Kamis, 27 Agustus 2015

Ma Tade : Guru Saya Adalah Yesus


Marthen Dita Tome di kebun milik masyarakat

“Guru saya namanya Yesus”. Ucapan itu keluar secara tegas, lugas dan spontan dari bibir Marthen Dira Tome (Ma Tade), saat ditanya tentang konsep pembangunan yang dilaksanakan di Sabu Raijua. Dia mengakui bahwa pembangunan dengan pola pendekatan aphibi terispirasi dari ajaran Tuhan Yesus bagimana mengolah daratan maupun lautan untuk bisa hidup.

“Saya belajar dari seorang Tokoh Besar yang bernama Yesus. Alkitab berbicara bagaimana Yesus mengajarkan bagimana bertani yang baik sehingga menghasilkan gandum yang baik, demikian juga bagaimana menjadi seorang nelayan yang baik di laut. Dari situlah maka lahirlah konsepe pemberdayaan ekonomi masyarakat dengan pola penedekatan amphibi yakni daratan diurus, lautpun di kelola,” ujar Ma Tade saat berbincang dikediamannya.

Memiliki Kepribadian yang :  kuat, berani , tegas,, jujur, berwibawa dan rendah hati, kepribadian tersebut  lahir dari didikan keluarga dan pembawaannya sebagai seorang atlit terbaik sekaligus pelatih bela diri dan dan ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia  kota Kupang (IPSI) sebagai seorang yang mapan dengan  kebijakan dan  ajaran agama ( menjadi  anggota Majelis Sinode GMIT periode yang lalu).

Apa yang dikatakannya secara tegas bahwa guru besarnya adalah Yesus bukan setelah dia menjadi serang Bupati. Jauh sebelumnya dia telah melakukan apa yang orang lain tidak mampu kerjakan. Dia memiliki kemampuan Birokrasi yang teruji, demikian juga pengalaman pemberdayaan masyarakat yang luar biasa.  Bisa jadi  karena didukung dengan latar belakang pendidikan  yang sangat sesuai dengan kebutuhan masyarakat NTT khususnya masyarakat  Sabu Raijua. Ma Tade adalah  alumni Fakultas  Peternakan Undana. 
 
Karena kecerdasannya, Ma Tade  memiliki pengalaman dan perjalanan karier sebagai birokrat yang luar biasa, tahun 1992 menjadi PNS (pamong Belajar di SKB Ende),  Tahun 1995 menjadi pembantu pimpinan di bidang Dikmas Dinas PK Provinsi NTT, tahun 2002  menjadi kepala seksi pada bidang Dikmas Dinas PK Prov, tahun 2006 menjadi Kepala Bidang PLS Dinas PPO Provinsi NTT dan  tahun 2010 terpilih menjadi Bupati pertama Sabu Raijua. 

Selama memimpin di bidang PLS Ma Tade menciptakan berbagai program pemberdayaan masyarakat yang mencengangkan berbagai kalangan, betapa tidak bekerja di bidang pendidikan tetapi urus petani, urus peternak, urus nelayan, urus pertukangan, urus kursus urus program macam-macam yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat kecil, Ma Tade menyelesaikan buta huruf di NTT sekalian mengurus kemiskinan, panen dimana-mana tak pernah kenal musim.

Karena itu, oleh Depdiknas program Pendidikan Luar Sekolah di NTT ditetapkan sebagai Pilot Project atau Program Percontohan Indonesia. Ma Tade  saat itu justru dilirik untuk dipindah tugaskan di Kementerian oleh Dirjen, tetapi dengan enteng Ma Tade mengatakan NTT butuh Ma Tade, kontroversi program yang Ma Tade  buat, membuat para pejabat dari sektor lain menjadi sangat sinis. “ Urus pendidikan atau urus pertanian, peternakan, perikanan atau pertukangan” apa  jawabannya “ ini innovasi setiap program yang dilakukan harus  bisa membawa sejahtera, Kejar Paket = Kerja  sambil Belajar ” ungkapnya.

Selama menjadi mahasiswa aktif di dunia LSM  sebagai tenaga volentir atau tenaga sukarela termasuk tenaga volentir pada yayasan Ie Rai pimpinan dr. F. Radja Haba, melakukan berbagai aktivitas penyuluhan dan pendampingan terhadap petani dan nelayan rumput laut.  Aktif  di Lembaga Penelitian Nataga Jaya pimpinan Drs. J.P.Radja Pono, melakukan penelitian revolusi hijau di NTT, social marketing of vitamin A di NTT, rencana umum tata ruang kota Seba, Olefulifaa, Ba’a, Sikumana, dan lain-lain.

Pengalaman-pengalaman sejak menjadi mahasiswa sampai pada Kepala Bidang PLS yang begitu gemilang itulah yang diramu menjadi program unggulan di Kabupaten Sabu Raijua ketika rakyat menghendaki memimpin dan Tuhan berkenan. Pengalaman yang dirasakan dan dialami langsung oleh Ma Tade tersebut  diramu menjadi program pembangunan di Sabu Raijua yang dikemas dalam sebuah visi besar  yakni “ Menjadikan Sabu Raijua Kabupaten Yang Inovatif Maju dan Bermartabat” lahirlah berbagai program pemberdayaan yang melibatkan masyarakat Sabu Raijua.

Kembali kepada apa yang dikatakan Ma Tade bahwa dia belajar dari tokoh besar bernama Yesus, lantas apa yang dia lakukan di Sabu Raijua ketika menjadi Bupati?. Tiga program pokok yang mereka lakukan adalah percepatan pembangunan Ekonomi masyarakat, percepatan pembangunan pendidikan, dan percepatan pembangunan kesehatan masyarakat dan program penunjang yaitu pembangunan infra struktur.

Pembangunan Ekonomi dengan pendekatan amphibi melejit dengan pesat “tak bisa dilaut maka di darat dan sebaliknya “ Laut digerakan Darat diurus”.  Pembukaan dan pengolahan lahan pertanian baru dengan menggunakan traktor dan hand traktor secara cuma-cuma, pembagian benih dan pupuk secara cuma-cuma, bantuan motor air dan selang secara cuma-cuma, mendorong terjadinya usaha tani pada musim kemarau, jagung, bawang serta horti kultura dalam rangka pemenuhan kebutuhan pangan dan mengatasi pengangguran semusim, produksi pangan miningkat  luar biasa, padi jagung, bawang merah dan lain-lain.

Pembangunan  tambak garam sekaligus pengolahan garam Yodium tahun 2015 mencapai 121 ha, menyerap tenaga kerja ribuan org, pendirian pabrik air kemasan dan pabrik rumput laut diwilayah Sabu Timur. Pengolahan dan pengemasan gula lontar menjadi gula air, gula semut dan gula lempeng dalam kemasan yang layak pasar, pengolahan minyak kayu putih. Pengembangan  pakan ternak dan bantuan seribu ekor sapi betina dan inseminasi buatan. Bantuan kambing etawah maupun ayam super harko.

Salah satu dampak positif pemekaran wilayah di Kabupaten Sabu Raijua terlihat dari semakin menggeliatnya aktifitas transportasi masyarakat yang didukung semakin ditingkatkannya infrastruktur jalan di kabupaten ini. Peningkatan jumlah kendaran dari tahun ke tahun hingga saat ini pun menjadi dampak dari adanya peningkatan infrastruktur jalan di Sabu Raijua. Kondisi jalan ini terus dibenahi untuk lebih mempermudah akses masyarakat antar daerah di Kabupaten Sabu Raijua dan khususnya memperlancar aktifitas perekonomian sehingga pada akhirnya kesejahteraan masyarakat Sabu Raijua semakin meningkat secara merata.

Selain Infrastruktur Jalan, Infrastruktur Pelabuhan Laut dan Infrastruktur Perhubungan Udara pun menjadi fokus pemerintah. Letak Kabupaten Sabu Raijua yang dikelilingi oleh Laut Sabu dan Samudera Hindia menjadikan transportasi laut sebagai modal transportasi utama bagi masyarakat dari Sabu ke kabupaten lain dan bahkan antar kabupaten Sabu sendiri khususnya dari pulau Sabu Besar ke pulau Raijua.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar