Menjelang Pemilihan Kepala Daerah
dan Wakil Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Sabu Raijua tanggal 9 Desember 2015
mendatang, situasi politik di Sabu Raijua semakin hari semakin hangat. Dukungan
terhadap calon kandidat yang akan bertarungpun kian mengental warnanya.
Kandidat yang sudah menyatakan diri maju adalah Pasangan Marthen Dira Tome –
Nikodemus Rihi Heke. Dalam Pilkada ini, mereka
mengusung tagline Mandiri Jilid II.
Dukungan
terhadap Paket Mandiri mengental diseantero Sabu Raijua. Mereka menamakan diri
Relawan Mandiri Jilid II. Motonya “Kita adalah Mandiri, Karena Mandiri kita
Mandiri”. Untuk mencari tahu bagaimana
dukungan terhadap pasangan Marthen Dira Tome- Nikodemus Rihi Heke, Tabloid
Seputar NTT menjaring berbagai komentar dan alasan masyarakat kenapa mereka
masih menginginkan pasangat Mandiri memimpin Sabu Raijua lima tahun kedepan.
“Kami
memilih untuk mendukung Paket Mandiri karena mereka sudah berbuat banyak bagi
masyarakat, terutama dalam membangun ekonomi masyarakat lewat berbagai sentuhan
program yang pro rakyat,” kata-kata ini mengalir lancar dari mulut seorang
relawan. Dia adalah Habel Miha Gili, warga kelurahan Limaggu, Kecamatan Sabu
Timur.
Bagi Dia, Mandiri adalah jawaban
dari mimpi masyarakat terhadap seorang pemimpin yang menjawab persoalan yang
dihadapi rakyat. Untuk itu sebagai petani yang telah merasakan jamahan
pemerintahan dibawah kendali Dira Tome-Rihi Heke, maka sangat pantas jika
memiliki keinginan supaya kedua orang ini melanjutkan lagi kepemimpunan mereka
di Bumi Rai Hawu.
“Bagi kami para petani, Program yang
saat ini dilakukan oleh Paket Mandiri sama seperti Program dari surga yang
tidak disukai manusia tetapi menyelamatkan para petani. Mungkin saja tidak
semua orang menyukai pasangan ini, tetapi jika mereka ingin jujur dengan apa
yang sudah dilakukan di daerah ini, maka tidak ada alasan untuk tidak mendukung
pasangan ini dalam Pilkada bulan Desember nanti,” katanya.
Habel mengakui bahwa program yang
dilakukan Marthen Dira Tome dan Nikodemus Rihi Heke adalah program yang
langsung menyentuh kepada perut rakyat. Hanya seorang pemimpin yang empati
terhadap rakyat yang mampu meneropong apa yang ada dalam lumbung masyarakatnya.
Bagi orang yang malas bekerja, program ketahanan pangan yang dilakukan oleh
Bupati dan Wakil buptai melalui berbagai program seperti kebun rakyat mandiri
adalah program yang tidak masuk akal. Bagimana mungkin orang menanam pada musim
panas. Namun apa yang dilakukan oleh pemerintah ternyata bukan retorika belaka.
“Pak Marthen itu seperti seorang
yang hendak mengambil madu tanpa harus digigit oeh lebah. Dia adalah tipe
pemimpin yang selalu berada didepan rakyatnya, bukan berada dibelakang meja,
semua orang tahu itu. Dia adalah pemimpin tegas tapi memiliki rasa empati yang
mendalam terhadap persoalan yang dihadapi rakyatnya,” ungkap petani rumput laut
ini.
Pendapat senada juga dilontarkan Hendrik
Mone, Warga Desa Huwaga Kecamatan Sabu Timur. Dia berpendapat bahwa pasangan
ini sangat pantas untuk didukung dalam Pilkada nanti. Jawabannya sederhana
yakni, buka mata ebar-lebar dan lihat program yang telah mereka lakukan di
Kabupaten Sabu Raijua. Dia jujur bahwa saat Pilkada lalu dia sempat meragukan
kemampuan pasangan ini dalam memimpin sebuah kabupaten baru yang miskin dan
jauh dari sentuhan pembangunan.
“Kalau aturan tidak melarang
seseorang hanya dibatasi masa jabatannya hanya dua periode maka saya mau kedua
pasangan ini bisa memimpin sabu lebih dari dua periode. Pendapat saya ini bukan
karena saya kenal kedua pemimpin ini, tapi melihat kenyataan yang mereka
kerjakan sungguh luar biasa. Banyak orang yang mengatakan tidak ada perubahan
di Sabu Raijua selama empat tahun terakhir. Saya anggap mereka adalah orang
buta yang berteriak dari kegelapan malam,” ujarnya.
Dia mengatakan, tidak tepat jika
orang membandingkan kondisi Sabu Raijua dengan kota kupang atau Kabupaten lan
yang telah lama menjadi daerah otonom. Harus diakui bahwa ketika Sabu Raijua
masih menjadi wilayah kabupaten Kupang, daerah ini sangat jauh dari sumbu
ibukota serta jauh dari sentuhan pembangunan. “Harus dilihat secara baik bahwa
program utama pemerintah adalah bagimana rakyatnya kenyang dan tidak lapar.
Untuk apa punya jalan bagus kalau akhirnya harus jatuh karena kelaparan. Kalau
perut masyarakat sudah kenyang maka cepat atau lambat sarana jalan dan
lain-lain akan berubah,” imbuhnya.
Lain lagi apa yang diungkapkan Welem
Lobo, Warga Desa Mehona Kecamatan Liae. Menurutnya, Marthen Dira Tome dan
Nikodemus Rihi Heke adalah pemipin yang selalu dekat dengan jemaat. Mereke
paham benar bahwa jemaat gereja adalah masyarakat mereka sendiri yang tidak
boleh ditinggalkan. “Mereka tidak pernah berpangku tangan dalam berbagai
kegiatan pembangunan gereja. Hal itu tentu didasari dari pemikiran bahwa gereja
adalah bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat Sabu Raijua,” kata Welem.
Mencari figur seperti Marthen Dira
Tome saat ini sangat sulit, sebab untuk memimpin daerah yang serba kekurangan
ini membutuhkan enrgi yang luar biasa. Tidak hanya tenaga, tapi juga pikiran
yang jernih dalam memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi oleh masyarakat.
“bagi saya mereka adalah pasangan yang sangat layak untuk memimpin Sabu Raijua
lima tahun lagi. Mencari pemimpin yang selalu berada ditengah masyarakat dan
turun langsung dalam berbagai pembangunan menurut saya sudah langka untuk kita
temui di era ini,” tambahnya.
Lalu bagimana sosok Marthen Dira
Tome dan Nikodemus Rihi Heke bagi para Kepala Desa yang merupakan ujung tombak
pemerintah yang paling bawah? Bagi Kepala Desa Raenyale Kecamatan Sabu Barat,
Yan Haba Radja, sosok Bupati dan Wakil Bupati adalah panutan yang baik bagi
para Kepala Desa. Bupati kata Yan, tak sungkan-sungkan turun ke masyarakat
untuk melihat dan mendapingi setiap program yang sedang dijalankan.
“Kalau dulu masyarakat desa melihat
seorang bupati adalah pejabat besar maka tidak demikian dengan pak Marthen.
Beliau tidak menampakkan diri sebagai pemegang kekuasaan di Kabupaten Sabu
Raijua. Dengan kami para Kepala Desa, beliau selalu membangun komunikasi dan
koordinasi dengan baik, bahkan kami yang merasa sungkan dengan sikap beliau
yang tidak pernah merasa risih jika berada ditengah masyarakat,” ungkapnya
Sementara Mathias Djara Liwe, Kepala
Desa Nadawawi, Kecamatan Sabu Barat mengatakan, apa yang dijanjikan oleh Paket
Mandiri saat Pilkada semuanya telah dilaksanakan. “Setiap janji mereka sudah
dilaksanakan, bahwa ada program yang belum sempurna itu adalah hal yang wajar
sehingga mereka perlu melanjutkan kepemimpinan lima tahun lagi,” katanya.
Mengapa Ma Tade dan Ma Balla harus
maju lagi dan harus dipilih kembali kata Matias atau akrap disapa Ma Moy ,
karena selama lima tahun mereka bekerja rasanya waktu sangat singkat karena
setelah pelantikan mereka tidak langsung bisa melaksanakan program-programnya
tetapi masih harus melakukan pembenahan terhadap sepuluh kegiatan wajib yang
merupakan indikator penilaiaan Dirjen Otonomi Daerah, dimana sebagiannya sudah
harus diselesaikan oleh Penjabat Bupati waktu itu. Tetapi sampai dengan
pelantikan Ma Tade dan Ma Balla belum diselesaikan malah ada yang dilakukan
tetapi terbengkalai misalnya pekerjaan RTRW, itulah sebabnya Sabu Raijua
saat itu hendak digabung kembali dengan kabupaten induk (kabupaten
kupang) karena skor atau nilai dari sepuluh indikator tersebut tidak mencapai
angka minimal 60 saat itu malah berada
dibawah angka 40.
“Mereka menyadari kalau kondisi ini
tidak segera diperbaiki maka Sabu Raijua kembali gabung dengan Kabupaten Kupang
sebagai Kabupaten Induk. Tahun pertama bekerja mereka memperbaiki semua yang
dikerjakan dengan tidak beres oleh Penjabat Bupati, tahun itu pun
nilai meningkat menjadi 64, tahun kedua meningkat menjadi 72 dan tahun
ketiga meningkat dengan tajam menjadi 76.12. Pada akhirnya Sabu Raijua termasuk
rangking 7 dari 32 DOB se Indonesia dengan demikian Sabu Raijua telah bebas
dari ancaman gabung dengan Kabupaten Induk,”papar Ama Moy. (joey rihi ga)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar