![]() |
| Embung Guriola dan Tambak Garam di Desa Bodae |
Pemandangan di sekitar Embung Guriola di Desa Raenyale, Kecamatan
Sabu Barat begitu kontras dengan tempat lain yang mulai terlihat tandus digilas
musim kemarau. Embung yang sempat mendapat penolakan dari masyarakat pemilik
lahan, kini telah memberi kehidupan bagi mereka yang dulu keras kepala. Di
tempat lain tepatnya di Lobo Bali, Desa Bodae, Kecamatan Sabu Timur ada garam
yang mengkristal bak batu akik yang sedang digandrungi banyak orang.
Guriola
menjadi embung yang fenomenal. Kenapa? Karna begitu kerasnya para pemilik lahan
menolak pembangunan embung tersebut. Disisi lain embung Guriola adalah embung
pertama di Sabu Raijua yang besar dan bisa menyimpan air dalam kubikasi yang
cukup besar. Itulah kenapa, Guriola saat ini menjadi tujuan banyak orang di
Sabu Raijua untuk berwisata.
Ketika
berkunjung di Guriola pada akhir Juni 215, pemandangan sekitar begitu sejuk
dipandangan mata. Masyarakat sekitar berlomba-lomba menanam berbagai tanaman
seperti bawang, sayur maupun jagung. Kehadiran embung ini telah dirasakan oleh
beberapa warga sekitar ketika musim tanam lalu. Saat itu pagi milik mereka
sudah mulai berbuah, tapi hujan sudah berhenti sehingga terancam mati dan tdak
menghasilkan. Bupati dengan cepat memanfaatkan embung Guriola. Airnya dipompa
untuk mengairi sawah para petani. Hasilnya, padi milik petani berhasil
diselamatkan dan bisa dipanen.
“Semua
masyarakat sudah berlomba-lomba untuk menanam jadi kita tinggal mengawasi apa
kebutuhan mereka untuk selanjutnya diteruskan ke Kabupaten. Kita tahu bahwa
ketika ada air pasti masyarakat akan menanam. Mereka tinggal kita pantau dan
arahkan,” kata Kepala Desa Raenyale, Kecamatan Sabu Barat, Yan Haba Radja.
Sebagai Kepala desa yang baru beberapa bulan
memimpin, Yan Haba Radja tidak mau berpangku tangan. Semangat dan motivasi dari
Bupati Marthen Dira Tome seperti kompas yang mengarahkan tujuannya dalam
mengabdi bagi masyarakat di Raenyale. Dengan usia yang masih sangat muda, dia
ingin menjadi contoh kepada para kepala desa lainnya yang ada di Sabu Raijua.Tidak
heran jika setiap hari dia berada ditengah-tengah masyarakat untuk melihat
kebun yang sedang diolah.
“Kita sadar bahwa pak Bupati tidak setiap hari
berada dengan kita di desa sehingga kita harus mengeti betul tugas dan
tanggungjawab kita sebagai ujung tombak pemerintahan dibawah. Saya melihat
bahwa Pak Bupati tidak pernah membeda-bedakan orang ketika hendak memberikan
bantuan. Asal dia mau bekerja pasti dibantu. Apakah
dulu mencaci maki beliau, itu tidak dipedulikan. Untuk itu sebagai kepala desa
saya ingin supaya cita-cita dan mimpi besar pak Bupati harus terwujud dalam
membangun masyarakat,” ungkap Yan.
Yan
menjelaskan, saat ini ada 17 titik yang sudah menjadi kebun dan diolah
masyarakat yang sumber airnya berasal dari Guriola. Sebagai Kepala Desa dia
juga tidak mau hanya hidup sendiri sehingga dia mengundang juga masyarakat di
luar desa yang mau bekerja untuk sama-sama mengolah lahan yang ada di sekitar
Guriola. Dia mengakui bahwa masyarakat yang dulu begitu keras menentang, kini
mereka yang menjadi pendukung utama setelah melihat air dalam embung yang luar
biasa banyaknya.
“Kebun yang
sudah menanam saat ini ada 17 titik dan terus bertambah. Yang lain masih
membuka lahan dan mengolah tanah. Kita juga undang warga dari desa lain untuk
bekerja disini. Untuk air dari embung, ada dua desa yang menggunakannya yakni
desa Raenyale dan desa Raemude karena lokasi embung berada di perbatasan kedua
desa ini,” ungkapnya.
Apa yang
dikatakan Kepala Desa Raenyale dibenarkan leh salah satu warganya Soleman Manu
yang didatangi saat sedang menyiram bawang dihalam rumahnya. Dia mengaku bahwa
selama ini, mereka sangat kesulitan air ketika musim kemarau datang. Mulai
tahun 2015 ini mereka kini tidak lagi resah karena sudah ada air yang bisa
memenuhi kebutuhan mereka.
“Dulu kita
tidak mungkin menanam seperti sekarang. Kita hanya menanam ketika musim hujan,
karena daerah disini juga merupakan daerah yang sulit air. Kami sangat
berterimakasih kepada Pak Bupati yang tidak menggubris cacian dan hinaan dari
kami masyarakat yang tidak memiliki pandangan yang luas tentang konsep
pembangunan yang dilakukan. Setelah kami lihat dan rasakan sendiri manfaatnya,
kami sangat menyesal,” tuturnya.
Dia juga
bertekad akan terus menanam seluas kemampuannya bersama keluarga, sebab itulah
kehidupan yang diberikan oleh pemerintah. Jika desa lain telah memulia lebih
dulu kata Soleman, itu karena mereka lebih dulu memiliki sumber air. Hal itu
telah menjadi contoh baginya bersama warga di Desa Raenyale, terutama yang berada
di sekitar embung Guriola.
“Banyk orang
yang datang ke embung dan mereka goyang-goyang kepala melihat air yang begitu
banyak dan itu menjadi motivasi bagi kami. Pak Bupati malah menantang kami agar
menanam sebanyak-banyaknya dan beliau akan membantu kami dengan berbagai
bantuan. Sekarang tidak ada lagi yang duduk-duduk di rumah kalau pagi atau sore
hari. Semua pasti ada di kebun untuk bekerja,” ungkapnya.
Pemandangan
yang hijau di Guriola, berbanding terbalik dengan kondisi di Lobo Bali desa Bodae, Kecamatan
Sabu Timur. Kami tiba ditempat tambak garam itu sudah menjelang senja. Hamparan
lahan tambak yang sudah hampir panen yang tertimpa cahaya matahari sore membuat
kilatan cahaya yang menyilaukan mata. Bagimana tidak, tempat yang dulunya hanya
hamparan pasir putih kini telah beubah dengan gundukan garam hasil panen yang
siap diangkat ke gudang untuk diolah. “Luar biasa, ternyata apa yang saya lihat
di Seba ternyata disini lebih luas lagi,” kata Pendeta Karel Lobo yang kebetulan
bersama-sama saat itu.
Petak-petak
garam di Lob Bali, seperti lading kristal yang menjaga bibir pantai. Ada
beberapa gudang penyimpanan garam yang sudah dibangun untuk menyimpan hasil
panen. Para pekerja ditambak garam ini sudah merasakan upah dari keringat
mereka karna telah digaji oleh pemerintah. Melihat
kami datang, para pekerja di tambak garam kemudian datang mengobrol
bagaimana nasib mereka yang kini mulai berubah. “Tambak garam ini sudah menjadi
masa depan bagi anak-anak kami. Apa yang selalu dikatakan oleh pak Bupati, kami
telah melihat dan merasakan buktinya,” ungkap Lado Bangu, salah satu tokoh
masyarat di Desa Bodae.
Pada tahun
2015 ini ada 121 hektar lahan tambak garam yang dibangun Marthen Dira Tome.
Satu hektar lahan membutuhkan 10 orang tenaga kerja. Dengan demikian maka
tambak garam akan menyerap 1.210 orang tenaga kerja di Sabu Raijua. Mereka
diperlakukan bukan sebagai buruh, tapi diangkat lewat kontrak kerja daerah
dengan gaji Rp.1.200.000 per bulan. Ini bukan lagi hanya mimpi karna sudah
banyak karyawan tambak garam yang telah mengecap manisnya bekerja sebagai
karyawan tambak garam. Di Desa Bodae Kecamatan Sabu Timur maupun di Kecamatan
Sabu Barat para karyawan sudah menikmati gaji mereka.
Hal ini bisa dibuktikan
pada Jumat 16 Mei 2015 dimana Puluhan ton garam yang di panen perdana di tambak
garam Desa Bodae, Kecamatan Sabu Timur, dibagi gratis kepada Ratusan masyarakat
yang berasal dari Kacamatan Sabu Tengah, Sabu Timur dan Liae.
Ada lima hektar lahan tambak garam yang dipenan dari 35 hektar lahan yang ada di Desa Bodae.
Bupati Sabu Raijua,
Marthen Dira Tome dalam araannya sebelum melakukan panen perdana mengatakan,
garam akan menjadi komoditi unggulan di Kabupaten Sabu Raijua. Saat ini ada 121
hektar lahan yang sedang dikembangkan diwilayah tersebut dan bisa menampung
ribuan tenaga kerja. “Garam adalah komoditi sensitif yang harus dijaga dan
dilindungi sehingga perlu didukung semua pihak karena saat ini garam adalah
masa depan Sabu Raijua,” kara Dira Tome.
Bupati berharap agar
seluruh masyarakat termasuk camat dan para kepala Desa untuk melakukan
pengamanan terhadap wilayah tambak garam sehingga terhindar dari gangguan
tangan-tangan tak bertanggungjawab. “Demikian juga dengan hewan-hewan jangan
dibiarkan keliaran supaya tidak merusak lahan tambak,” harapnya.
Marthen Dira Tome juga
meminta kepada 103 orang karyawan tambak di Desa Bodae yang telah diangkat
menjadi tenaga kontrak Pemda agar tetap bekerja dengan tenang dan menjaga
keselamatan tambak. Selain itu, para pekerja juga harus berusaha untuk
meningkatkan produksi dan menjaga kualitas garam karena berkaitan langsung
dengan pasar. “Berkaitan dengan laporan bahwa adanya orang-orang atau oknum
yang mungkin punya kepentingan politik yang datang memprovokasi bahwa tambak
mubazir, garam masih muda, Lokasi tidak cocok karna angin kencang, kalian
anggap saja sebagai anjing yang sedang melolong,” tandas Dira Tome.
Marthen Dira Tome
menegaskan, oknum yang datang menebar isu tentang tambak garam tidak mengerti
apa yang sedang dibuat oleh Pemerintah saat ini. “Semua yang kita lakukan telah
melalui perencanaan yang panjang dan kita menggunakan tenaga ahli bukan
mendengar kata orang dipinggir jalan, sekali lagi kalau mereka datang lagi
diusir saja dari tempat ini, mereka bukan orang yang tepat untuk didengar,”
katanya. (joey rihi ga)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar