Awan
sedang menggantung di langit Sabu Raijua, ketika Seputar NTT sampai di sebuah
hamparan luas di Desa Lobodei, Kecamatan Sabu Timur. Warga setempat baru saja
pulang dari kebaktian gereja pada Minggu, 26 April 2015. Hamparan yang dulu
begitu luas dan selama sekian dekade dibiarkan tidur terlelap dan tidak
terurus, kini telah menghijau oleh pehononan. Pohon jenis gala-gala
mendominasi. Berbagai jenis sayuran sedang berlindung dibawah rindangnya daun
gala-gala, menawarkan keindahan tersendiri bagi mata yang lelah memandang
tandusnya pulau para dewa.
Ketika media ini tiba,
ada seorang petani yang sedang menyiangi kebun miliknya yang tidak di pagar.
Sepertinya, kebun ini begitu merdeka dan tak gentar dari serangan ternak, lantaran
wilayah ini dulu adalah padang pengembalaan. Nama petani ini, Stefanus Rohi
Mola, warga Desa Bebae. Tanpa sungkan, dia memberi testimony, bagaimana
hidupnya mengalami perubahan setelah mengolah lahan ini dengan berbagai jenis
tanaman yang bisa mendatangkan uang.
Lahan tersebut berubah
drastis dan sering menjadi tempat tujuan banyak orang berawal dari program Kabun
Rakyat Mandiri yang digalakkan oleh Bupati Marthen Dira Tome ketika tahun
pertama dia mulai memimpin Sabu Raijua. Mahia, demikian Stefanus biasa
dipanggil menuturkan bagimana Marthen Dira Tome menggelontorkan dana untuk
merubah lahan tidur ini menjadi lahan yang produktif. Tidak hanya dana, tapi
tenaga juga ditumpahkan sang bupati di lokasi ini. Dia tak sungkan untuk
membawa sendiri traktor untuk membelah tanah, atau tanam dan panen bersama
masyarakat. Semua itu dilakukan untuk memberi motivasi sekaligus penyadaran
terhadap masyarakat.
“Waktu itu kami
pesismis karena wilayah ini sudah dibiarkan puluhan tahun tidak pernah ditanami
apapun oleh masyarakat. Bahkan wilayah ini sudah menjadi padang pengembalaan
sehingga semua ternak milik masyarakat baik dari Sabu Timur, Sabu Tengah bahkan
Liae selalu berkeliaran ditempat ini. Namun ketika ada Perda tentang penertiban
ternak dan begitu gencarnya bantuan pemerintah bagi kami para petani, kami
yakin bahwa lokasi ini adalah masa depan hidup kami,” ungkap Mahia.
Dia mengakui, dari
hasil pertanian lewat program kebun rakyat mandiri, dia bisa menguliahkan
anak-anaknya di Kupang, sesuatu yang mustahil jika tidak ada intervensi
pemerintah dalam mengubah hidupnya. Niat Marthen Dira Tome untuk membawa
masyarakat Sabu Raijua untuk melihat bumi baru dan langit baru begitu nyata
dalam kehidupan Mahia. Itulah kenapa dia begitu berapi-api bahkan terlampau fanatik
ketika ditanya tentang figur calon pemimpin Sabu Raijua lima tahun kedepan.
Baginya Marthen Dira Tome adalah figur yang tak tergantikan.
“Hanya dengan hasil
buah semangka saja, saya bisa mengumpulkan uang hingga ratusan juta rupiah dan
bisa kasih kuliah anak-anak di Kupang. Bukan hanya kuliah, saya juga bisa
memberikan fasilitas seperti sepeda motor untuk mereka lancar dalam menempuh
pendididikan. Diluar itu kami bisa hidup berkecukupan di Sabu. Kalau ada yang
tanya siapa yang pantas jadi bupati di Sabu Raijua, maka tidak ada orang lain
selain bapak Marthen Dira Tome,”
katanya.
Lain kisah Mahia di
Lobodei, lain pula kisah Mikael Ga Djami yang biasa dipanggil Malena, warga
Kelurahan Limaggu, Sabu Timur. Jika Mahia mengais rupiah didaratan, maka Malena
mendulang rupiah di laut sebagai petani rumput laut. Saat ini, petani paling
sukses di Limaggu adalah Malena. Tiap kali dia menimbang hasil rumput lautnya, dia
bisa mendapatkan puluhan juta rupiah. Menurutnya apa yang dia rasakan saat ini,
tidak terlepas dari berbagai bantuan pemerintah yang begitu memahami kesulitan
mereka dari sisi permodalan dalam mengembangkan rumput laut. Tidak hanya modal,
mereka juga diberi pelatihan, bahkan hingga ke luar Pulau Sabu untuk belajar
bagaimana menjadi petani budidaya rumput laut yang berhasil.
“Sebelum ada intervensi
pemerintah lewat bantuan berupa tali dan bibit, usaha budidaya rumput laut
hanya menjadi nomer kesekian. Tapi sekarang menjadi petani rumput laut adalah
pilhan utama saya dalam menghidupi keluarga dan biaya pendidikan anak-anak.
Rumput laut ini kami sudah kerja dari dulu, tapi setelah ada intervensi
pemerintah baru terjadi perubahan yang cukup luar biasa,” ungkap Malena.
Dengan hasil rumput
laut ungkap Malena, dirinya kini bisa membangun rumah permanen yang besar
bahkan lengkap dengan berbagi perlengkapan. Tidak sampai disitu, anak-anak bisa
kuliah di Kupang dengan baik tanpa ragu dan takut soal biaya pendidikan. Jika dulu dia adalah petani sawah, maka itu
sudah menjadi urutan nomer dua di waktu senggang, ketika tidak turun laut. Bagi
Malena, lautan kini menjadi kebun yang sanggup memberikan hasil yang lumayan
jika dibandingkan ketika berkebun di daratan.
“Dulu tidak banyak
orang yang memilih pekerjaan ini, namun seiring dengan adanya pembangunan
pabrik rumput laut di Limaggu, maka hampir semua warga sudah berbondong-bondong
turun laut. Bahkan saat ini sudah sulit untuk mendapatkan lahan atau lokasi dalam
laut karena semua pesisir sudah penuh dengan rumput laut,” katanya.
Dua testimoni diatas
hanya secuil dari kisah bagimana hidup masyarakat di Sabu Raijua diubahkan dan
menjadi Mandiri dalam pemerintahan Marthen Dira Tome dan Nikodemus Rihi Heke.
Banyak kisah bagimana masyarakat Sabu Raijua merasakan sentuhan pemerintah dalam
berbagai aspek pembangunan ekonomi. Yang paling tahu tentu masyarakat Sabu
Raijua sendiri yang tidak bisa diungkap secara detail lewat media ini tentang
kisah maupun cerita kehidupan yang terus mengalami perubahan di Sabu Raijua.
Inilah yang selalu digelorakan oleh
Marthen Dira Tome dalam membangun Sabu lewat pendekatan amphibi. yaitu disaat
laut tak bersahabat, orang akan kembali mengolah rupiah di daratan dan ketika
daratan tak lagi berteman maka orang Sabu Raijua bisa kembali mengais rejeki
dalam lautan nan kaya. Itulah yang dia sebutkan pendekatan amphibi. Luar biasa,
seperti semboyan angakatan laut jalesveva jayamahe, jaya didarat jaya dilaut. (joey
rihi ga)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar