Kamis, 27 Agustus 2015

Mandiri Menembus Batas




Ada tiga tugas Pemerintah Daerah yang harus dilaksanakan oleh Bupati dan Wakil Bupati, yakni melakukan pendekatan pelayanan, melakukan akselerasi atau percepatan terhadap tercapainya kesejahteraan  rakyat dan berupaya menemukan semua potensi dan diolah menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah Sendiri (PADS). Selain tiga tugas diatas, ada empat fungsi Pemerintah yakni melakukan pelayanan (Public service), melakukan pembangunan (development), melakukan pemberdayaan (enpowering) dan melaksanakan pengaturan (regulation).

Berdasarkan tugas dan fungsi inilah yang membuat Bupati Marthen Dira Tome dan Wakilnya Nikodemus Rihi Heke bekerja dengan sangat keras untuk mengangkat berbagai potensi yang ada di Sabu Raijua, sehingga daerah ini bisa survive. Ketika potensi-potensi itu terbangun dengan baik maka ada tiga hal yang akan tercakupi yakni akan terciptanya pembangunan yang berpihak kepada kemiskinan atau pro poor, berpihak terhadap lapangan kerja atau pro job dan berpihak terhadap lingkungan atau pro environment. 

“Berkaitan dengan itu maka kita perlu memetakan lapangan kerja. Contoh misalnya, kita membuka lahan garam dengan memaksimalkan sumber daya kelautan kita. Dengan kondisi keuangan yang ada kita bangun 121 hektar tambak garam. Belum lagi tenaga kerja di pabrik. Dengan demikian maka akan ada 1.210 tenaga kerja di tambak dengan hitungan satu hektar 10 orang tenaga kerja dan kita jadikan mereka tenaga kontrak daerah,” kata Dira Tome Kepada Tabloid Seputar NTT, pekan silam.

Dengan demikian lanjut Marthen Dira Tome, maka lapangan kerja terbuka dan bisa menampung tenaga kerja yang bermasalah dengan pendidikan sehingga bisa menjawab penurunan angka pengangguran di Sabu Raijua. Dira Tome menegaskan bahwa pengangguran adalah akar dari kemiskinan. “Ketika kemiskinan terjadi maka akan menimbulkan kejahatan sosial seperti pencurian, perjudian dan masalah sosial lainnya. Inilah yang menjadi tujuan kita membuka lapangan kerja secara massif,” ungkapnya.

Pabrik rumput laut dibangun di Kecamatan Sabu Timur kata Dira Tome, bukan sekedar untuk gaya-gaya, tapi ada efek domino yang akan terjadi. Ketika rumput laut digenjot dengan mendorong masyarakat untuk memperluas lahan dan peningkatan hasil produksi maka akan terjadi perubahan yang luar biasa bagi kehidupan petani rumput laut. Untuk itu maka pemerintah  melakukan intervensi dengan membagi benih, tali, gabus maupun waring. 

“Ini membuat mereka termotivasi dan hasilnya luar biasa. Sesuai data, hasil produksi kita pertahun yakni 15 ribu ton  rumput laut kering. Itu belum kita lakukan intervensi secara besar-besaran. Nah saat ini kita akan melakukan intervensi besar-besaran,” tambah Dira Tome.

Bicara soal rumput laut bagi masyarakat Sabu  Raijua kata Mantan Kabid PLS NTT ini,  sudah sejak lama mereka melakukan budi daya rumput laut. Dulu ketika dirinya masih kuliah, rumput laut pertama kali diperkenalkan oleh dokter Frans Radja Haba lewat Yayasan Ie Rai. Kemudian dilanjutkan oleh Ibrahim Agustinus Medah ketika menjadi bupati Kupang. “Namun hari berganti hari dan tahun berganti tahun kehidupan petani rumput laut tidak kunjung membaik. Apakah orang Sabu Raijua melihat laut itu adalah bagian dari orang miskin atau tidak saya tidak tahu. Apakah seperti yang di syairkan mata mara dahi unu pala dokehia itu juga menjadi tantangan kita,” ujarnya.

Marthen Dira Tome meyakini bahwa Kalau rumput laut ini diurus dengan baik dari hulu hingga hilir maka akan menjadi kehidupan dan masa depan baru bagi petani rumput laut di Sabu Raijua. Hadirnya pabrik rumput laut itu datang dari pemikiran kenapa hidup para petani rumput laut yang tidak berubah. Mereka tidak bisa menentukan sendiri harga rumput laut padahal itu milik mereka dan orang lain yang menentukan harga. 

“Mereka terlampau baik hati ketika orang datang bujuk lalu mereka dengan mudah melepas dengan harga murah. Di era sekarang, kondisi ini tidak bisa dibiarkan terus menerus terjadi karena kemiskinan tidak akan pernah bergeser sementara orang lain hidup dengan enak,” tambah Marthen 

Bupati menjelaskan bahwa ketika  hasil rumput laut diolah lewat pabrik maka hasilnya akan jauh lebih baik dari sisi harga. Jika rumput laut diolah menjadi bahan setengah jadi  atau semi refined maka harganya menjadi 7 dolar Amerika per kilo. Jika diolah kembali menjadi refined karagenan harganya menjadi dua kali lipat atau 14 dollar Amerika. Sedangkan jika diolah menjadi high grade atau kualitas tinggi dalam bentuk powder atau bubuk, harganya menjadi 800 dollar Amerika per kilogram. Untuk awal operasinya fabric kita mulai dengan olahan refined karagenan dengan harga 14 dolar AS atau Rp. 182.000 jika nilai tukar rupiah 13 ribu per dolar.

“Kita olah dengan kapasitas 10 ton per hari lalu menjadi 6 ton atau 6000 kilo perhari maka berapa banyak uang yang kita dapat dalam sehari. Tidak hanya itu, dari sisi lapangan kerja, pabrik ini akan menyerap tenaga kerja sehingga tercipta lapangan kerja baru bagi anak-anak yang selama ini menganggur,” kata Marthen. 

Dengan demikian lanjut Marthen Dira Tome maka akan memberi motivasi bagi para petani karena harga rumput laut akan membaik dan kehidupan mereka juga akan berubah. Sebab bukan hal yang mustahil jika harga rumput laut akan tinggi  dan mencapai Rp. 15.000 per kilogram, karena Orang Sabu Raijua sendiri yang akan menentukan harganya. Dia sangat yakin bahwa pengolahan rumput laut ini akan berhasil sekalipun banyak suara sumbang yang terdengar. 

“Saya mau bilang ini program kami sehingga kami yakin ini akan berjalan baik dan berhasil. Jika ada orang yang mengatakan bahwa ini akan gagal dan mubasir kami anggap itu adalah orang yang sedang berteriak dari kegelapan malam,” tandasnya.

Selain pabrik rumput laut dan pabrik garam,  pabrik air mineral yang sedang dibangun juga akan memberi kontribusi yang besar dalam menyelesaikan pengangguran dan meningkatkan PAD Sabu Raijua. Pemerintah mengetahui dengan baik bahwa air di Madabeo cukup besar untuk memasok air ke pabrik air mineral. Selama ini air dari mata air Madabeo hanya sebentar saja mengairi sawah lalu masuk kelaut. 

“Kita tentu sepakat bahwa ikan dilaut tidak butuh air tawar. Karena itu air ini tidak boleh hanya mengalir ke laut saja sehingga kita bangun pabrik air minum dalam kemasan. Dengan demikian masyarakat kita bisa mendapatkan air mineral yang berkualitas. Lalu ada suara sumbang yang dimainkan oleh para politisi yang ingin mengadu nasib di Sabu Raijua dalam hajatan politik. Bagi saya sah-sah saja mereka datang mengadu nasib di daerah ini tapi tolong jangan datang dengan isu yang menyesatkan dan meracuni pikiran masyarakat,” pungkas Marthen.

Dia menjelaskan, ada isu yang berkembang bahwa pabrik-pabrik yang dibangun oleh pemerintah saat ini sudah mubazir dan tidak akan berhasil. Mereka tidak tahu kenapa pabrik-pabrik ini belum beroprasi, karena pabrik ini dibangun dalam dua tahap. Tahap pertama dibangun gedung  dan tahap kedua yakni pengadaan mesin. Saat ini pengadaan mesin untuk pabrik rumput laut dan pabrik air dalam kemasan sudah dalam proses pengadaan dan dalam waktu dekat kedua pabrik tersebut sudah beroperasi. 

Pengadaan mesinpun butuh proses sesuai dengan kaidah dan aturan yang berlaku dinegeri ini, tentu saja kita tidak ingin  semua panitia, kepala dinas dan bupati  bisa masuk penjara, jadi belanja mesin unruk kedua Pabrik tersebut tidak sama dengan cara seorang ibu rumah tangga belanja cabe dan sayur di pasar Nataga lalu seenaknya cabut uang dari kantong rok dan celana dan terjadi transaksi. Artinya belanja boleh dilakukan tetapi tidak gegabah dan juga tidak emosional hanya karena alasan kebutuhan.

“Dengan beroprasinya pabrik ini maka penghasilan daerah kita akan terus melejit. Ada juga yang cemburu dengan mengatakan kenapa dua pabrik itu dibangun di Sabu Timur. Kenapa tidak di kecamatan lain. Kalau ada politisi yang datang dengan isu yang memecah belah seperti ini maka masyarakat perlu berhati-hati dan perlu mempertanyakan apa maksud mereka. Yang paling penting dari pabrik ini adalah nilai manfaatnya. Tidak penting pabrik itu ada dimana. Apa yang mereka katakan hanya ingin membuat masyarakat marah kepada bupati, saya pikir mereka harus menjadi politisi yang mencerdaskan masyarakat. Saya pikir kalau mereka mau bicara harus punya pengetahuan yang cukup,” tandas Marthen. 

Kenapa Pemerintah membangun pabrik rumput laut di Sabu Timur ungkap Marthen Dira Tome, karna pabrik pengolahan rumput laut harus layak secara teknis, fabric rumput laut  membutuhkan banyak air yang mengalir dan hanya di Sabu Timur yang mempunyai mata air yang cukup. Satu kilo rumput laut katanya, membutuhkan 15 liter air saat pengolahan dan sekali lagi air yang cukup hanya ada di Sabu Timur. 

“Jadi kalau ada yang omong tidak benar maka itu pembohongan. Benar apa yang ada di Alkitab bahwa diakhir jaman akan datang  nabi-nabi palsu, demikian juga disini, ketika diakhir masa jabatan akan datang  nabi palsu  bersosok politisi  bernubuat untuk membohongi masyarakat. Karena itu masyarakat juga harus cerdas, jangan hanya menerima saja perkatan dan omongan yang tidak benar, pertanyakan itu kepada mereka jika mereka datang dengan isu yang menyesatkan,” tegasnya. 

Diakui Dira Tome bahwa selama empat tahun lebih berkarya di Sabu Raijua, tidak sedikit hal yang sudah dia dan wakilnya lakukan. “Tapi juga kami tidak pungkiri bahwa masih ada yang perlu dibenahi dan kami gunakan waktu yang ada ini untuk membenahi apa yang belum kami selesaikan. Jika masyarakat Sabu Raijua masih memberi kesempatan kepada kami maka kami akan memiliki waktu yang cukup dan berbuat lebih bagi kemajuan daerah ini,” pungkasnya. (joey rihi ga)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar