![]() |
| Marthen Dira Tome sedang memberi salam kepada salah satu warga |
Isu adalah senjata ampuh yang dipergunakan untuk membuat tersungkur. Tak penting apakah isu yang
ditebar mumpuni atau tidak tapi itu adalah strategi yang selalu mengental dalam
setiap hajatan politik. Namanya juga isu, sehingga perlu kecerdasan untuk
mencari kebenaran yang sahih didalamnya.
Seiring Waktu yang kian dekat dengan Pemilukada, isu yang menyerang Paket Mandiri
kian kental dilontarkan lawan politik. Seperti kentut, sulit untuk menemukan
sumber, tapi baunya menyesakkan hidung.
Bagi Marthen Dira
Tome dan Nikodemus Rihi Heke, isu yang dilontarkan lawan adalah suplemen yang
baik untuk menambah energi dalam menyerap aspirasi masyarakat Sabu Raijua.
Mereka seperti tak kehilangan tenaga berjalan dari kampung satu ke kampung
lainnya untuk bertemu langsung dengan masyarakat. Merka tidak pernah terganggu
dengan kabar burung yang sengaja dihembuskan lawan. Bagi mereka dukungan
masyarakat lebih penting dari pada sekedar menanggapi isu tersebut.
Tak tanggung-tanggung,
lawan politik dengan lugas dan percaya diri mengatakan bahwa apa yang dilakukan
oleh pemerintah semuanya mubasir. Mereka bicara seperti orang suci yang tidak
punya noda. Tiga pabrik yang dibangun oleh pemeritahan Marthen Dira Tome dan
Nikodemus Rihi Heke, dikatakan akan mubasir dan hanya menghabiskan uang rakyat.
Mereka melontarkan isu dengan kata AKAN, tanpa ada pembuktian dari apa yang
mereka isukan kepada masyarakat.
“Hanya mereka yang
tidak percaya diri dan memiliki niat jahat yang selalu menebar isu. Semua orang
tahu bahwa sebuah isu kadang tidak memiliki kebenaran hakiki. Mungkin mereka
berpikir masyarakat di Sabu Raijua terlalu gampang untuk dibodohi hanya dengan
isu murahan yang tidak memiliki bukti,” tandas Nikodemus Tari, Warga Kelurahan
Limaggu Sabu Timur.
Sebagai masyarakat
Sabu yang telah merasakan sentuhan pembangunan dan bantuan pemerintah kata
Nokodemus, tidak akan membuat masyarakat buta hanya lantaran isu-isu negatif.
Kalaupun ada yang termakan isu, hanya mereka
yang selama ini memang berbeda politik dengan pemerintahan yang sedang bekerja
saat ini. Kebenaran dan kenyataan tidak bisa dinafikan hanya dengan retorika
yang menyesatkan pikiran.
“Biasanya yang
selalu jadi racun adalah orang-orang yang hidupnya diluar Pulau Sabu. Mereka
selalu datang dengan mulut manis seakan-akan mereka lebih hebat, padahal tidak
ada bukti. Coba saya tanya, selama mereka jadi pejabat di Provinsi sana, apa
yang sudah mereka berikan untuk Sabu Raijua dengan posisi yang mereka miliki.
Jangan karena untuk merebut kursi kekuasaan lalu mencela orang yang sudah
berbuat bagi daerah ini,” ketusnya.
Belum lagi
hingar-bingar berbagai isu yang disebar di media sosial seperti Facebook,
semuanya bertujuan untuk mendiskreditkan lawan. Isu yang ditebar di dunia maya
selalu menyempitkan pikiran tanpa ada bukti yang sahih terhadap pembuktian isu
yang disebar. Namun bagi Paket mandiri, semua isu, sindiran, cacian bahkan
semua perkataan yang melukai hati adalah “sayap” yang diberikan lawan untuk
melambung lebih tinggi. Belajar dari batu akik, semakin mendapat gesekan akan
semakin mengkilat dan bercahaya.
Ada juga isu yang
dilontarkan bahwa untuk menjadi seorang bupati atau kepala daerah yang baik
harus memiliki karier sebagai PNS hingga jejang Kepala Dinas. Isu ini sangat
lucu sebab seorang Gubernur NTT saja tidak pernah menjadi seorang PNS apalagi
menjadi seorang kepala Dinas. Namun karena aturan memberi kesempatan untuk
dipilih maka bisa menjadi Gubernur, bahkan dipercayakan rakyat untuk memimpin
NTT dua periode. Tidak benar kalau harus menjadi Kepala Dinas dulu baru bisa
menjadi seorang pemimpin wilayah.
Isu lain
yang dihembus oleh lawan politik kepada masyarakat yakni dengan mengedarkan
kliping Koran yang menulis bahwa sekalipun menang Pilkada, seorang tersangka
tidak akan dilantik. Padahal dalam berita di Koran tersebut secara jelas telah
mengatakan bahwa itu hanya usulan KPU dan keputusannya berada di Pemerintah
sebagai pihak yang akan melantik. Beritanyapun mubasir karena terbit sebelum
Undang-Undang nomer 1 tahun 2015 tentang Pemilukada disahkan. (Baca: Sembilan
Purnama Menuju Pilkada)
“Tidak
ada dalam undang-undang nomer 1 tahun 2015 yang mengatakan bahwa KPU tidak akan
melantik pasangan terpilih jika statusnya sudah menjadi tersangka. Kecuali yang
bersangkutan sudah ada keputusan hukum yang mengikat,” kata Ketua KPUD Sabu
Raijua, Yudhy Tagi Huma.
“Saya berada
diruang politik tetapi mengerjakan hal yang suci. Saya tidak ingin jika dalam
setiap helaan nafas selalu ada kebohongan. Saya memahami politik yang berbeda
dengan yang dipahami oleh orang lain. Saya termasuk politikus calvinis, dimana
pekerjaan politik itu sakral, karena dalam dunia politik, beda antara kejahatan
dan kebaikan sangat tipis. Politik diciptakan Tuhan sebagai penahan kejahatan,”
ungkap Marthen Dira Tome kepada Tabloid Seputar NTT.
Sejatinya seorang
politikus dan calon pemimpin kata Marthen Dira Tome, harus mampu menjual ide
dan program yang cemerlang kepada masyarakat, bukan dengan menebar isu. Dengan
menyampaikan ide dan gagasan yang akan dibuat ketika memimpin akan memberi
kesempatan kepada masyarakat untuk menilai ide dan gagasan serta program dari
seesorang yang ingin menjadi Bupati atau Wakil Bupati. Mencari simpati rakyat
yang berwibawa lanjutnya adalah dengan menyampikan mimpi tentang masa depan
kepada rakyat.
“Kalau ada orang
yang memiliki program yang lebih baik dari apa yang kami lakukan di Sabu Raijua
saat ini saya ajak untuk kita beradu program. Orang cerdas akan bica ide,
gagasan dan program bukan bicara isu atau membicarakan orang lain. Sebagai
calon pemimpin kita harus memberi pencerahan kepada masyarakat sehingga mereka
tidak berpikir bahwa politik itu jahat karena saling menyerang satu dengan yang
lain,” pungkas Marthen.
Marthen Dira
Tome juga menghimbau kepada seluruh tim sukses maupun relawan dan sahabat
Mandiri agar tetap tenang dalam menaggapi setiap isu negatif yang sedang dimainkan
oleh lawan politik dan tim suksesnya. Apa yang dibuat oleh lawan-lawan politik,
merupakan bentuk-bentuk kekecewaan dan emosional karena mereka telah gagal
mempengaruhi masyarakat dengan isu busuk yg mereka tebar lewat berbagai cara.
Masyarakat
telah menganggap mereka tidak lebih dari sekelompok penipu dan pembohong yang
sedang berjuang memperoleh jabatan bupati dengan cara fitnah dan tipu. Kliping
koran yang ditebar dan sengaja dibuang ke halaman rumah tim Mandiri disangka
sebagai cara efektif menghapus nama besar Mandiri dari hati masyarakat. Mereka
semakin frustrasi ketika masyarakat tidak terpengaruh dengan semua bentuk
kejahatan yg dibuat. Kondisi lain yang
sangat menyiksa para lawan politik adalah pertemuan yang dilakukan gagal
menghadirkan banyak orang. Kehadiran masyarakat berfluktuasi berkisar 8 sampai
15 orang, sementara pertemuan Mandiri selalu dipadati masyarakat.
“Ini merupakan
salah satu sumber kedengkian tim lainnya, sementara isu dan program Mandiri
begitu gemilang dan bernas, ditambah dengan kerjanya yang telah dinikmati
rakyat. Saat ini yang bisa lawan poitik lakukan adalah mencoba membuat isu
pembusukan melalui dunia maya yang sulit dipertanggungjawabkan dengan
memanfaatkan jasa para penganggur yang hari-harinya mendapat sesuap makan dengan
cara merusak nama baik orang lain,” tandas Dira Tome.
Dira Tome
dengan tegas meminta pada semua tim sukses, para relawan dan sahabat MANDIRI untuk
tidak sekali-kali melakukan pembusukan terhadap lawan-lawan yang akan datang
mengadu nasib di pulau para dewa.
“Politik tidak equal dengan putar balik atau penipuan, politik sebuah
kesucian yang memberi penerangan sekaligus menggarami, karena politik tidak
gelap dan tidak busuk. Semua tim agar tetap mempertahankan doktrin ini, supaya
apa yang dilakukan memberikan penerangan terhadap kegelapan yang ditebar oleh
lawan-lawan Mandiri.
Mengakhiri
himbauannya, Dira Tome berpesan agar harus mengakui keunggulan lawan. Jika
program mereka lebih baik dari Mandiri harus diberi apresiasi, jangan dikatakan
tidak baik, nanti dianggap tidak
rasional. Jika lawan politik tidak bicara mengenai program dan hanya menebar
fitnah, itu adalah kejahatan dan pembodohan yang harus dilawan. “Cintailah
rakyat kita dengan memberikan pengetahuan politik dan pembangunan yang baik dan
benar, tidak dengan tipu menipu. Bekerjalah dengan penuh cinta, karena cinta
dapat merubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Selamat berjuang,”
pungkas Dira Tome
Marthen Dira Tome dan Nikodemus Rihi Heke sadar bahwa dari
seribu orang Sabu Raijua tak akan bertampik sorak pada saat yang bersamaam,
pasti ada yang mencibir dan mencerca. Mereka juga tahu bahwa dalam membangun
selama tiga tahun terakhir ada banyak keluh kesah bahkan airmata. Tapi tidak
boleh juga menampik bahwa ada ribuan senyuman yang terukir dibibir rakyat Sabu
Raijua yang telah merasakan jamahan Pemerintahan Bupati Marthen Dira Tome dan
Wakil Bupati Nikodemus Rihi Heke.(joey rihi ga)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar