Ada tiga tugas Pemerintah Daerah yang harus dilaksanakan oleh Bupati
dan Wakil Bupati, yakni melakukan pendekatan pelayanan, melakukan akselerasi
atau percepatan terhadap tercapainya kesejahteraan rakyat dan berupaya menemukan semua potensi
dan diolah menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah Sendiri (PADS). Selain tiga
tugas diatas, ada empat fungsi Pemerintah yakni melakukan pelayanan (Public
service), melakukan pembangunan (development), melakukan pemberdayaan
(enpowering) dan melaksanakan pengaturan (regulation).
Berdasarkan
tugas dan fungsi inilah yang membuat Bupati Marthen Dira Tome dan Wakilnya
Nikodemus Rihi Heke bekerja dengan sangat keras untuk mengangkat berbagai
potensi yang ada di Sabu Raijua, sehingga daerah ini bisa survive. Ketika
potensi-potensi itu terbangun dengan baik maka ada tiga hal yang akan tercakupi
yakni akan terciptanya pembangunan yang berpihak kepada kemiskinan atau pro
poor, berpihak terhadap lapangan kerja atau pro job dan berpihak terhadap
lingkungan atau pro environment.
“Berkaitan
dengan itu maka kita perlu memetakan lapangan kerja. Contoh misalnya, kita
membuka lahan garam dengan memaksimalkan sumber daya kelautan kita. Dengan
kondisi keuangan yang ada kita bangun 121 hektar tambak garam. Belum lagi
tenaga kerja di pabrik. Dengan demikian maka akan ada 1.210 tenaga kerja di
tambak dengan hitungan satu hektar 10 orang tenaga kerja dan kita jadikan
mereka tenaga kontrak daerah,” kata Dira Tome Kepada Tabloid Seputar NTT, pekan
silam.
Dengan
demikian lanjut Marthen Dira Tome, maka lapangan kerja terbuka dan bisa
menampung tenaga kerja yang bermasalah dengan pendidikan sehingga bisa menjawab
penurunan angka pengangguran di Sabu Raijua. Dira Tome menegaskan bahwa pengangguran
adalah akar dari kemiskinan. “Ketika kemiskinan terjadi maka akan menimbulkan
kejahatan sosial seperti pencurian, perjudian dan masalah sosial lainnya.
Inilah yang menjadi tujuan kita membuka lapangan kerja secara massif,”
ungkapnya.
Pabrik rumput
laut dibangun di Kecamatan Sabu Timur kata Dira Tome, bukan sekedar untuk
gaya-gaya, tapi ada efek domino yang akan terjadi. Ketika rumput laut digenjot
dengan mendorong masyarakat untuk memperluas lahan dan peningkatan hasil
produksi maka akan terjadi perubahan yang luar biasa bagi kehidupan petani
rumput laut. Untuk itu maka pemerintah
melakukan intervensi dengan membagi benih, tali, gabus maupun waring.
“Ini membuat mereka
termotivasi dan hasilnya luar biasa. Sesuai data, hasil produksi kita pertahun
yakni 15 ribu ton rumput laut kering. Itu
belum kita lakukan intervensi secara besar-besaran. Nah saat ini kita akan melakukan
intervensi besar-besaran,” tambah Dira Tome.
Bicara soal
rumput laut bagi masyarakat Sabu Raijua
kata Mantan Kabid PLS NTT ini, sudah
sejak lama mereka melakukan budi daya rumput laut. Dulu ketika dirinya masih
kuliah, rumput laut pertama kali diperkenalkan oleh dokter Frans Radja Haba
lewat Yayasan Ie Rai. Kemudian dilanjutkan oleh Ibrahim Agustinus Medah ketika
menjadi bupati Kupang. “Namun hari berganti hari dan tahun berganti tahun
kehidupan petani rumput laut tidak kunjung membaik. Apakah orang Sabu Raijua
melihat laut itu adalah bagian dari orang miskin atau tidak saya tidak tahu. Apakah
seperti yang di syairkan mata mara dahi unu pala dokehia itu juga menjadi
tantangan kita,” ujarnya.
Marthen Dira
Tome meyakini bahwa Kalau rumput laut ini diurus dengan baik dari hulu hingga
hilir maka akan menjadi kehidupan dan masa depan baru bagi petani rumput laut
di Sabu Raijua. Hadirnya pabrik rumput laut itu datang dari pemikiran kenapa
hidup para petani rumput laut yang tidak berubah. Mereka tidak bisa menentukan sendiri
harga rumput laut padahal itu milik mereka dan orang lain yang menentukan
harga.
“Mereka
terlampau baik hati ketika orang datang bujuk lalu mereka dengan mudah melepas
dengan harga murah. Di era sekarang, kondisi ini tidak bisa dibiarkan terus
menerus terjadi karena kemiskinan tidak akan pernah bergeser sementara orang
lain hidup dengan enak,” tambah Marthen
Bupati
menjelaskan bahwa ketika hasil rumput
laut diolah lewat pabrik maka hasilnya akan jauh lebih baik dari sisi harga.
Jika rumput laut diolah menjadi bahan setengah jadi atau semi refined maka harganya menjadi 7
dolar Amerika per kilo. Jika diolah kembali menjadi refined karagenan harganya
menjadi dua kali lipat atau 14 dollar Amerika. Sedangkan jika diolah menjadi
high grade atau kualitas tinggi dalam bentuk powder atau bubuk, harganya
menjadi 800 dollar Amerika per kilogram. Untuk awal operasinya fabric kita
mulai dengan olahan refined karagenan dengan harga 14 dolar AS atau Rp. 182.000
jika nilai tukar rupiah 13 ribu per dolar.
“Kita olah
dengan kapasitas 10 ton per hari lalu menjadi 6 ton atau 6000 kilo perhari maka
berapa banyak uang yang kita dapat dalam sehari. Tidak hanya itu, dari sisi
lapangan kerja, pabrik ini akan menyerap tenaga kerja sehingga tercipta
lapangan kerja baru bagi anak-anak yang selama ini menganggur,” kata Marthen.
Dengan
demikian lanjut Marthen Dira Tome maka akan memberi motivasi bagi para petani
karena harga rumput laut akan membaik dan kehidupan mereka juga akan berubah. Sebab
bukan hal yang mustahil jika harga rumput laut akan tinggi dan mencapai Rp. 15.000 per kilogram, karena
Orang Sabu Raijua sendiri yang akan menentukan harganya. Dia sangat yakin bahwa
pengolahan rumput laut ini akan berhasil sekalipun banyak suara sumbang yang
terdengar.
“Saya mau
bilang ini program kami sehingga kami yakin ini akan berjalan baik dan
berhasil. Jika ada orang yang mengatakan bahwa ini akan gagal dan mubasir kami
anggap itu adalah orang yang sedang berteriak dari kegelapan malam,” tandasnya.
Selain pabrik
rumput laut dan pabrik garam, pabrik air
mineral yang sedang dibangun juga akan memberi kontribusi yang besar dalam
menyelesaikan pengangguran dan meningkatkan PAD Sabu Raijua. Pemerintah
mengetahui dengan baik bahwa air di Madabeo cukup besar untuk memasok air ke
pabrik air mineral. Selama ini air dari mata air Madabeo hanya sebentar saja
mengairi sawah lalu masuk kelaut.
“Kita tentu
sepakat bahwa ikan dilaut tidak butuh air tawar. Karena itu air ini tidak boleh
hanya mengalir ke laut saja sehingga kita bangun pabrik air minum dalam
kemasan. Dengan demikian masyarakat kita bisa mendapatkan air mineral yang
berkualitas. Lalu ada suara sumbang yang dimainkan oleh para politisi yang
ingin mengadu nasib di Sabu Raijua dalam hajatan politik. Bagi saya sah-sah
saja mereka datang mengadu nasib di daerah ini tapi tolong jangan datang dengan
isu yang menyesatkan dan meracuni pikiran masyarakat,” pungkas Marthen.
Dia
menjelaskan, ada isu yang berkembang bahwa pabrik-pabrik yang dibangun oleh
pemerintah saat ini sudah mubazir dan tidak akan berhasil. Mereka tidak tahu
kenapa pabrik-pabrik ini belum beroprasi, karena pabrik ini dibangun dalam dua
tahap. Tahap pertama dibangun gedung dan
tahap kedua yakni pengadaan mesin. Saat ini pengadaan mesin untuk pabrik rumput
laut dan pabrik air dalam kemasan sudah dalam proses pengadaan dan dalam waktu
dekat kedua pabrik tersebut sudah beroperasi.
Pengadaan
mesinpun butuh proses sesuai dengan kaidah dan aturan yang berlaku dinegeri
ini, tentu saja kita tidak ingin semua
panitia, kepala dinas dan bupati bisa
masuk penjara, jadi belanja mesin unruk kedua Pabrik tersebut tidak sama dengan
cara seorang ibu rumah tangga belanja cabe dan sayur di pasar Nataga lalu
seenaknya cabut uang dari kantong rok dan celana dan terjadi transaksi. Artinya
belanja boleh dilakukan tetapi tidak gegabah dan juga tidak emosional hanya
karena alasan kebutuhan.
“Dengan
beroprasinya pabrik ini maka penghasilan daerah kita akan terus melejit. Ada
juga yang cemburu dengan mengatakan kenapa dua pabrik itu dibangun di Sabu
Timur. Kenapa tidak di kecamatan lain. Kalau ada politisi yang datang dengan
isu yang memecah belah seperti ini maka masyarakat perlu berhati-hati dan perlu
mempertanyakan apa maksud mereka. Yang paling penting dari pabrik ini adalah
nilai manfaatnya. Tidak penting pabrik itu ada dimana. Apa yang mereka katakan
hanya ingin membuat masyarakat marah kepada bupati, saya pikir mereka harus
menjadi politisi yang mencerdaskan masyarakat. Saya pikir kalau mereka mau
bicara harus punya pengetahuan yang cukup,” tandas Marthen.
Kenapa
Pemerintah membangun pabrik rumput laut di Sabu Timur ungkap Marthen Dira Tome,
karna pabrik pengolahan rumput laut harus layak secara teknis, fabric rumput
laut membutuhkan banyak air yang
mengalir dan hanya di Sabu Timur yang mempunyai mata air yang cukup. Satu kilo
rumput laut katanya, membutuhkan 15 liter air saat pengolahan dan sekali lagi
air yang cukup hanya ada di Sabu Timur.
“Jadi kalau
ada yang omong tidak benar maka itu pembohongan. Benar apa yang ada di Alkitab
bahwa diakhir jaman akan datang nabi-nabi palsu, demikian juga disini, ketika
diakhir masa jabatan akan datang nabi palsu
bersosok politisi bernubuat untuk membohongi masyarakat. Karena
itu masyarakat juga harus cerdas, jangan hanya menerima saja perkatan dan
omongan yang tidak benar, pertanyakan itu kepada mereka jika mereka datang
dengan isu yang menyesatkan,” tegasnya.
Diakui Dira
Tome bahwa selama empat tahun lebih berkarya di Sabu Raijua, tidak sedikit hal
yang sudah dia dan wakilnya lakukan. “Tapi juga kami tidak pungkiri bahwa masih
ada yang perlu dibenahi dan kami gunakan waktu yang ada ini untuk membenahi apa
yang belum kami selesaikan. Jika masyarakat Sabu Raijua masih memberi
kesempatan kepada kami maka kami akan memiliki waktu yang cukup dan berbuat
lebih bagi kemajuan daerah ini,” pungkasnya. (joey rihi ga)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar