Kamis, 27 Agustus 2015

Kita Adalah Mandiri



Menjelang Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Sabu Raijua tanggal 9 Desember 2015 mendatang, situasi politik di Sabu Raijua semakin hari semakin hangat. Dukungan terhadap calon kandidat yang akan bertarungpun kian mengental warnanya. Kandidat yang sudah menyatakan diri maju adalah Pasangan Marthen Dira Tome – Nikodemus Rihi Heke. Dalam Pilkada ini, mereka  mengusung tagline Mandiri Jilid II.

Dukungan terhadap Paket Mandiri mengental diseantero Sabu Raijua. Mereka menamakan diri Relawan Mandiri Jilid II. Motonya “Kita adalah Mandiri, Karena Mandiri kita Mandiri”.  Untuk mencari tahu bagaimana dukungan terhadap pasangan Marthen Dira Tome- Nikodemus Rihi Heke, Tabloid Seputar NTT menjaring berbagai komentar dan alasan masyarakat kenapa mereka masih menginginkan pasangat Mandiri memimpin Sabu Raijua lima tahun kedepan.
           
“Kami memilih untuk mendukung Paket Mandiri karena mereka sudah berbuat banyak bagi masyarakat, terutama dalam membangun ekonomi masyarakat lewat berbagai sentuhan program yang pro rakyat,” kata-kata ini mengalir lancar dari mulut seorang relawan. Dia adalah Habel Miha Gili, warga kelurahan Limaggu, Kecamatan Sabu Timur.

Bagi Dia, Mandiri adalah jawaban dari mimpi masyarakat terhadap seorang pemimpin yang menjawab persoalan yang dihadapi rakyat. Untuk itu sebagai petani yang telah merasakan jamahan pemerintahan dibawah kendali Dira Tome-Rihi Heke, maka sangat pantas jika memiliki keinginan supaya kedua orang ini melanjutkan lagi kepemimpunan mereka di Bumi Rai Hawu.

“Bagi kami para petani, Program yang saat ini dilakukan oleh Paket Mandiri sama seperti Program dari surga yang tidak disukai manusia tetapi menyelamatkan para petani. Mungkin saja tidak semua orang menyukai pasangan ini, tetapi jika mereka ingin jujur dengan apa yang sudah dilakukan di daerah ini, maka tidak ada alasan untuk tidak mendukung pasangan ini dalam Pilkada bulan Desember nanti,” katanya.

Habel mengakui bahwa program yang dilakukan Marthen Dira Tome dan Nikodemus Rihi Heke adalah program yang langsung menyentuh kepada perut rakyat. Hanya seorang pemimpin yang empati terhadap rakyat yang mampu meneropong apa yang ada dalam lumbung masyarakatnya. Bagi orang yang malas bekerja, program ketahanan pangan yang dilakukan oleh Bupati dan Wakil buptai melalui berbagai program seperti kebun rakyat mandiri adalah program yang tidak masuk akal. Bagimana mungkin orang menanam pada musim panas. Namun apa yang dilakukan oleh pemerintah ternyata bukan retorika belaka.

“Pak Marthen itu seperti seorang yang hendak mengambil madu tanpa harus digigit oeh lebah. Dia adalah tipe pemimpin yang selalu berada didepan rakyatnya, bukan berada dibelakang meja, semua orang tahu itu. Dia adalah pemimpin tegas tapi memiliki rasa empati yang mendalam terhadap persoalan yang dihadapi rakyatnya,” ungkap petani rumput laut ini.

Pendapat senada juga dilontarkan Hendrik Mone, Warga Desa Huwaga Kecamatan Sabu Timur. Dia berpendapat bahwa pasangan ini sangat pantas untuk didukung dalam Pilkada nanti. Jawabannya sederhana yakni, buka mata ebar-lebar dan lihat program yang telah mereka lakukan di Kabupaten Sabu Raijua. Dia jujur bahwa saat Pilkada lalu dia sempat meragukan kemampuan pasangan ini dalam memimpin sebuah kabupaten baru yang miskin dan jauh dari sentuhan pembangunan.

“Kalau aturan tidak melarang seseorang hanya dibatasi masa jabatannya hanya dua periode maka saya mau kedua pasangan ini bisa memimpin sabu lebih dari dua periode. Pendapat saya ini bukan karena saya kenal kedua pemimpin ini, tapi melihat kenyataan yang mereka kerjakan sungguh luar biasa. Banyak orang yang mengatakan tidak ada perubahan di Sabu Raijua selama empat tahun terakhir. Saya anggap mereka adalah orang buta yang berteriak dari kegelapan malam,” ujarnya.

Dia mengatakan, tidak tepat jika orang membandingkan kondisi Sabu Raijua dengan kota kupang atau Kabupaten lan yang telah lama menjadi daerah otonom. Harus diakui bahwa ketika Sabu Raijua masih menjadi wilayah kabupaten Kupang, daerah ini sangat jauh dari sumbu ibukota serta jauh dari sentuhan pembangunan. “Harus dilihat secara baik bahwa program utama pemerintah adalah bagimana rakyatnya kenyang dan tidak lapar. Untuk apa punya jalan bagus kalau akhirnya harus jatuh karena kelaparan. Kalau perut masyarakat sudah kenyang maka cepat atau lambat sarana jalan dan lain-lain akan berubah,” imbuhnya.

Lain lagi apa yang diungkapkan Welem Lobo, Warga Desa Mehona Kecamatan Liae. Menurutnya, Marthen Dira Tome dan Nikodemus Rihi Heke adalah pemipin yang selalu dekat dengan jemaat. Mereke paham benar bahwa jemaat gereja adalah masyarakat mereka sendiri yang tidak boleh ditinggalkan. “Mereka tidak pernah berpangku tangan dalam berbagai kegiatan pembangunan gereja. Hal itu tentu didasari dari pemikiran bahwa gereja adalah bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat Sabu Raijua,” kata Welem.

Mencari figur seperti Marthen Dira Tome saat ini sangat sulit, sebab untuk memimpin daerah yang serba kekurangan ini membutuhkan enrgi yang luar biasa. Tidak hanya tenaga, tapi juga pikiran yang jernih dalam memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi oleh masyarakat. “bagi saya mereka adalah pasangan yang sangat layak untuk memimpin Sabu Raijua lima tahun lagi. Mencari pemimpin yang selalu berada ditengah masyarakat dan turun langsung dalam berbagai pembangunan menurut saya sudah langka untuk kita temui di era ini,” tambahnya.

Lalu bagimana sosok Marthen Dira Tome dan Nikodemus Rihi Heke bagi para Kepala Desa yang merupakan ujung tombak pemerintah yang paling bawah? Bagi Kepala Desa Raenyale Kecamatan Sabu Barat, Yan Haba Radja, sosok Bupati dan Wakil Bupati adalah panutan yang baik bagi para Kepala Desa. Bupati kata Yan, tak sungkan-sungkan turun ke masyarakat untuk melihat dan mendapingi setiap program yang sedang dijalankan.

“Kalau dulu masyarakat desa melihat seorang bupati adalah pejabat besar maka tidak demikian dengan pak Marthen. Beliau tidak menampakkan diri sebagai pemegang kekuasaan di Kabupaten Sabu Raijua. Dengan kami para Kepala Desa, beliau selalu membangun komunikasi dan koordinasi dengan baik, bahkan kami yang merasa sungkan dengan sikap beliau yang tidak pernah merasa risih jika berada ditengah masyarakat,” ungkapnya

Sementara Mathias Djara Liwe, Kepala Desa Nadawawi, Kecamatan Sabu Barat mengatakan, apa yang dijanjikan oleh Paket Mandiri saat Pilkada semuanya telah dilaksanakan. “Setiap janji mereka sudah dilaksanakan, bahwa ada program yang belum sempurna itu adalah hal yang wajar sehingga mereka perlu melanjutkan kepemimpinan lima tahun lagi,” katanya.

Mengapa Ma Tade dan Ma Balla harus  maju lagi dan harus dipilih kembali kata Matias atau akrap disapa Ma Moy , karena selama lima tahun mereka bekerja rasanya waktu sangat singkat karena setelah pelantikan mereka tidak langsung bisa melaksanakan program-programnya tetapi masih harus melakukan pembenahan terhadap sepuluh kegiatan wajib yang merupakan indikator penilaiaan Dirjen Otonomi Daerah, dimana sebagiannya sudah harus diselesaikan oleh Penjabat Bupati waktu itu. Tetapi sampai dengan pelantikan Ma Tade dan Ma Balla belum diselesaikan malah ada yang dilakukan tetapi terbengkalai misalnya pekerjaan RTRW, itulah sebabnya  Sabu Raijua saat itu hendak digabung kembali  dengan  kabupaten induk (kabupaten kupang) karena skor atau nilai dari  sepuluh indikator tersebut tidak mencapai angka minimal 60  saat itu malah berada dibawah angka 40.

“Mereka menyadari kalau kondisi ini tidak segera diperbaiki maka Sabu Raijua kembali gabung dengan Kabupaten Kupang sebagai Kabupaten Induk. Tahun pertama bekerja mereka memperbaiki semua yang dikerjakan dengan tidak beres  oleh Penjabat Bupati, tahun itu pun nilai  meningkat menjadi 64, tahun kedua meningkat menjadi 72 dan tahun ketiga meningkat dengan tajam menjadi 76.12. Pada akhirnya Sabu Raijua termasuk rangking 7 dari 32 DOB se Indonesia dengan demikian Sabu Raijua telah bebas dari ancaman gabung dengan Kabupaten Induk,”papar Ama Moy. (joey rihi ga)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar