Kamis, 27 Agustus 2015

Guriola Menghijau, Lobo Bali Mengkristal


Embung Guriola dan Tambak Garam di Desa Bodae

Pemandangan di sekitar Embung Guriola di Desa Raenyale, Kecamatan Sabu Barat begitu kontras dengan tempat lain yang mulai terlihat tandus digilas musim kemarau. Embung yang sempat mendapat penolakan dari masyarakat pemilik lahan, kini telah memberi kehidupan bagi mereka yang dulu keras kepala. Di tempat lain tepatnya di Lobo Bali, Desa Bodae, Kecamatan Sabu Timur ada garam yang mengkristal bak batu akik yang sedang digandrungi banyak orang.

Guriola menjadi embung yang fenomenal. Kenapa? Karna begitu kerasnya para pemilik lahan menolak pembangunan embung tersebut. Disisi lain embung Guriola adalah embung pertama di Sabu Raijua yang besar dan bisa menyimpan air dalam kubikasi yang cukup besar. Itulah kenapa, Guriola saat ini menjadi tujuan banyak orang di Sabu Raijua untuk berwisata. 

Ketika berkunjung di Guriola pada akhir Juni 215, pemandangan sekitar begitu sejuk dipandangan mata. Masyarakat sekitar berlomba-lomba menanam berbagai tanaman seperti bawang, sayur maupun jagung. Kehadiran embung ini telah dirasakan oleh beberapa warga sekitar ketika musim tanam lalu. Saat itu pagi milik mereka sudah mulai berbuah, tapi hujan sudah berhenti sehingga terancam mati dan tdak menghasilkan. Bupati dengan cepat memanfaatkan embung Guriola. Airnya dipompa untuk mengairi sawah para petani. Hasilnya, padi milik petani berhasil diselamatkan dan bisa dipanen.

“Semua masyarakat sudah berlomba-lomba untuk menanam jadi kita tinggal mengawasi apa kebutuhan mereka untuk selanjutnya diteruskan ke Kabupaten. Kita tahu bahwa ketika ada air pasti masyarakat akan menanam. Mereka tinggal kita pantau dan arahkan,” kata Kepala Desa Raenyale, Kecamatan Sabu Barat, Yan Haba Radja.

Sebagai Kepala desa yang baru beberapa bulan memimpin, Yan Haba Radja tidak mau berpangku tangan. Semangat dan motivasi dari Bupati Marthen Dira Tome seperti kompas yang mengarahkan tujuannya dalam mengabdi bagi masyarakat di Raenyale. Dengan usia yang masih sangat muda, dia ingin menjadi contoh kepada para kepala desa lainnya yang ada di Sabu Raijua.Tidak heran jika setiap hari dia berada ditengah-tengah masyarakat untuk melihat kebun yang sedang diolah.

“Kita sadar bahwa pak Bupati tidak setiap hari berada dengan kita di desa sehingga kita harus mengeti betul tugas dan tanggungjawab kita sebagai ujung tombak pemerintahan dibawah. Saya melihat bahwa Pak Bupati tidak pernah membeda-bedakan orang ketika hendak memberikan bantuan. Asal dia mau bekerja pasti dibantu. Apakah dulu mencaci maki beliau, itu tidak dipedulikan. Untuk itu sebagai kepala desa saya ingin supaya cita-cita dan mimpi besar pak Bupati harus terwujud dalam membangun masyarakat,” ungkap Yan.

Yan menjelaskan, saat ini ada 17 titik yang sudah menjadi kebun dan diolah masyarakat yang sumber airnya berasal dari Guriola. Sebagai Kepala Desa dia juga tidak mau hanya hidup sendiri sehingga dia mengundang juga masyarakat di luar desa yang mau bekerja untuk sama-sama mengolah lahan yang ada di sekitar Guriola. Dia mengakui bahwa masyarakat yang dulu begitu keras menentang, kini mereka yang menjadi pendukung utama setelah melihat air dalam embung yang luar biasa banyaknya.

“Kebun yang sudah menanam saat ini ada 17 titik dan terus bertambah. Yang lain masih membuka lahan dan mengolah tanah. Kita juga undang warga dari desa lain untuk bekerja disini. Untuk air dari embung, ada dua desa yang menggunakannya yakni desa Raenyale dan desa Raemude karena lokasi embung berada di perbatasan kedua desa ini,” ungkapnya.

Apa yang dikatakan Kepala Desa Raenyale dibenarkan leh salah satu warganya Soleman Manu yang didatangi saat sedang menyiram bawang dihalam rumahnya. Dia mengaku bahwa selama ini, mereka sangat kesulitan air ketika musim kemarau datang. Mulai tahun 2015 ini mereka kini tidak lagi resah karena sudah ada air yang bisa memenuhi kebutuhan mereka.

“Dulu kita tidak mungkin menanam seperti sekarang. Kita hanya menanam ketika musim hujan, karena daerah disini juga merupakan daerah yang sulit air. Kami sangat berterimakasih kepada Pak Bupati yang tidak menggubris cacian dan hinaan dari kami masyarakat yang tidak memiliki pandangan yang luas tentang konsep pembangunan yang dilakukan. Setelah kami lihat dan rasakan sendiri manfaatnya, kami sangat menyesal,” tuturnya.

Dia juga bertekad akan terus menanam seluas kemampuannya bersama keluarga, sebab itulah kehidupan yang diberikan oleh pemerintah. Jika desa lain telah memulia lebih dulu kata Soleman, itu karena mereka lebih dulu memiliki sumber air. Hal itu telah menjadi contoh baginya bersama warga di Desa Raenyale, terutama yang berada di sekitar embung Guriola.

“Banyk orang yang datang ke embung dan mereka goyang-goyang kepala melihat air yang begitu banyak dan itu menjadi motivasi bagi kami. Pak Bupati malah menantang kami agar menanam sebanyak-banyaknya dan beliau akan membantu kami dengan berbagai bantuan. Sekarang tidak ada lagi yang duduk-duduk di rumah kalau pagi atau sore hari. Semua pasti ada di kebun untuk bekerja,” ungkapnya.

Pemandangan yang hijau di Guriola, berbanding terbalik dengan  kondisi di Lobo Bali desa Bodae, Kecamatan Sabu Timur. Kami tiba ditempat tambak garam itu sudah menjelang senja. Hamparan lahan tambak yang sudah hampir panen yang tertimpa cahaya matahari sore membuat kilatan cahaya yang menyilaukan mata. Bagimana tidak, tempat yang dulunya hanya hamparan pasir putih kini telah beubah dengan gundukan garam hasil panen yang siap diangkat ke gudang untuk diolah. “Luar biasa, ternyata apa yang saya lihat di Seba ternyata disini lebih luas lagi,” kata Pendeta Karel Lobo yang kebetulan bersama-sama saat itu.

Petak-petak garam di Lob Bali, seperti lading kristal yang menjaga bibir pantai. Ada beberapa gudang penyimpanan garam yang sudah dibangun untuk menyimpan hasil panen. Para pekerja ditambak garam ini sudah merasakan upah dari keringat mereka karna telah digaji oleh pemerintah.  Melihat  kami datang, para pekerja di tambak garam kemudian datang mengobrol bagaimana nasib mereka yang kini mulai berubah. “Tambak garam ini sudah menjadi masa depan bagi anak-anak kami. Apa yang selalu dikatakan oleh pak Bupati, kami telah melihat dan merasakan buktinya,” ungkap Lado Bangu, salah satu tokoh masyarat di Desa Bodae.

Pada tahun 2015 ini ada 121 hektar lahan tambak garam yang dibangun Marthen Dira Tome. Satu hektar lahan membutuhkan 10 orang tenaga kerja. Dengan demikian maka tambak garam akan menyerap 1.210 orang tenaga kerja di Sabu Raijua. Mereka diperlakukan bukan sebagai buruh, tapi diangkat lewat kontrak kerja daerah dengan gaji Rp.1.200.000 per bulan. Ini bukan lagi hanya mimpi karna sudah banyak karyawan tambak garam yang telah mengecap manisnya bekerja sebagai karyawan tambak garam. Di Desa Bodae Kecamatan Sabu Timur maupun di Kecamatan Sabu Barat para karyawan sudah menikmati gaji mereka.

Hal ini bisa dibuktikan pada Jumat 16 Mei 2015 dimana Puluhan ton garam yang di panen perdana di tambak garam Desa Bodae, Kecamatan Sabu Timur, dibagi gratis kepada Ratusan masyarakat yang berasal dari Kacamatan Sabu Tengah, Sabu Timur dan Liae.

Ada lima hektar lahan tambak garam yang dipenan dari 35 hektar lahan yang ada di Desa Bodae.
Bupati Sabu Raijua, Marthen Dira Tome dalam araannya sebelum melakukan panen perdana mengatakan, garam akan menjadi komoditi unggulan di Kabupaten Sabu Raijua. Saat ini ada 121 hektar lahan yang sedang dikembangkan diwilayah tersebut dan bisa menampung ribuan tenaga kerja. “Garam adalah komoditi sensitif yang harus dijaga dan dilindungi sehingga perlu didukung semua pihak karena saat ini garam adalah masa depan Sabu Raijua,” kara Dira Tome.

Bupati berharap agar seluruh masyarakat termasuk camat dan para kepala Desa untuk melakukan pengamanan terhadap wilayah tambak garam sehingga terhindar dari gangguan tangan-tangan tak bertanggungjawab. “Demikian juga dengan hewan-hewan jangan dibiarkan keliaran supaya tidak merusak lahan tambak,” harapnya.

Marthen Dira Tome juga meminta kepada 103 orang karyawan tambak di Desa Bodae yang telah diangkat menjadi tenaga kontrak Pemda agar tetap bekerja dengan tenang dan menjaga keselamatan tambak. Selain itu, para pekerja juga harus berusaha untuk meningkatkan produksi dan menjaga kualitas garam karena berkaitan langsung dengan pasar. “Berkaitan dengan laporan bahwa adanya orang-orang atau oknum yang mungkin punya kepentingan politik yang datang memprovokasi bahwa tambak mubazir, garam masih muda, Lokasi tidak cocok karna angin kencang, kalian anggap saja sebagai anjing yang sedang melolong,” tandas Dira Tome.

Marthen Dira Tome menegaskan, oknum yang datang menebar isu tentang tambak garam tidak mengerti apa yang sedang dibuat oleh Pemerintah saat ini. “Semua yang kita lakukan telah melalui perencanaan yang panjang dan kita menggunakan tenaga ahli bukan mendengar kata orang dipinggir jalan, sekali lagi kalau mereka datang lagi diusir saja dari tempat ini, mereka bukan orang yang tepat untuk didengar,” katanya. (joey rihi ga)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar