Kamis, 27 Agustus 2015

Hidup Mereka Berubah dan Mandiri




Awan sedang menggantung di langit Sabu Raijua, ketika Seputar NTT sampai di sebuah hamparan luas di Desa Lobodei, Kecamatan Sabu Timur. Warga setempat baru saja pulang dari kebaktian gereja pada Minggu, 26 April 2015. Hamparan yang dulu begitu luas dan selama sekian dekade dibiarkan tidur terlelap dan tidak terurus, kini telah menghijau oleh pehononan. Pohon jenis gala-gala mendominasi. Berbagai jenis sayuran sedang berlindung dibawah rindangnya daun gala-gala, menawarkan keindahan tersendiri bagi mata yang lelah memandang tandusnya pulau para dewa.

Ketika media ini tiba, ada seorang petani yang sedang menyiangi kebun miliknya yang tidak di pagar. Sepertinya, kebun ini begitu merdeka dan tak gentar dari serangan ternak, lantaran wilayah ini dulu adalah padang pengembalaan. Nama petani ini, Stefanus Rohi Mola, warga Desa Bebae. Tanpa sungkan, dia memberi testimony, bagaimana hidupnya mengalami perubahan setelah mengolah lahan ini dengan berbagai jenis tanaman yang bisa mendatangkan uang.

Lahan tersebut berubah drastis dan sering menjadi tempat tujuan banyak orang berawal dari program Kabun Rakyat Mandiri yang digalakkan oleh Bupati Marthen Dira Tome ketika tahun pertama dia mulai memimpin Sabu Raijua. Mahia, demikian Stefanus biasa dipanggil menuturkan bagimana Marthen Dira Tome menggelontorkan dana untuk merubah lahan tidur ini menjadi lahan yang produktif. Tidak hanya dana, tapi tenaga juga ditumpahkan sang bupati di lokasi ini. Dia tak sungkan untuk membawa sendiri traktor untuk membelah tanah, atau tanam dan panen bersama masyarakat. Semua itu dilakukan untuk memberi motivasi sekaligus penyadaran terhadap masyarakat.

“Waktu itu kami pesismis karena wilayah ini sudah dibiarkan puluhan tahun tidak pernah ditanami apapun oleh masyarakat. Bahkan wilayah ini sudah menjadi padang pengembalaan sehingga semua ternak milik masyarakat baik dari Sabu Timur, Sabu Tengah bahkan Liae selalu berkeliaran ditempat ini. Namun ketika ada Perda tentang penertiban ternak dan begitu gencarnya bantuan pemerintah bagi kami para petani, kami yakin bahwa lokasi ini adalah masa depan hidup kami,” ungkap Mahia.

Dia mengakui, dari hasil pertanian lewat program kebun rakyat mandiri, dia bisa menguliahkan anak-anaknya di Kupang, sesuatu yang mustahil jika tidak ada intervensi pemerintah dalam mengubah hidupnya. Niat Marthen Dira Tome untuk membawa masyarakat Sabu Raijua untuk melihat bumi baru dan langit baru begitu nyata dalam kehidupan Mahia. Itulah kenapa dia begitu berapi-api bahkan terlampau fanatik ketika ditanya tentang figur calon pemimpin Sabu Raijua lima tahun kedepan. Baginya Marthen Dira Tome adalah figur yang tak tergantikan.

“Hanya dengan hasil buah semangka saja, saya bisa mengumpulkan uang hingga ratusan juta rupiah dan bisa kasih kuliah anak-anak di Kupang. Bukan hanya kuliah, saya juga bisa memberikan fasilitas seperti sepeda motor untuk mereka lancar dalam menempuh pendididikan. Diluar itu kami bisa hidup berkecukupan di Sabu. Kalau ada yang tanya siapa yang pantas jadi bupati di Sabu Raijua, maka tidak ada orang lain selain bapak Marthen Dira Tome,”  katanya.

Lain kisah Mahia di Lobodei, lain pula kisah Mikael Ga Djami yang biasa dipanggil Malena, warga Kelurahan Limaggu, Sabu Timur. Jika Mahia mengais rupiah didaratan, maka Malena mendulang rupiah di laut sebagai petani rumput laut. Saat ini, petani paling sukses di Limaggu adalah Malena. Tiap kali dia menimbang hasil rumput lautnya, dia bisa mendapatkan puluhan juta rupiah. Menurutnya apa yang dia rasakan saat ini, tidak terlepas dari berbagai bantuan pemerintah yang begitu memahami kesulitan mereka dari sisi permodalan dalam mengembangkan rumput laut. Tidak hanya modal, mereka juga diberi pelatihan, bahkan hingga ke luar Pulau Sabu untuk belajar bagaimana menjadi petani budidaya rumput laut yang berhasil.

“Sebelum ada intervensi pemerintah lewat bantuan berupa tali dan bibit, usaha budidaya rumput laut hanya menjadi nomer kesekian. Tapi sekarang menjadi petani rumput laut adalah pilhan utama saya dalam menghidupi keluarga dan biaya pendidikan anak-anak. Rumput laut ini kami sudah kerja dari dulu, tapi setelah ada intervensi pemerintah baru terjadi perubahan yang cukup luar biasa,” ungkap Malena.

Dengan hasil rumput laut ungkap Malena, dirinya kini bisa membangun rumah permanen yang besar bahkan lengkap dengan berbagi perlengkapan. Tidak sampai disitu, anak-anak bisa kuliah di Kupang dengan baik tanpa ragu dan takut soal biaya pendidikan.   Jika dulu dia adalah petani sawah, maka itu sudah menjadi urutan nomer dua di waktu senggang, ketika tidak turun laut. Bagi Malena, lautan kini menjadi kebun yang sanggup memberikan hasil yang lumayan jika dibandingkan ketika berkebun di daratan.

“Dulu tidak banyak orang yang memilih pekerjaan ini, namun seiring dengan adanya pembangunan pabrik rumput laut di Limaggu, maka hampir semua warga sudah berbondong-bondong turun laut. Bahkan saat ini sudah sulit untuk mendapatkan lahan atau lokasi dalam laut karena semua pesisir sudah penuh dengan rumput laut,” katanya.

Dua testimoni diatas hanya secuil dari kisah bagimana hidup masyarakat di Sabu Raijua diubahkan dan menjadi Mandiri dalam pemerintahan Marthen Dira Tome dan Nikodemus Rihi Heke. Banyak kisah bagimana masyarakat Sabu Raijua merasakan sentuhan pemerintah dalam berbagai aspek pembangunan ekonomi. Yang paling tahu tentu masyarakat Sabu Raijua sendiri yang tidak bisa diungkap secara detail lewat media ini tentang kisah maupun cerita kehidupan yang terus mengalami perubahan di Sabu Raijua. 

Inilah yang selalu digelorakan oleh Marthen Dira Tome dalam membangun Sabu lewat pendekatan amphibi. yaitu disaat laut tak bersahabat, orang akan kembali mengolah rupiah di daratan dan ketika daratan tak lagi berteman maka orang Sabu Raijua bisa kembali mengais rejeki dalam lautan nan kaya. Itulah yang dia sebutkan pendekatan amphibi. Luar biasa, seperti semboyan angakatan laut jalesveva jayamahe, jaya didarat jaya dilaut. (joey rihi ga)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar