar rasanya, jika kabar duka sudah sampai ke rumah lalu kita tidak pergi untuk melayat. Dan sesempit apapun waktu bupati, dia akan berusaha untuk sampai ditenda duka.

Sesampai disana, sudah banyak keluarga yang sedang melayat. Ada dua anggota DPRD Sabu Raijua yang juga sudah lebih dahulu melayat yakni leonidas V.C Adoe dan Donserses Naralulu. Keduanya adalah anggota fraksi PDIP yang sering bersebarangan dengan kebijakan Bupati. Namun jika ditenda duka, berciuman wajib hukumnya, tanpa harus memilah mana ciuman tulus dan mana ciuman Yudas.

Diantara para orang tua-tua kampung disana, Bupati Marthen Dira Tome bercerita tentang apa saja yang dilakukannya setiap hari, termasuk memberitahukan bahwa baru saja panen dengan masyarakat di Nadawawi. Yang namanya di tenda duka, jika ada orang besar seperti bupati yang hadir dan berceritera, maka semua orang akan merapat untuk mendengarkan, sekaligus ingin menyampaikan keluhan mereka, dengan harapan pemerintah bisa membantu.

Dimulai dari percakapan soal pembangunan embung-embung dan manfaatnya bagi masyarakat sambil memberi contoh di beberapa wilayah yang telah merasakan manfaat dari kehadiran sebuah embug, Marthen Dira Tome memberi penyadaran kepada masyarakat sekaligus memberitahukan secara langsung dan lisan apa yang telah dia perbuat sebagai pemerintah, atas mandat yang diberikan padanya saat Pilkada.

“Jangan percaya itu, DPR dong, mereka hanya datang tipu-tipu kita. Ini yang pak bupati omong yang benar jadi kalau mau minta bangun embung langsung bilang saja di Bupati sekarang,” kata salah satu orang tua yang duduk persis di depan Bupati.

Orang tua yang sudah renta dan menggunakan destar (lehu hawu) ini menyampaikan bahwa dia memiliki lokasi untuk membangun embung. “Kalau Pak Bupati bisa bantu, saya sudah siapkan lahan untuk bangun embung. Tidak ada persoalan lahan karena itu milik saya sendiri. Kami sangat susah air disini,” katanya.

Bupati lalu menjawab, bahwa dalam waktu dekat, alat berat akan segera masuk ke desa Raenalulu. Bila alat berat sudah masuk, masyarakat bisa membangun beberapa embung diwilayah itu. “Jangan hanya bangun satu embung, bisa buat lebih kalau alat sudah masuk kesini yang penting lahan tidak ada persoalan,” kata Bupati.

Tidak hanya tentang pembangunan embung yang diceritakan Bupati, ada berbagai program baik yang sudah dilakukan maupun yang akan dilakukan pada waktu mendatang, jika masyarakat Sabu Raijua masih memberi kepercayaan pada dirinya bersama wakil Bupati untuk melanjutkan pembangunan lima tahun mendatang.

 “Kita saat ini sudah bangun tiga pabrik, kita juga lagi membangun tambak garam. Pabrik dan tembak garam yang kita buat ini akan memberi peluang kerja bagi anak-anak Sabu raijua. Saya dengar banyak anak-anak kita yang terpaksa keluar dari Sabu untuk bekerja diluar sebagai penyadap nira lontar karena disini tidak lapangan kerja buat mereka hidup” terang bupati.

Banyak hal yang disampaikan Bupati kepada masyarakat sambil sesekali mengunyak sirih pinang. Pertemuan dalam tenda duka yang benar-benar menyentuh hati. Hasrat warga Raenalulu untuk lebih lama berbincang dengan sang Bupati harus diakhiri ketika Mentari hendak meinggalkan bumi menuju peraduannya. Bupati pun harus pamit dan seperti waktu datang, mereka kembali berciuman layaknya tradisi di tanah peninggalan Hawu Miha. (joey rihi ga)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar