![]() |
| Marthen Dita Tome di kebun milik masyarakat |
“Guru saya
namanya Yesus”. Ucapan itu keluar secara tegas, lugas dan spontan dari bibir Marthen
Dira Tome (Ma Tade), saat ditanya tentang konsep pembangunan yang dilaksanakan
di Sabu Raijua. Dia mengakui bahwa pembangunan dengan pola pendekatan aphibi
terispirasi dari ajaran Tuhan Yesus bagimana mengolah daratan maupun lautan
untuk bisa hidup.
“Saya belajar
dari seorang Tokoh Besar yang bernama Yesus. Alkitab berbicara bagaimana Yesus
mengajarkan bagimana bertani yang baik sehingga menghasilkan gandum yang baik,
demikian juga bagaimana menjadi seorang nelayan yang baik di laut. Dari situlah
maka lahirlah konsepe pemberdayaan ekonomi masyarakat dengan pola penedekatan
amphibi yakni daratan diurus, lautpun di kelola,” ujar Ma Tade saat berbincang
dikediamannya.
Memiliki
Kepribadian yang : kuat, berani ,
tegas,, jujur, berwibawa dan rendah hati, kepribadian tersebut lahir dari didikan keluarga dan pembawaannya
sebagai seorang atlit terbaik sekaligus pelatih bela diri dan dan ketua Ikatan
Pencak Silat Indonesia kota Kupang
(IPSI) sebagai seorang yang mapan dengan
kebijakan dan ajaran agama (
menjadi anggota Majelis Sinode GMIT
periode yang lalu).
Apa yang
dikatakannya secara tegas bahwa guru besarnya adalah Yesus bukan setelah dia
menjadi serang Bupati. Jauh sebelumnya dia telah melakukan apa yang orang lain
tidak mampu kerjakan. Dia memiliki kemampuan Birokrasi yang teruji, demikian
juga pengalaman pemberdayaan masyarakat yang luar biasa. Bisa jadi
karena didukung dengan latar belakang pendidikan yang sangat sesuai dengan kebutuhan
masyarakat NTT khususnya masyarakat Sabu
Raijua. Ma Tade adalah alumni
Fakultas Peternakan Undana.
Karena
kecerdasannya, Ma Tade memiliki
pengalaman dan perjalanan karier sebagai birokrat yang luar biasa, tahun 1992
menjadi PNS (pamong Belajar di SKB Ende),
Tahun 1995 menjadi pembantu pimpinan di bidang Dikmas Dinas PK Provinsi
NTT, tahun 2002 menjadi kepala seksi
pada bidang Dikmas Dinas PK Prov, tahun 2006 menjadi Kepala Bidang PLS Dinas
PPO Provinsi NTT dan tahun 2010 terpilih
menjadi Bupati pertama Sabu Raijua.
Selama
memimpin di bidang PLS Ma Tade menciptakan berbagai program pemberdayaan
masyarakat yang mencengangkan berbagai kalangan, betapa tidak bekerja di bidang
pendidikan tetapi urus petani, urus peternak, urus nelayan, urus pertukangan,
urus kursus urus program macam-macam yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat
kecil, Ma Tade menyelesaikan buta huruf di NTT sekalian mengurus kemiskinan,
panen dimana-mana tak pernah kenal musim.
Karena itu,
oleh Depdiknas program Pendidikan Luar Sekolah di NTT ditetapkan sebagai Pilot
Project atau Program Percontohan Indonesia. Ma Tade saat itu justru dilirik untuk dipindah
tugaskan di Kementerian oleh Dirjen, tetapi dengan enteng Ma Tade mengatakan
NTT butuh Ma Tade, kontroversi program yang Ma Tade buat, membuat para pejabat dari sektor lain
menjadi sangat sinis. “ Urus pendidikan atau urus pertanian, peternakan,
perikanan atau pertukangan” apa
jawabannya “ ini innovasi setiap program yang dilakukan harus bisa membawa sejahtera, Kejar Paket =
Kerja sambil Belajar ” ungkapnya.
Selama
menjadi mahasiswa aktif di dunia LSM
sebagai tenaga volentir atau tenaga sukarela termasuk tenaga volentir
pada yayasan Ie Rai pimpinan dr. F. Radja Haba, melakukan berbagai aktivitas
penyuluhan dan pendampingan terhadap petani dan nelayan rumput laut. Aktif
di Lembaga Penelitian Nataga Jaya pimpinan Drs. J.P.Radja Pono,
melakukan penelitian revolusi hijau di NTT, social marketing of vitamin A di
NTT, rencana umum tata ruang kota Seba, Olefulifaa, Ba’a, Sikumana, dan
lain-lain.
Pengalaman-pengalaman
sejak menjadi mahasiswa sampai pada Kepala Bidang PLS yang begitu gemilang
itulah yang diramu menjadi program unggulan di Kabupaten Sabu Raijua ketika
rakyat menghendaki memimpin dan Tuhan berkenan. Pengalaman yang dirasakan dan
dialami langsung oleh Ma Tade tersebut
diramu menjadi program pembangunan di Sabu Raijua yang dikemas dalam
sebuah visi besar yakni “ Menjadikan
Sabu Raijua Kabupaten Yang Inovatif Maju dan Bermartabat” lahirlah berbagai
program pemberdayaan yang melibatkan masyarakat Sabu Raijua.
Kembali
kepada apa yang dikatakan Ma Tade bahwa dia belajar dari tokoh besar bernama
Yesus, lantas apa yang dia lakukan di Sabu Raijua ketika menjadi Bupati?. Tiga
program pokok yang mereka lakukan adalah percepatan pembangunan Ekonomi
masyarakat, percepatan pembangunan pendidikan, dan percepatan pembangunan
kesehatan masyarakat dan program penunjang yaitu pembangunan infra struktur.
Pembangunan
Ekonomi dengan pendekatan amphibi melejit dengan pesat “tak bisa dilaut maka di
darat dan sebaliknya “ Laut digerakan
Darat diurus”. Pembukaan dan
pengolahan lahan pertanian baru dengan menggunakan traktor dan hand traktor
secara cuma-cuma, pembagian benih dan pupuk secara cuma-cuma, bantuan motor air
dan selang secara cuma-cuma, mendorong terjadinya usaha tani pada musim
kemarau, jagung, bawang serta horti kultura dalam rangka pemenuhan kebutuhan
pangan dan mengatasi pengangguran semusim, produksi pangan miningkat luar biasa, padi jagung, bawang merah dan
lain-lain.
Pembangunan tambak garam sekaligus pengolahan garam
Yodium tahun 2015 mencapai 121 ha, menyerap tenaga kerja ribuan org, pendirian
pabrik air kemasan dan pabrik rumput laut diwilayah Sabu Timur. Pengolahan dan
pengemasan gula lontar menjadi gula air, gula semut dan gula lempeng dalam
kemasan yang layak pasar, pengolahan minyak kayu putih. Pengembangan pakan ternak dan bantuan seribu ekor sapi
betina dan inseminasi buatan. Bantuan kambing etawah maupun ayam super harko.
Salah satu
dampak positif pemekaran wilayah di Kabupaten Sabu Raijua terlihat dari semakin
menggeliatnya aktifitas transportasi masyarakat yang didukung semakin
ditingkatkannya infrastruktur jalan di kabupaten ini. Peningkatan jumlah kendaran
dari tahun ke tahun hingga saat ini pun menjadi dampak dari adanya peningkatan
infrastruktur jalan di Sabu Raijua. Kondisi jalan ini terus dibenahi untuk
lebih mempermudah akses masyarakat antar daerah di Kabupaten Sabu Raijua dan
khususnya memperlancar aktifitas perekonomian sehingga pada akhirnya
kesejahteraan masyarakat Sabu Raijua semakin meningkat secara merata.
Selain
Infrastruktur Jalan, Infrastruktur Pelabuhan Laut dan Infrastruktur Perhubungan
Udara pun menjadi fokus pemerintah. Letak Kabupaten Sabu Raijua yang
dikelilingi oleh Laut Sabu dan Samudera Hindia menjadikan transportasi laut
sebagai modal transportasi utama bagi masyarakat dari Sabu ke kabupaten lain
dan bahkan antar kabupaten Sabu sendiri khususnya dari pulau Sabu Besar ke pulau
Raijua.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar